Pemkot Yogyakarta Perkuat Kewaspadaan Hantavirus Lewat Penguatan Sistem Kesehatan
GERBANGPATRIOT.COM, YOGYAKARTA — Pemerintah Kota Yogyakarta memperkuat kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit zoonosis hantavirus melalui langkah penguatan sistem kesehatan dan koordinasi lintas sektor. Meski kasus di Kota Yogyakarta tergolong minim, pemerintah menilai kewaspadaan perlu ditingkatkan untuk mencegah risiko penyebaran penyakit yang ditularkan dari hewan pengerat tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah, mengatakan hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh Orthohantavirus dengan reservoir utama tikus dan celurut.
“Penularannya bisa melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk saliva, urin, atau fesesnya. Bisa juga melalui debu yang terkontaminasi dan terhirup manusia,” ujar Lana saat jumpa pers di Balai Kota Yogyakarta, Selasa (19/5/2026).
Menurut Lana, secara epidemiologis jenis Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang tersebar di Asia, termasuk Indonesia, menjadi perhatian pemerintah daerah. Karena itu, penguatan kewaspadaan dilakukan di tingkat fasilitas layanan kesehatan hingga masyarakat.
Data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat pada 2025 terdapat satu kasus hantavirus di Kota Yogyakarta dan pasien dinyatakan sembuh. Pada tahun-tahun sebelumnya, tidak ditemukan kasus serupa.
“Kasus yang ada di Kota Yogyakarta bukan murni akibat hantavirus, tetapi disertai infeksi penyerta. Masyarakat diharapkan tetap tenang,” kata Lana.
Dalam konteks kebijakan kesehatan daerah, Pemkot Yogyakarta telah menerbitkan Surat Edaran Wali Kota Yogyakarta tentang kewaspadaan leptospirosis dan hantavirus sebagai langkah antisipasi dini.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga melakukan peningkatan kapasitas tenaga medis melalui pembaruan pengetahuan (update knowledge) terkait tata laksana leptospirosis dan hantavirus bagi dokter maupun tenaga kesehatan lainnya.
“Kami juga meningkatkan koordinasi lintas program dan lintas sektor. Puskesmas aktif melakukan sosialisasi terkait leptospirosis dan hantavirus kepada masyarakat,” ujarnya.
Lana menjelaskan, kelompok masyarakat dengan risiko lebih tinggi terpapar hantavirus antara lain petani, pekerja perkebunan dan kehutanan, pengendali hama, pekerja konstruksi, hingga masyarakat yang sering membersihkan gudang, loteng, atau area lama yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Selain itu, aktivitas luar ruang seperti berkemah, mendaki gunung, hingga tinggal di lingkungan dekat kawasan hutan juga dinilai meningkatkan risiko paparan.
Dari sisi pencegahan, Pemkot Yogyakarta mendorong penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke rumah, membersihkan area berdebu dengan metode wet cleaning, hingga penggunaan alat pelindung diri saat berada di lokasi berisiko.
“Masyarakat diharapkan menerapkan PHBS dan menghindari kontak langsung dengan rodensia. Pencegahan berbasis perilaku menjadi kunci,” kata Lana.
Langkah preventif tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkot Yogyakarta dalam memperkuat mitigasi penyakit menular berbasis lingkungan, seiring meningkatnya perhatian terhadap ancaman zoonosis di kawasan perkotaan. Pemerintah juga berharap komunikasi publik yang masif dapat mencegah kepanikan sekaligus meningkatkan kesadaran warga terhadap kesehatan lingkungan. (Aga)

