Pembinaan Kafilah Serang, KH Adli Azhari Nasution Tekankan Pentingnya Latihan Berkelanjutan

GERBANGPATRIOT.COM, Serang – Juara Qori Internasional di Makkah tahun 1983 sekaligus pembina, KH Adli Azhari Nasution, mengapresiasi kegiatan pembinaan kafilah Kabupaten Serang yang digelar di Kantor Kecamatan Ciruas, Sabtu (11/4/2026).

KH Adli menyebut kegiatan sebagai langkah terobosan yang patut diapresiasi. Ia mengaku telah berpengalaman sebagai pelatih sejak 1984 dan menilai pembinaan tilawah Al-Qur’an secara intensif kini sudah jarang dilakukan di berbagai daerah.

“Ini terobosan baru. Saya sudah melanglang buana menjadi pelatih sejak 1984, dan saat ini pembinaan seperti ini sudah jarang dilakukan. Kalaupun ada, hanya di beberapa tempat saja. Di sini luar biasa karena ulama dan umaro terjun langsung,” ujarnya kepada wartawan.

Menurutnya, pembinaan qori dan qoriah harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan agar menghasilkan generasi yang berkualitas. Ia optimistis, dengan komitmen tersebut, Kabupaten Serang dapat melahirkan qori-qori unggulan.

KH Adli juga menegaskan bahwa Provinsi Banten selama ini dikenal sebagai gudangnya ulama Al-Qur’an dengan karakter suara qori yang khas dan kuat. Namun demikian, ia menyoroti masih adanya kelemahan pada aspek seni lagu atau variasi dalam tilawah.

“Banten ini luar biasa, dikenal dengan qori-qori bersuara petir. Hanya saja, yang masih perlu ditingkatkan adalah pada seni lagu dan variasinya,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan beberapa aspek penting dalam penilaian seorang qori, di antaranya tajwid atau ketepatan bacaan, kualitas suara, teknik pernapasan (trilling), variasi lagu, serta fasohah dan adab.

“Walaupun bacaannya bagus, kalau tidak memiliki variasi lagu, itu menjadi kekurangan. Selain itu, fasohah dan adab juga menjadi bagian penting dalam penilaian,” jelasnya.

Ia juga membedakan antara qori panggung dengan qori yang berkompetisi di ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Menurutnya, keberhasilan di panggung belum tentu sejalan dengan keberhasilan dalam MTQ.

“Qori panggung itu tidak dinilai seperti di MTQ. Bisa saja berhasil di panggung, tetapi belum tentu berhasil di MTQ karena standar penilaiannya berbeda,” tandasnya.

( Yuyi Rohmatunisa)