Dilema Batik Oey Soe Tjoen: Menjaga Kualitas atau Menghadapi Risiko Berhenti

GERBANGPATRIOT.COM, Pekalongan — Diskusi bedah buku “Oey Soe Tjoen: Sejarah Batik Tulis Legendaris Kabupaten Pekalongan” yang digelar oleh Kulturpedia tidak hanya membahas perjalanan sejarah batik legendaris tersebut, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang masa depan batik tulis di tengah perubahan zaman.

Acara yang berlangsung di Saji Space, Kedungwuni, Minggu 29 Maret 2026 menghadirkan penulis buku Nanang Rendi Ahmad, Widianti Widjaya dari keluarga Oey Soe Tjoen, serta Dirhamzah sebagai pegiat sejarah Pekalongan. Perspektif generasi muda turut dihadirkan melalui Andika Nugraha sebagai panelis.

Sejak awal diskusi, satu hal yang mengemuka adalah bagaimana batik Oey Soe Tjoen mampu bertahan lebih dari satu abad. Didirikan sejak 1925, batik ini tetap menjaga proses tradisional dan kualitas tinggi di tengah gempuran industri batik modern.

Namun di balik ketahanan tersebut, muncul satu kenyataan yang tidak sederhana.

Kualitas yang Tak Bisa Ditawar
Widianti Widjaya secara terbuka menyampaikan bahwa menjaga kualitas adalah prinsip yang tidak bisa dikompromikan. Bahkan, ia menegaskan bahwa keberlanjutan usaha tidak boleh mengorbankan standar yang telah dibangun selama puluhan tahun.

“Kalau kualitasnya jelek, lebih baik dimatikan saja,” ujarnya.

Pernyataan ini menjadi salah satu momen paling kuat dalam diskusi. Bagi Widianti, batik Oey Soe Tjoen bukan sekadar usaha, melainkan warisan nilai yang tidak bisa dijaga setengah hati.

Ia juga mengungkapkan bahwa pernah ada tawaran untuk membeli merek Oey Soe Tjoen. Namun tawaran tersebut ditolak karena ia meyakini bahwa warisan ini tidak bisa begitu saja diserahkan kepada pihak lain.

Dirhamzah menambahkan bahwa batik Oey Soe Tjoen berada pada kelas premium. Jika dikonversi, nilainya bahkan bisa setara dengan harga satu unit motor Honda PCX baru. Hal ini menunjukkan bahwa batik tersebut tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi yang bergantung pada kualitasnya.

Regenerasi yang Belum Terjawab
Di sisi lain, tantangan terbesar justru terletak pada regenerasi. Hingga saat ini, belum ada generasi keempat yang benar-benar siap melanjutkan usaha tersebut.

Widianti mengakui bahwa dirinya tidak ingin memaksakan anak-anaknya untuk terjun ke dunia batik. Ia berharap pemahaman akan nilai, filosofi, dan proses batik dapat tumbuh secara alami sebelum muncul keputusan untuk melanjutkan.

Kondisi ini mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam industri batik tulis, di mana minat generasi muda belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan pelestarian tradisi.

Catatan dari Peserta Diskusi
Diskusi ini juga membuka ruang bagi peserta untuk menyampaikan pandangan. Salah satunya datang dari Yoga Rifai Hamzah, yang melihat bahwa selama ini pembahasan tentang batik lebih banyak menyoroti ketahanan, tetapi belum cukup membahas keberlanjutan.

Ia menilai bahwa batik tidak hanya perlu dijaga, tetapi juga perlu disiapkan untuk hidup di masa depan.

“Kita sering bicara bagaimana batik bertahan, tapi belum cukup serius memikirkan bagaimana batik bisa tetap hidup ke depan,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan zaman menuntut cara baru dalam melihat batik, termasuk sebagai sistem pengetahuan yang dapat didokumentasikan dan dikembangkan melalui teknologi digital.

Ia juga menyoroti pentingnya peran para pembatik yang selama ini menjadi aktor utama, tetapi sering kali tidak mendapatkan ruang dalam narasi besar tentang batik.

Perspektif Muda dan Penguatan Sejarah
Andika Nugraha sebagai panelis dari kalangan muda menekankan pentingnya menghadirkan perspektif generasi keempat dalam buku tersebut. Ia menilai hal itu akan membuat narasi menjadi lebih relevan dengan masa depan.

Sementara itu, Dirhamzah mengusulkan perluasan sumber rujukan serta pencocokan dengan kronik sejarah yang lebih luas. Menurutnya, masih terdapat banyak potongan sejarah yang dapat memperkaya isi buku.

Batik: Antara Bertahan dan Hidup
Diskusi ini pada akhirnya mengarah pada satu kesimpulan reflektif: tantangan batik hari ini bukan hanya bertahan, tetapi tetap hidup.

Pelestarian tidak cukup hanya menjaga bentuk dan tradisi, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan bagi para pelaku di dalamnya, termasuk pembatik.

Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, batik juga dihadapkan pada kebutuhan untuk beradaptasi. Digitalisasi dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mendokumentasikan pengetahuan, memperluas akses, sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Namun demikian, semua itu tetap kembali pada satu hal yang sejak awal menjadi fondasi: kualitas.

Karena tanpa kualitas, batik mungkin masih ada. Tapi belum tentu hidup. (*)