Festival Langencarita 2026 Jadi Media Edukasi Budaya dan Kesadaran Lingkungan
GERBANGPATRIOT.COM, YOGYAKARTA — Festival Langencarita 2026 yang digelar di Grha Budaya Embung Giwangan, Kamis (9/4), tidak hanya menjadi ajang seni tradisional, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang penyampaian pesan kebijakan, khususnya terkait kepedulian lingkungan dan penguatan identitas budaya lokal.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menilai kegiatan ini mencerminkan keberhasilan pendekatan pemerintah dalam mengintegrasikan seni, pendidikan, dan isu strategis daerah.
“Pesertanya sangat menguasai gerakan-gerakannya dengan lincah dan kompak. Gamelannya juga bisa sinkronisasi antara gerakan dan iringan dengan sangat bagus,” ujar Wawan.
Menurutnya, tingginya partisipasi peserta dari 14 kemantren serta dukungan orang tua menunjukkan adanya kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya sejak usia dini. Hal ini dinilai sejalan dengan agenda pemerintah daerah dalam membangun sumber daya manusia berbasis karakter dan kearifan lokal.
Lebih jauh, Wawan menegaskan bahwa Festival Langencarita memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari strategi city branding Kota Yogyakarta. Ia menilai pendekatan tematik yang diangkat, seperti isu lingkungan, menjadi langkah adaptif dalam menjawab tantangan zaman.
“Cerita yang ditampilkan memiliki filosofi, terutama terkait lingkungan seperti sungai dan kondisi sekitar. Ini menunjukkan bahwa inovasi dalam langencarita bisa disesuaikan dengan kondisi zaman,” jelasnya.
Dari sisi kebijakan, festival ini juga dipandang sebagai instrumen soft power pemerintah dalam membangun kesadaran publik. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyebut bahwa Langencarita bukan sekadar pertunjukan, melainkan sarana pendidikan karakter yang terstruktur.
“Festival ini bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan yang mengandung nilai pendidikan karakter, keluhuran budi, serta semangat kebinekaan yang relevan bagi generasi muda,” ujarnya.
Tema cinta alam dan kesadaran lingkungan yang diusung tahun ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menginternalisasi isu pengelolaan lingkungan kepada generasi muda melalui pendekatan budaya.
Salah satu pertunjukan yang menyita perhatian publik adalah karya berjudul “Upoto” dari Kemantren Pakualaman dan Mergangsan. Pertunjukan ini mengangkat persoalan sampah di bantaran sungai sebagai kritik sosial terhadap perilaku masyarakat.
Sutradara pertunjukan, Yuning Rosanti, menjelaskan bahwa cerita tersebut menghadirkan simbol “ratu sampah” sebagai representasi dampak dari kelalaian manusia terhadap lingkungan.
“Upoto menceritakan kondisi sungai yang dipenuhi sampah, sehingga air sebagai sumber kehidupan kalah oleh sampah,” ungkapnya.
Secara politik pembangunan, Festival Langencarita memperlihatkan arah kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta yang tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan nilai budaya dan kesadaran lingkungan melalui pendekatan partisipatif.
Kegiatan semacam ini dinilai strategis untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem kebijakan kebudayaan yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota berbasis budaya dengan daya saing nasional maupun global. (Aga)

