Pemkot Yogyakarta Tegaskan WJNC 2026 sebagai Media Edukasi Lingkungan

GERBANGPATRIOT.COM, YOGYAKARTA — Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan arah kebijakan penyelenggaraan Wayang Jogja Night Carnival 2026 (WJNC) sebagai lebih dari sekadar agenda hiburan. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan bahwa karnaval budaya tahunan tersebut harus mampu menjadi instrumen edukasi publik, khususnya dalam isu lingkungan dan pengelolaan sampah.

Menurut Hasto, WJNC memiliki kekuatan strategis melalui medium wayang yang sarat nilai filosofis. Ia mendorong agar penyelenggaraan tidak hanya berfokus pada aspek visual, tetapi juga menghadirkan pesan yang mampu membentuk kesadaran kolektif masyarakat.

“Wayang itu bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan dan tatanan. Kalau hanya menghadirkan penonton tanpa ada hikmah, maka kita baru berhasil di aspek tontonan saja,” tegasnya.

Dalam perspektif kebijakan, Hasto menilai pentingnya memasukkan isu lingkungan ke dalam narasi pertunjukan secara konkret. Ia berharap pesan mengenai kebersihan, keteraturan kota, dan pengelolaan sampah dapat diterjemahkan secara kontekstual sehingga relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Harapannya, setelah menyaksikan, masyarakat tidak hanya terhibur, tapi juga sadar pentingnya pengelolaan sampah, kebersihan, dan keteraturan,” ujarnya.

Selain itu, Hasto juga menyoroti tantangan transformasi budaya di tengah perubahan zaman. Ia meminta para kreator mampu mengemas nilai-nilai pewayangan agar tetap relevan bagi generasi muda tanpa kehilangan substansi budaya.

“PR besarnya bagaimana nilai-nilai budaya ini bisa diterjemahkan dan diadopsi oleh generasi sekarang. Jangan sampai terputus,” katanya.

Lebih jauh, ia mengaitkan WJNC dengan visi pembangunan Kota Yogyakarta yang tertib, bersih, dan berkelanjutan. Dalam kerangka tersebut, WJNC diposisikan sebagai bagian dari strategi pemerintah daerah untuk membangun budaya baru berbasis kesadaran lingkungan.

“Kalau orang selesai menonton lalu punya kesadaran untuk hidup lebih tertib dan menjaga lingkungan, di situlah WJNC berhasil sebagai tuntunan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, menjelaskan bahwa penyelenggaraan WJNC tahun ini mengusung pendekatan berbeda melalui konsep “WJNC Fest” yang berlangsung selama sepekan.

Ia menyebut kebijakan tersebut bertujuan untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Dengan konsep sepekan, wisatawan tidak hanya datang saat puncak acara, tapi bisa tinggal lebih lama. Dampaknya tidak hanya ke sektor pariwisata, tapi juga ke UMKM dan pelaku usaha lokal,” jelasnya.

Lucia menambahkan, pelaksanaan WJNC Fest melibatkan lintas organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk sektor perdagangan, perindustrian, koperasi, dan UMKM. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi sekaligus memperkuat posisi WJNC sebagai agenda strategis daerah.

“Kolaborasi ini diharapkan bisa menggerakkan ekonomi secara menyeluruh, sekaligus memperkuat posisi WJNC sebagai event yang tidak hanya budaya, tetapi juga berdampak ekonomi,” pungkasnya. (Aga)