Bangsa yang Lupa Diri, Kritik Liem Oi Ping atas Mentalitas dan Arah Banten
GERBANGPATRIOT.COM, Kota Serang – Seuseupuh Tionghoa dan pengamat sosial, Liem Oi Ping atau yang akrab disapa Bak Iping, menyampaikan pandangan kritis terhadap kondisi bangsa saat ini. Ia menyoroti berbagai aspek mulai dari rendahnya literasi, pengelolaan sumber daya alam yang buruk, hingga budaya menyalahkan pemerintah tanpa introspeksi diri.
Bak Iping menyayangkan menurunnya kebiasaan membaca dan berdiskusi yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini, menurutnya, masyarakat lebih mudah teralihkan oleh digitalisasi yang tidak selalu memperkaya wawasan.
“Dulu pagi-pagi orang baca koran sebelum kerja, sekarang baca judul berita saja sudah merasa tahu. Diskusi kritis hilang, yang tumbuh hanya opini dangkal,” katanya kepada wartawan Selasa, (9/9/2025).
Ia juga mengungkapkan kegelisahannya terhadap pengelolaan lahan yang menurutnya menjadi simbol dari potensi bangsa yang tidak dimanfaatkan. Dari total 200 juta hektare lahan yang dimiliki Indonesia, hanya sekitar 50 juta yang digunakan untuk pemukiman. Sisanya, menurutnya, justru dikuasai oleh semak belukar dan hutan yang tidak dikelola.
“Kalau hutan saja bisa dikuasai babi hutan, kenapa rakyat kita tidak bisa menggarapnya? Banyak sawah terbengkalai, lahan tidur, dan masyarakat tidak mau bekerja karena hasilnya lama,” ujarnya.
Agama, Usaha, dan Realitas
Bak Iping menyoroti pula pemahaman agama yang tidak dibarengi dengan usaha nyata. Ia mengkritik masyarakat yang terlalu berharap pada keajaiban tanpa tindakan konkret.
“Tuhan itu Maha Kuasa, tapi Tuhan juga memerintahkan kita bekerja. Jangan berdoa alang-alang jadi padi. Itu bukan iman, itu ilusi,” tegasnya.
Ia memberikan analogi sederhana, tiga pemuda diberi tanah, tapi hanya satu yang benar-benar menggarap. Yang lain menunggu bantuan atau sekadar berdoa. Menurutnya, pola pikir seperti itu harus diubah jika Indonesia ingin maju.
Ekonomi dan Beban Sosial
Dalam pandangan Bak Iping, ketimpangan ekonomi juga tidak lepas dari cara pandang masyarakat terhadap kekayaan. Banyak orang mengasihani yang miskin, namun tak peduli pada beban yang ditanggung para pengusaha.
“Orang miskin makan untuk empat orang, orang kaya bisa menghidupi ribuan. Tapi siapa yang peduli ketika mereka kesulitan bayar pajak, gaji karyawan, dan utang bank?” ungkapnya.
Ia juga menyoroti sistem yang korup, mulai dari pungutan liar dalam rekrutmen PNS hingga pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Menurutnya, sistem rusak bukan hanya karena pemimpinnya, tapi karena rakyat juga ikut bermain dalam lingkaran itu.
“Rakyat nyogok, pejabat menerima, polisi diam. Itu racun kita bersama. Jangan hanya salahkan pemerintah. Kita juga bagian dari kerusakan itu,” katanya.
Kepemimpinan dan Jalan Menuju Perbaikan
Bak Iping menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak datang begitu saja. Menurutnya, siapa pun yang memimpin hari ini adalah bagian dari takdir Tuhan. Ia menyesalkan budaya mencaci pemimpin, bahkan setelah masa jabatan mereka berakhir.
“Siapa pun presidennya, itu kehendak Tuhan. Kalau kita membenci, artinya kita tidak percaya pada rencana Tuhan. Bung Karno saja selalu minta difoto sedang beraksi, bukan diam. Karena pemimpin harus terlihat hidup,” ujarnya.
Ia menyebut Presiden Jokowi sebagai contoh pemimpin yang mampu “berselancar di tengah ombak besar”, namun menekankan bahwa seorang pemimpin tak bisa bekerja sendiri. Seluruh rakyat harus turut berperan aktif dalam perubahan.
“Bangsa ini terlalu luas untuk diurus satu orang. Kita butuh semua orang terlibat. Negara ini butuh hati nurani, bukan hanya sistem. Politik pun butuh seni,” kata Bak Iping.
Menutup pandangannya, ia menyampaikan pesan penting, bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, melainkan oleh seluruh rakyat Indonesia.
“Kalau kita ingin maju, kita harus koreksi diri. Bukan hanya ganti pemimpin, tapi ubah mental dan budaya kita,” tutupnya.
( Yuyi Rohmatunisa)

