Relawan Lintas Iman Bersihkan Kelenteng Fuk Ling Miau Jelang Imlek 2026

GERBANGPATRIOT.COM, Jogja – Puluhan relawan dari komunitas SATSET Indonesia dan Foreder memadati Kelenteng Fuk Ling Miau di Jalan Brigjen Katamso, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Kamis (12/2/2026).

‎Mereka datang bukan untuk beribadah, melainkan membawa sapu, lap, dan peralatan kebersihan.

‎Dengan sigap, mereka menyisir halaman hingga sudut-sudut bangunan kelenteng menjelang perayaan Imlek 2026.

‎Setelah membersihkan area luar, para relawan bergerak ke dalam. Mereka mengelap lantai, membersihkan altar, hingga patung-patung dewa yang menjadi simbol peribadatan.

‎Koordinator aksi, Swastika Tri Purwanto, menegaskan kegiatan itu melibatkan beragam komunitas, termasuk lintas iman.

‎“Kita menjaga toleransi. Kita melihat bahwa kondisi kelenteng masih bisa kita bersihkan bareng-bareng,” kata Swastika.

‎Menurut Swastika, menjelang Imlek menjadi momentum untuk merawat kebersamaan antar warga.

‎Ia menyebut aksi bersih-bersih itu bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi juga wujud solidaritas kemanusiaan.

‎“Ini tahun kedua kami membantu teman-teman untuk membersihkan kelenteng. Semua orang saudara dalam kemanusiaan,” ujarnya.

‎Salah seorang relawan, Andriyani, mengaku sudah dua kali terlibat dalam kegiatan serupa.

‎Sebagai seorang Muslim, ia merasa tak ada sekat untuk berbuat baik.

‎“Saya ikut membantu karena merasa sebagai saudara, sama-sama warga Jogja,” kata perempuan asal Kabupaten Bantul itu.

‎Baginya, toleransi bukan hanya slogan, melainkan tindakan nyata yang dimulai dari hal sederhana: membersihkan rumah ibadah bersama.

‎Ketua Yayasan Klenteng Fuk Ling Miau Gondomanan, Angling Wijaya—akrab disapa Ang Ping Siang—mengatakan persiapan Imlek dilakukan secara bertahap.

‎“Kami melaksanakan serangkaian kegiatan ibadah untuk menyambut Imlek 2026. Semua dipersiapkan agar umat bisa berdoa dengan khusyuk,” ujar Ang Ping Siang kepada awak media, Kamis (12/2/2026).

‎Ia menjelaskan, pengurus klenteng bersama masyarakat lintas agama turut bergotong royong membersihkan area rumah ibadah dan patung-patung suci.

‎Dari ratusan duplikat patung yang tersimpan, hanya 23 dewa dan dewi yang dihadirkan di altar utama.

‎“Pembersihan menggunakan air suci yang dicampur bunga mawar. Ini simbol penyucian lahir dan batin,” katanya.

‎Selain dimandikan, busana patung dewa dan dewi juga diganti dengan kain baru. Ang Ping Siang menyebut kain lama tidak dibuang begitu saja.

(waw)