Seperempat Abad Mengabdi, Ratih Herningtyas Menapaki Proses Bertumbuh di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
GERBANGPATRIOT.COM, Yogyakarta – Dalam waktu yang panjang, kampus kerap menjadi saksi sunyi perjalanan seorang akademisi. Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), kisah itu menjelma dalam jejak langkah Ratih Herningtyas, dosen yang menempuh waktu seperempat abad bukan sebagai rutinitas, melainkan proses.
Ia datang pada awal milenium, 2001, ketika dunia akademik Indonesia tengah beranjak dari pola lama menuju tuntutan global. Di bidang Hubungan Internasional, Ratih memulai peran sebagai pengajar. Namun, seperti banyak kisah yang tak selesai di titik awal, ruang kelas hanyalah pintu masuk bagi perjalanan yang lebih panjang: pembentukan diri.
Di kampus itu, berhenti bukan pilihan. Ia mengisahkan bagaimana dorongan untuk melanjutkan studi, dari sarjana ke magister hingga doktoral, tak sekadar tuntutan administratif, melainkan bagian dari ekosistem yang merawat pertumbuhan. “Selalu ada tantangan untuk berkembang,” ujarnya, singkat, seperti menandai ritme yang tak pernah benar-benar jeda.
Yang menarik, tantangan tak hadir sebagai beban emosional. Tanpa dramatika “duka”, ia memaknai tekanan sebagai mekanisme pembentukan diri. Program peningkatan kompetensi, dari penguatan bahasa Inggris hingga tahsin Alquran, dijalankan secara terstruktur. Pengelompokan berbasis kemampuan dan pelatihan berkelanjutan menjadi bagian dari desain institusional yang nyaris tak memberi ruang stagnasi.
Di titik ini, kampus tak lagi sekadar tempat bekerja, tetapi arena pembentukan identitas. Ratih bukan hanya mengajar, melainkan ikut ditempa. Bahkan, ketika ia menempuh pendidikan magister, dukungan institusi hadir sebagai investasi jangka panjang, sebuah relasi timbal balik antara individu dan lembaga yang saling memperkuat.
Lebih dari dua dekade kemudian, lanskap pendidikan tinggi berubah cepat: reputasi global, publikasi ilmiah, hingga peringkat institusi menjadi kata kunci baru. Namun, bagi Ratih, perubahan itu bukan ancaman, melainkan konsekuensi dari pilihan untuk terus bergerak. “Bukan soal beban, tapi bagaimana kita bertumbuh bersama institusi,” katanya.
Di balik perjalanan panjang itu, terbaca satu pola yang konsisten: personal branding seorang akademisi tidak dibangun dari lompatan instan. Ia tumbuh dari disiplin yang berulang, komitmen yang tak kasatmata, dan keberanian untuk terus berada di luar zona nyaman.
Kisah ini, pada akhirnya, bukan hanya tentang seorang dosen dan kampusnya. Ia adalah cermin kecil dari dunia pendidikan tinggi yang terus bernegosiasi dengan perubahan — bahwa keberhasilan, sering kali, adalah akumulasi dari kesediaan untuk bertahan sekaligus bertumbuh. (aga)

