GERBANGPATRIOT.COM, Sleman – Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta memperkuat kelembagaan melalui transformasi human capital untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi menghadapi perubahan global dan disrupsi digital.
Langkah strategis tersebut mengemuka dalam kegiatan Penguatan Kelembagaan bertema “Transformasi Human Capital dalam Meningkatkan Daya Saing Perguruan Tinggi” di Ruang Sidang Lantai Satu Kampus Terpadu UWM.
Kegiatan itu menghadirkan Prof. Christantius Dwiatmadja, S.E., M.E., Ph.D., sebagai narasumber untuk membahas strategi pengembangan sumber daya manusia.
Prof. Christantius menegaskan, keunggulan perguruan tinggi tidak lagi semata-mata ditentukan fasilitas fisik maupun modal finansial, melainkan kualitas serta produktivitas sumber daya manusianya.
“Perguruan tinggi tidak lagi bersaing hanya melalui program studi, tetapi melalui kemampuan institusinya beradaptasi lebih cepat daripada perubahan,” ujar Prof. Christantius.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kesiapan institusi pendidikan tinggi dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis yang berlangsung semakin cepat, kompleks, dan kompetitif.
Menurut Prof. Christantius, perguruan tinggi menghadapi sedikitnya enam perubahan simultan yang menuntut penyesuaian strategi kelembagaan, kepemimpinan, serta pengelolaan sumber daya manusia.
Perubahan tersebut meliputi pergeseran demografi, disrupsi digital dan kecerdasan buatan, perubahan kebutuhan keterampilan, persaingan reputasi, keberlanjutan finansial, serta regulasi dan penjaminan mutu.
Kondisi itu membuat perguruan tinggi perlu mengevaluasi pendekatan pengelolaan tenaga kerja agar tetap relevan dengan kebutuhan pendidikan tinggi pada masa mendatang.
Prof. Christantius menekankan, pengelolaan sumber daya manusia harus bergeser dari pendekatan administratif dan senioritas menuju sistem yang mengutamakan kinerja, kompetensi, serta kontribusi strategis.
Transformasi tersebut menempatkan kualitas individu sebagai faktor penting dalam membangun institusi pendidikan tinggi yang adaptif, produktif, profesional, dan berdaya saing.
Perguruan tinggi juga perlu mengembangkan talent management secara terarah untuk memastikan potensi dosen maupun tenaga kependidikan dapat mendukung pencapaian tujuan institusi.
Selain itu, pengukuran kinerja berbasis Tridharma Perguruan Tinggi menjadi instrumen penting untuk menilai kontribusi akademik secara lebih terukur, transparan, dan berkelanjutan.
Pemanfaatan analitik sumber daya manusia turut diperlukan agar pengambilan keputusan kelembagaan semakin berbasis data, sekaligus mendukung efektivitas pengembangan kompetensi dan produktivitas pegawai.
Dalam menghadapi disrupsi digital, kepemimpinan digital juga menjadi kebutuhan strategis agar perguruan tinggi mampu merespons perubahan teknologi dan tuntutan masyarakat secara cepat.
Prof. Christantius turut menyoroti pentingnya regenerasi dosen melalui pengembangan dosen muda, mentoring, talent pipeline, serta leadership pipeline untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan akademik.
“Pengembangan dosen muda perlu menjadi perhatian,” menjadi pesan penting dalam upaya membangun keberlanjutan kualitas akademik sekaligus menyiapkan calon pemimpin perguruan tinggi masa depan.
Melalui mentoring dan jalur pengembangan kepemimpinan, perguruan tinggi diharapkan mampu menyiapkan talenta potensial yang memiliki kompetensi, integritas, serta kemampuan menghadapi tantangan institusi.
Bagi UWM Yogyakarta, penguatan kelembagaan tersebut menjadi bagian dari komitmen meningkatkan tata kelola, memperkuat mutu Tridharma, serta membangun budaya kerja profesional.
UWM menegaskan pentingnya budaya kerja yang adaptif, berintegritas, dan berorientasi mutu sebagai fondasi transformasi human capital untuk memperkuat daya saing perguruan tinggi.(ady)















