Krisis Energi Global Ancam Indonesia, Bhenu Artha: Ini Bukan Sekadar Isu Ekonomi

Kamis, 2 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎GERBANGPATRIOT.COM, Sleman – Krisis energi global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran serius terhadap ketahanan energi nasional.
‎
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Dr. Bhenu Artha, menegaskan bahwa persoalan energi tidak bisa lagi dilihat semata dari sisi ekonomi.
‎
“Ketahanan energi harus dipandang sebagai isu kemanusiaan, bukan sekadar angka statistik,” ujarnya.
‎
Bhenu menjelaskan, potensi gangguan pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga melampaui US$150 per barel.
‎
Dampaknya, kata dia, akan langsung dirasakan masyarakat.
‎
“Kenaikan harga energi akan berimbas pada harga kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng, sehingga daya beli masyarakat makin tertekan,” ungkapnya.
‎
Ia juga menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dari Timur Tengah.
‎
“Sekitar 70 persen bahan baku energi kita masih bergantung dari kawasan tersebut, sehingga sangat rentan terganggu jika konflik meningkat,” jelas Bhenu.
‎
Ia menambahkan, jalur distribusi yang sama juga dilalui 24 persen amonia dunia.
‎
“Jika terganggu, biaya pupuk naik dan harga pangan ikut terdorong,” katanya.
‎
Dalam aspek kebijakan, Bhenu menilai distribusi subsidi energi masih belum tepat sasaran.
‎
“Lebih dari 90 persen subsidi BBM justru dinikmati pemilik kendaraan pribadi, sementara angkutan umum kurang dari 5 persen,” tegasnya.
‎
Ia mendorong reformasi subsidi berbasis data digital.
‎
“Subsidi harus diarahkan kepada nelayan, UMKM, dan masyarakat berpenghasilan rendah agar lebih adil,” tambahnya.
‎
Bhenu juga menekankan pentingnya percepatan transisi energi terbarukan dan efisiensi energi nasional.
‎
“Ketergantungan pada energi fosil membuat kedaulatan energi kita rapuh,” katanya.
‎
Ia menyarankan langkah jangka pendek seperti WFH dan penguatan transportasi umum.
‎
“Ketahanan energi sejati adalah ketika masyarakat tidak lagi khawatir terhadap kebutuhan dasar akibat gejolak global,” pungkasnya. (Andriyani)

Berita Terkait

Prabatar Digelar, Panglima TNI Tekankan Soliditas TNI-Polri Sejak Dini
Lima Lurah PAW Dilantik, Harda Minta Hapus Kubu
WJNC 2026 Genap Satu Dekade, Masuk 10 Top KEN dan Meriahkan Malioboro
Gelaran Nuswantoro Semarakkan Yogyakarta dengan Ragam Budaya Nusantara
Harda Gerakkan PUPKP Sleman Antisipasi Ancaman Banjir Musim Hujan
Aset UMKM Terancam Lelang, Komunitas Desak BRI Buka Solusi Keadilan
Teater Boneka Prancis Memukau Yogyakarta, Angkat Kisah Persahabatan Antarbudaya
Rektor UWM Tantang 176 Wisudawan Kuasai Teknologi dan Berani Berinovasi

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:56 WIB

Prabatar Digelar, Panglima TNI Tekankan Soliditas TNI-Polri Sejak Dini

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Lima Lurah PAW Dilantik, Harda Minta Hapus Kubu

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:02 WIB

WJNC 2026 Genap Satu Dekade, Masuk 10 Top KEN dan Meriahkan Malioboro

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Harda Gerakkan PUPKP Sleman Antisipasi Ancaman Banjir Musim Hujan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:28 WIB

Aset UMKM Terancam Lelang, Komunitas Desak BRI Buka Solusi Keadilan

Berita Terbaru

Yogyakarta

Lima Lurah PAW Dilantik, Harda Minta Hapus Kubu

Kamis, 8 Okt 2026 - 16:26 WIB