Pendangkalan Sungai Picu Banjir Berulang di D’Amerta, Keberadaan Podomoro Park Disorot
GERBANGPATRIOT.COM, Bandung — Warga Perumahan D’Amerta Residence di kawasan Ciganitri, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, masih diliputi kecemasan akan banjir susulan setelah peristiwa luapan air sungai pada Senin (13/4/2026). Permukiman yang berbatasan langsung dengan kompleks Podomoro Park itu dinilai kian rentan, terutama di titik benteng yang sebelumnya jebol.
Saat banjir pertama terjadi, puluhan rumah terdampak luapan air sungai yang melintasi batas dua perumahan tersebut. Tiga rumah di RT 6 RW 16 menjadi yang paling parah karena berada dekat dengan titik jebolnya benteng. Ketinggian air di dalam rumah warga saat itu mencapai 20 hingga 30 sentimeter.
Dalam dua kali hujan setelah kejadian tersebut, genangan kembali muncul meski berlangsung singkat. Air sempat merendam badan jalan hingga teras rumah, dengan durasi sekitar 20 menit. Situasi yang lebih mengkhawatirkan terjadi pada Kamis (30/4/2026) sore, hujan deras membuat permukaan air sungai meningkat dan menerobos tanggul di dua titik benteng yang rusak.
Warga mengatakan, tanggul darurat yang dibuat secara gotong royong dari karung pasir dan batu split memang bersifat sementara. Upaya itu dilakukan untuk menambal bagian benteng yang jebol serta memperkuat struktur yang mulai miring dan rawan terhadap tekanan air. Namun, warga tidak menyalahkan keberadaan tanggul tersebut.
Menurut warga, persoalan utama justru terletak pada kondisi sungai yang mengalami pendangkalan dan penyempitan dalam beberapa tahun terakhir, terutama di sepanjang perbatasan D’Amerta Residence dan Podomoro Park. Kondisi ini dinilai memperburuk daya tampung sungai saat curah hujan tinggi.
Warga menyebut, perubahan fungsi lahan di kawasan sekitar turut memengaruhi kondisi sungai. Lahan yang sebelumnya berupa sawah dan kolam secara bertahap beralih menjadi kawasan perumahan dan permukaan keras. Di area belakang sungai, tanah yang semula lebih rendah kini telah diurug hingga ketinggiannya menyamai atap rumah warga D’Amerta Residence.
Pada tahap awal pembangunan, pihak Podomoro Park sempat melakukan pengerukan sungai menggunakan alat berat. Namun, belakangan akses ke sungai praktis tertutup setelah dibangunnya sekat di sepanjang ruas sungai yang masuk zona Podomoro Park, yang dinilai menyulitkan upaya normalisasi lanjutan. Di sisi lain, bantaran sungai terus melebar dan menekan badan sungai.
“Dulu hanya cileuncang, kurang dari satu jam juga sudah surut. Jalan di sini juga sengaja pakai konblok supaya air cepat meresap. Itu sudah diantisipasi sejak awal oleh pengembang D’Amerta, termasuk dengan penanaman banyak pohon, karena lokasinya beririsan dengan sungai,” ujar Sukmaya, warga yang rumahnya terdampak banjir di RT 6.
Menurut Sukmaya, kondisi tersebut berlaku saat fungsi sungai masih normal. Manakala sungai mengalami penyempitan dan pendangkalan, risiko banjir meningkat. “Sekarang sungai bermasalah, tapi tidak ada langkah teknis yang memadai. Akses ke sungai juga sulit karena sudah disekat dari kanan-kiri,” ujarnya.
Warga mengingatkan bahwa sekitar satu dekade lalu, sungai tersebut masih berfungsi sebagai saluran air bagi sawah dan kolam milik petani di kawasan Ciganitri. Seiring perubahan tata guna lahan menjadi kawasan permukiman, fungsi resapan dan distribusi air berkurang. Air tidak lagi mengalir ke area persawahan, melainkan tertahan di saluran yang semakin sempit dan dangkal.
Kondisi ini menyebabkan muka air sungai meningkat signifikan saat hujan deras, terutama jika sebelumnya terjadi hujan di wilayah hulu. Dalam beberapa kejadian, kenaikan muka air bahkan mencapai sekitar satu meter dari kondisi normal.
Warga berharap ada langkah penanganan permanen dari pihak terkait, termasuk normalisasi sungai melalui pengerukan dan pelebaran, serta penataan ulang akses dan struktur bantaran. Tanpa intervensi menyeluruh, ancaman banjir dinilai akan terus berulang dan berpotensi semakin meluas. (ihd)

