Anggota DPRD Lampung Apresiasi Hilirisasi Ayam Potong untuk Tingkatkan Nilai Tambah Daerah
GERBANGPATRIOT.COM, Bandar Lampung – Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Mikdar Ilyas, mengapresiasi kebijakan hilirisasi ayam potong yang dinilai sejalan dengan potensi Lampung sebagai salah satu sentra produksi ayam nasional.
Menurut Mikdar, langkah hilirisasi menjadi strategi tepat untuk meningkatkan nilai tambah daerah. Selama ini, sebagian besar produksi ayam di Lampung masih dikirim dalam bentuk hidup ke luar daerah, terutama Pulau Jawa, karena keterbatasan fasilitas pengolahan dan Rumah Potong Ayam (RPA) modern.
“Lampung ini penghasil ayam potong yang sangat besar. Berdasarkan data tahun 2025, sekitar 15–16 juta ekor ayam hidup per tahun dikirim ke Pulau Jawa. Ini potensi luar biasa, tapi belum maksimal karena fasilitas pengolahan kita masih terbatas,” ujar Mikdar, Senin (9/2/2026).
Ia menambahkan, sejumlah perusahaan pengolah daging ayam fillet mengakui pasokan ayam di Lampung melimpah, namun kapasitas RPA modern masih terbatas sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan ayam olahan. Kondisi ini menyebabkan produksi ayam hidup tidak seimbang dengan kapasitas pengolahan.
“Kalau kondisi ini tidak ditangkap pemerintah daerah, ini kerugian besar. Pertama, kita kehilangan kesempatan menyerap tenaga kerja. Kedua, kita kehilangan nilai tambah ekonomi,” kata anggota Fraksi Gerindra DPRD Lampung tersebut.
Mikdar menghitung, dari produksi 16 juta ekor ayam per tahun pada 2025, apabila daerah memperoleh keuntungan bersih Rp3.000 per ekor, maka potensi perputaran ekonomi bisa mencapai sekitar Rp50 miliar. “Nilai tersebut belum termasuk potensi tambahan jika produksi ayam potong meningkat seiring optimalisasi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujarnya.
Ia mencontohkan, satu dapur MBG membutuhkan sekitar 300 ekor ayam potong per minggu. Dengan lebih dari 1.300 dapur MBG di Lampung, kebutuhan ayam potong mencapai ratusan ribu ekor per minggu.
“Ini peluang besar. Perusahaan memperoleh pendapatan, daerah mendapatkan PAD, dan tenaga kerja terserap. Secara ekonomi ini sangat positif,” tegas Mikdar.
Meski demikian, Mikdar menekankan pentingnya regulasi harga agar hilirisasi ayam tidak berdampak pada inflasi. Ia mengingatkan, ayam potong merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat.
“Harga harus mengikuti mekanisme pasar, tetapi tetap ada pengaturan dari dinas terkait. Jangan sampai harga melambung dan berdampak ke inflasi. Di sisi lain, peternak juga harus tetap untung,” pungkasnya.(*)

