Transisi Energi Indonesia Terkendala Kesiapan Sistem Kelistrikan

Sabtu, 25 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Dosen Teknik Elektro, Fakultas Teknik UMY, Dr. Ir. Rahmat Adiprasetya Al Hasibi

Foto Dosen Teknik Elektro, Fakultas Teknik UMY, Dr. Ir. Rahmat Adiprasetya Al Hasibi

GERBANGPATRIOT.COM, Upaya transisi menuju energi terbarukan di Indonesia masih menghadapi tantangan mendasar, terutama pada kesiapan sistem kelistrikan nasional. Di tengah dorongan global untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, Indonesia dinilai belum sepenuhnya siap mengakomodasi karakter energi baru yang cenderung fluktuatif.

Dari sisi teknis, sistem kelistrikan saat ini pada dasarnya dibangun untuk menopang pembangkit konvensional yang bersifat stabil. Kondisi ini membuat integrasi energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, tidak dapat dilakukan secara instan tanpa penyesuaian signifikan pada sistem yang sudah ada.

Dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Rahmat Adiprasetya Al Hasibi, S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng., menilai bahwa meskipun Indonesia telah memiliki fondasi sistem kelistrikan yang cukup kuat, kesiapan tersebut belum sepenuhnya memadai jika skala pemanfaatan energi terbarukan terus diperbesar.

“Secara umum, sistem kelistrikan Indonesia memang sudah cukup besar, khususnya di wilayah Jawa-Bali. Namun, perlu dipahami bahwa sistem ini sejak awal dirancang untuk pembangkit yang stabil seperti batu bara atau tenaga air. Ketika kita mulai memasukkan energi terbarukan yang sifatnya fluktuatif, sistem tersebut membutuhkan penyesuaian yang tidak sederhana. Saat ini kita masih berada di tahap awal menuju kesiapan yang optimal,” jelasnya kepada Humas UMY, Sabtu (25/4) secara daring.

Selain persoalan desain sistem, kemampuan infrastruktur dalam menampung energi terbarukan juga masih terbatas. Tantangan utama berkaitan dengan stabilitas sistem, terutama dalam menjaga keseimbangan frekuensi dan tegangan listrik ketika terjadi perubahan produksi energi secara tiba-tiba.

Sebagai contoh, ketidakstabilan pasokan akibat perubahan cuaca pada pembangkit surya menuntut sistem untuk merespons secara cepat agar tidak mengganggu keandalan listrik secara keseluruhan. Kondisi ini menjadi semakin kompleks di wilayah luar Jawa-Bali yang memiliki kapasitas sistem lebih kecil dan tingkat fleksibilitas yang masih terbatas.

“Ketika produksi listrik dari energi terbarukan tiba-tiba turun, sistem harus langsung menyesuaikan agar frekuensi dan tegangan tetap stabil. Ini bukan hal yang mudah, terutama di daerah yang sistemnya belum terlalu kuat. Di luar Jawa-Bali, tantangannya lebih besar karena kapasitas sistemnya lebih kecil dan belum sefleksibel di pusat,” ungkap Rahmat.

Di sisi lain, tantangan tidak hanya terletak pada pembangkit listrik, tetapi juga pada jaringan transmisi dan distribusi. Banyak sumber energi terbarukan di Indonesia berada di lokasi yang jauh dari pusat konsumsi listrik, sementara infrastruktur jaringan belum sepenuhnya mampu menjangkau potensi tersebut secara optimal.

Keterbatasan jaringan ini menyebabkan energi yang dihasilkan belum dapat dimanfaatkan secara maksimal, sekaligus memperlambat pengembangan energi terbarukan di berbagai daerah.

“Sering kali sumber energi terbarukan berada jauh dari pusat kebutuhan listrik, tetapi jaringan transmisinya belum memadai. Akibatnya, energi yang sebenarnya potensial tidak bisa langsung disalurkan. Jadi tantangannya bukan hanya membangun pembangkit, tetapi juga memastikan jaringan distribusinya siap,” tegasnya.

Dengan berbagai tantangan tersebut, kesiapan sistem kelistrikan menjadi faktor kunci dalam menentukan keberhasilan transisi energi di Indonesia. Tanpa penguatan pada aspek teknis dan infrastruktur, pemanfaatan energi terbarukan berisiko tidak berjalan optimal meskipun potensinya sangat besar. (NF)

Berita Terkait

Korupsi Mempermalukan Indonesia, DePA-RI Dorong Efek Jera dan Pengembalian Aset Negara
Gus Dar Kecam Dugaan Konten Tukar Hafalan Al-Qur’an dengan Miras, Minta Aparat Bertindak
83,10 Persen Pemuda Bekasi Tak Merokok, Walikota Bekasi Terus Tingkatkan Kawasan Bebas Asap Rokok di Ruang Publik
Polda Banten Mediasi Polemik Reklamasi Bojonegara, Survei Bersama Disepakati
Dr. Marsudin Nainggolan: Hakim, Akademisi, dan Pemikir Hukum
Menikmati Puisi Kritis ” TETAPLAH BODOH”, Karya Fathul Wahid
SPPG Lanud Husein Sastranegara Salurkan 219 Ribu Paket Makan Bergizi untuk Siswa
Pertanian Bangkit! Triwulan I 2025 Catat Pertumbuhan Tertinggi Nasional

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 13:44 WIB

Korupsi Mempermalukan Indonesia, DePA-RI Dorong Efek Jera dan Pengembalian Aset Negara

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:13 WIB

Gus Dar Kecam Dugaan Konten Tukar Hafalan Al-Qur’an dengan Miras, Minta Aparat Bertindak

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:45 WIB

83,10 Persen Pemuda Bekasi Tak Merokok, Walikota Bekasi Terus Tingkatkan Kawasan Bebas Asap Rokok di Ruang Publik

Rabu, 15 Juli 2026 - 21:00 WIB

Polda Banten Mediasi Polemik Reklamasi Bojonegara, Survei Bersama Disepakati

Sabtu, 25 April 2026 - 14:42 WIB

Transisi Energi Indonesia Terkendala Kesiapan Sistem Kelistrikan

Berita Terbaru