Guru Besar UMY Dorong Pertanian Berkelanjutan Berbasis Ekologi dan Kesejahteraan Petani
GERBANGPATRIOT.COM, Pembangunan pertanian pada era modern tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai upaya meningkatkan hasil produksi pangan. Di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, hingga perubahan lanskap sistem pangan global, pendekatan pertanian yang hanya berorientasi pada peningkatan dinilai sudah tidak memadai untuk menjawab kebutuhan pembangunan jangka panjang.
Guru Besar Bidang Ilmu Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Triyono, S.P., M.P., menyebut pembangunan pertanian abad ke-21 menghadapi situasi yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa ketika keberhasilan sektor pertanian hanya diukur dari kenaikan produksi.
“Transformasi sistem pangan berkelanjutan tidak lagi dipahami sebagai agenda tunggal peningkatan hasil, melainkan perubahan multidimensi yang menuntut jalur sosial-ekonomi, aktor, dan tata kelola baru. Karena itu, pembangunan pertanian berkelanjutan perlu dibaca ulang agar tidak berhenti pada logika produksi semata,” ujarnya dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar bertajuk Transformasi Usahatani Organik Menuju Pembangunan Pertanian Berkelanjutan: Integrasi Tata Kelola Agribisnis Kolaboratif, Regeneratif, Berbasis Informasi Digital, dan Berkeadilan bagi Kesejahteraan Petani, Sabtu (9/5), di Gedung AR Fachruddin B Lantai 5 UMY.
Pendekatan pembangunan pertanian yang terlalu berpusat pada intensifikasi produksi memang telah memberikan kontribusi besar terhadap ketersediaan pangan. Namun, pada saat yang sama, pendekatan tersebut juga memunculkan tekanan terhadap tanah, air, biodiversitas, dan ketahanan agroekosistem yang semakin sulit diabaikan.
Terlebih, arah diskursus pertanian global saat ini telah bergeser. Tidak lagi sekadar membahas bagaimana menghasilkan pangan dalam jumlah lebih banyak, tetapi juga bagaimana menghasilkan pangan dengan dampak ekologis yang lebih rendah, daya tahan yang lebih tinggi, serta distribusi manfaat yang lebih adil.
“Strategi pembangunan pertanian harus mampu mensintesiskan produktivitas, ekologi, dan kesejahteraan sosial secara lebih utuh. Pertanian berkelanjutan tidak cukup hanya dipahami sebagai upaya meningkatkan produksi sambil mengurangi dampak lingkungan, karena pendekatan seperti itu belum menyentuh persoalan yang lebih mendasar dalam sistem pertanian,” kata Prof. Triyono.
Ia menilai keberlanjutan pertanian tidak dapat dibangun hanya dari sisi teknis budidaya. Praktik seperti konservasi lahan, rotasi tanaman, maupun penguatan biodiversitas memang penting untuk menjaga kualitas lingkungan dan ketahanan usaha tani. Namun, implementasinya tetap membutuhkan dukungan kebijakan, pengetahuan, serta penguatan sistem pertanian yang lebih menyeluruh.
“Pertanian berkelanjutan harus dipahami sebagai agenda transformasi sistem. Karena itu, bidang pembangunan pertanian tidak dapat lagi diposisikan hanya sebagai kajian tentang sistem produksi, tetapi juga tentang bagaimana membangun sistem pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman dan tantangan keberlanjutan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Triyono menegaskan bahwa pembangunan pertanian modern harus mampu keluar dari dikotomi lama antara produktivitas dan konservasi lingkungan. Menurutnya, keduanya justru perlu ditempatkan sebagai bagian yang saling menguatkan agar sistem pertanian tetap mampu bertahan di tengah perubahan global yang semakin dinamis.
“Ke depan, ukuran keberhasilan pertanian tidak cukup hanya berupa kenaikan produksi. Pertanian harus mampu menjaga keberlanjutan sumber daya, memperkuat daya tahan sistem pangan, serta memberi manfaat sosial dan ekologis secara lebih luas. Di situlah arah baru pembangunan pertanian berkelanjutan perlu dibangun,” pungkas Prof. Triyono. (lsi)
Sumber : Humas Umy

