Monumen Husein Sastranegara Diresmikan, Pemkot Yogyakarta Perkuat Edukasi Sejarah
GERBANGPATRIOT.COM, YOGYAKARTA — Peresmian Monumen Komodor Muda Udara (Anumerta) Husein Sastranegara di kawasan Gowongan Lor, Selasa (7/4/2026), menjadi momentum penguatan komitmen pemerintah daerah dalam membangun kesadaran sejarah dan nilai kebangsaan di ruang publik.
Monumen tersebut diresmikan oleh Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU), Donald Kasenda, serta dihadiri Wakil Gubernur DIY Paku Alam X dan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. Pembangunan monumen dilakukan oleh TNI Angkatan Udara di lokasi jatuhnya pesawat yang mengalami kecelakaan saat uji terbang pada 1946.
Secara politik kebijakan, Pemerintah Kota Yogyakarta menempatkan keberadaan monumen ini tidak hanya sebagai simbol penghormatan, tetapi juga sebagai instrumen edukasi publik yang strategis. Hasto Wardoyo menegaskan, sejak awal Pemkot telah berkoordinasi dengan AAU dan Pemerintah Daerah DIY untuk mendukung penuh pembangunan monumen, terutama dalam penyiapan lokasi di kompleks Panti Asuhan Anak Terlantar Wiloso Projo.
“Maka kami mendukung penuh pembangunan ini karena Husein Sastranegara adalah sosok pahlawan dengan pengorbanan luar biasa. Ini bisa menjadi material teaching atau materi pembelajaran bagi generasi muda,” ujar Hasto.
Menurutnya, keberadaan monumen di ruang publik menjadi bagian dari pendekatan pemerintah daerah dalam menghadirkan nilai-nilai sejarah secara kontekstual, khususnya bagi generasi muda dan komunitas pendidikan.
Sementara itu, Gubernur AAU Donald Kasenda menegaskan bahwa pembangunan monumen ini merupakan bagian dari upaya institusi TNI AU dalam menjaga memori kolektif bangsa terhadap jasa para pahlawan, sekaligus menanamkan nilai-nilai dasar keprajuritan.
“Tujuannya bukan sekadar sebagai fisik monumen saja. Tetapi ada nilai-nilai yang bisa diambil, seperti loyalitas, keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air,” jelasnya.
Secara historis, Husein Sastranegara gugur pada 26 September 1946 saat melaksanakan uji terbang pesawat Cukiu peninggalan Jepang yang direncanakan digunakan untuk mendukung mobilitas Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Pesawat tersebut mengalami kecelakaan di Gowongan Lor, menewaskan Husein bersama teknisi udara Rukidi.
Wakil Gubernur DIY Paku Alam X menilai, pembangunan monumen ini merupakan bentuk konkret penghormatan atas dedikasi para pejuang di masa awal kemerdekaan. Ia menekankan pentingnya menjadikan monumen sebagai ruang refleksi sekaligus inspirasi bagi masyarakat.
“Monumen ini diharapkan menjadi pengingat bagi generasi saat ini dan yang akan datang tentang pentingnya nilai perjuangan, pengorbanan, dan cinta tanah air,” ujarnya.
Dari sisi relasi kelembagaan, kolaborasi antara TNI AU, AAU, Pemda DIY, dan Pemkot Yogyakarta dalam pembangunan monumen ini mencerminkan sinergi antarlevel pemerintahan dan institusi negara dalam penguatan identitas nasional melalui ruang publik.
Perwakilan keluarga, Reza Ranesa Sastranegara yang juga Komandan Lanud Abdulrachman Saleh, menyampaikan apresiasi atas terwujudnya monumen tersebut. Ia menilai monumen ini tidak hanya menjadi simbol penghormatan, tetapi juga representasi nilai kejuangan dan patriotisme yang relevan untuk terus diwariskan.
“Monumen ini memiliki makna penting sebagai simbol keteladanan, nilai-nilai kejuangan, patriotisme, serta semangat rela berkorban,” ungkapnya.
Selain peresmian monumen, kegiatan juga dirangkai dengan penyerahan bantuan sosial dalam rangka peringatan HUT ke-80 TNI AU kepada pengurus dan anak panti serta warga sekitar.
Melalui pembangunan monumen ini, pemerintah daerah menegaskan peran ruang publik tidak hanya sebagai infrastruktur fisik, tetapi juga sebagai medium strategis dalam membangun narasi kebangsaan dan memperkuat karakter masyarakat berbasis nilai sejarah. (Aga)

