Fraksi Golkar DPRD Lampung Dorong Penguatan Wawasan Kebangsaan di Gedong Tataan

GERBANGPATRIOT.COM, Pesawaran — Anggota DPRD Provinsi Lampung, Mustika Bahrum, menegaskan bahwa kegiatan Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan merupakan langkah konkret dalam memperkuat pengamalan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya saat menggelar sosialisasi di hadapan warga Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Sabtu (1/2/2026).

Menurut Mustika, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin anggota DPRD Provinsi Lampung yang dilaksanakan dua kali dalam sebulan. Namun, ia menekankan bahwa esensi utama kegiatan itu adalah mempererat silaturahmi dan membangun komunikasi langsung dengan masyarakat.

“Ini merupakan kegiatan wajib yang kami laksanakan secara rutin. Tetapi yang paling penting adalah silaturahmi dengan warga sebagai wujud merawat keberagaman sekaligus pengamalan nilai-nilai Pancasila,” ujar politisi Fraksi Golkar tersebut.

Mustika yang bergelar adat Suntan Pengayom Makhga menambahkan, budaya silaturahmi dan musyawarah sejatinya telah mengakar dalam kehidupan masyarakat, baik dalam tata kelola pemerintahan maupun tradisi adat. Meski demikian, menurutnya, nilai-nilai tersebut tetap perlu diperkuat agar Pancasila semakin tertanam dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita memang terbiasa bermusyawarah dan berkumpul. Namun perlu penguatan agar nilai Pancasila benar-benar menjadi pedoman dalam bertindak,” katanya.

Dalam kegiatan itu, panitia juga menghadirkan narasumber yang dinilai kompeten untuk mengulas secara komprehensif nilai-nilai Pancasila dan wawasan kebangsaan.

Salah satu narasumber, Risodar AH, menjelaskan bahwa setiap sila dalam Pancasila telah mengakomodasi keberagaman bangsa Indonesia, baik dari sisi agama, suku, ras, maupun budaya.

“Sebagai warga negara Indonesia, tidak ada alasan untuk ragu mengamalkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia memaparkan, Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menegaskan pentingnya sikap saling menghormati antarumat beragama tanpa adanya penghinaan atau perendahan terhadap keyakinan lain.

Pada Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, ia menekankan penghormatan terhadap hak asasi manusia, kesetaraan derajat, serta pentingnya hidup rukun di tengah keberagaman.

“Saling membutuhkan dan hidup berdampingan secara harmonis adalah kunci dalam masyarakat majemuk,” katanya.

Sementara pada Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, Risodar mengajak masyarakat memperkuat rasa nasionalisme dan menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Untuk Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, ia menegaskan bahwa setiap keputusan hendaknya diambil melalui musyawarah demi mufakat, dengan kedaulatan tetap berada di tangan rakyat.

Adapun Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menurutnya menekankan pentingnya pemerataan kesejahteraan dan kesempatan yang setara tanpa diskriminasi.

Kegiatan sosialisasi tersebut berlangsung interaktif dan mendapat respons antusias dari warga. Diharapkan, pemahaman yang diperoleh dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.(*)