Konflik Bupati–Wakil Bupati Lebak Tuai Kritik, Akademisi Soroti Kedewasaan Politik
GERBANGPATRIOT.COM, Lebak – Konflik antara Bupati dan Wakil Bupati Lebak menuai kritik luas dari publik, terutama di media sosial. Sejumlah kalangan menilai perselisihan tersebut tidak seharusnya terjadi di ruang terbuka karena dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan daerah.
Alumni Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) angkatan 2004, Dewi Wahyuni, SH, yang juga dikenal sebagai aktivis perempuan dan advokat, turut angkat bicara. Saat ini, ia tengah menempuh semester akhir program Magister Hukum di Universitas Pamulang (Unpam).
Menurut Dewi, konflik antara kepala daerah dan wakilnya seharusnya bisa dihindari. “Jika pun terjadi, keduanya harus tetap bersinergi serta menunjukkan kematangan dalam berpikir dan berpolitik,” ujarnya kepada wartawan Kamis, (2/4/2026).
Ia menambahkan, dalam praktik pemerintahan, tidak sedikit pasangan kepala daerah yang berasal dari partai politik berbeda namun tetap mampu bekerja sama dengan baik.
“Kalaupun ada persoalan, tidak perlu diumbar ke publik. Bisa diselesaikan secara internal dengan saling menjaga,” katanya.
Dewi juga menyoroti sosok Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya yang merupakan politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan pernah menjabat sebagai anggota DPR RI selama dua periode. Ia menilai latar belakang tersebut seharusnya menjadi bekal kuat dalam menjalankan kepemimpinan yang matang.
“Sebagai kader partai, tentu sudah melalui proses pendidikan politik dan organisasi. Jika kemudian terjadi konflik seperti ini, berarti ada persoalan pada individu yang perlu melakukan revolusi moral,” tegasnya.
Ia menjelaskan, revolusi moral yang dimaksud adalah kesadaran diri untuk mengakui kesalahan tanpa harus menunggu nasihat dari orang lain. “Bukan soal ego atau kesombongan, tetapi bagaimana menyadari dan memperbaiki diri,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dewi menyinggung latar belakang keluarga Hasbi sebagai putra dari Mulyadi Jayabaya, tokoh politik senior yang dikenal berproses dari bawah hingga mencapai posisi strategis di partai. Menurutnya, perjalanan tersebut sarat dengan perjuangan dan dinamika politik.
“Figur orang tua beliau telah melalui proses panjang, penuh tantangan, dan memiliki mental yang kuat dalam menjaga arus perjuangan. Hal itu seharusnya menjadi pelajaran berharga,” tandasnya.
Dewi juga menilai bahwa konflik yang terjadi sebenarnya tergolong persoalan sederhana yang bisa segera diselesaikan. Namun, di era media sosial saat ini, informasi dengan cepat menyebar dan membentuk opini publik.
“Alangkah baiknya kedua pihak segera melakukan klarifikasi melalui jumpa pers, menunjukkan rekonsiliasi, bahkan saling memaafkan secara terbuka agar kepercayaan publik kembali pulih,” pungkasnya.
(Yuyi Rohmatunisa)

