Trotoar Royal Baroe Dinilai Belum Ramah Lansia, Silaban Usulkan Pengembangan Kawasan Wisata Edukatif
GERBANGPATRIOT.COM, Kota Serang – Keindahan kawasan Royal Baroe dinilai masih menyisakan persoalan terkait keselamatan pejalan kaki, khususnya bagi kalangan lanjut usia (lansia). Seorang lansia mengaku terjatuh saat melintasi trotoar yang dinilai licin dan kurang aman.
Menurutnya, kondisi permukaan trotoar perlu mendapat perhatian agar tidak membahayakan pengguna jalan. Ia berharap material trotoar menggunakan tekstur yang lebih kasar sehingga mengurangi risiko terpeleset, terutama pada area yang memiliki kemiringan atau turunan.
“Kritik itu vitamin yang sehat. Saya terpeleset saat berjalan-jalan di kawasan Royal karena permukaan trotoarnya licin. Seharusnya menggunakan corak atau tekstur yang lebih kasar agar aman bagi pejalan kaki, terutama lansia,” ujarnya Senin, (1/6/2026).
Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena pembangunan fasilitas publik tidak hanya mengedepankan aspek estetika, tetapi juga harus memperhatikan faktor keselamatan dan kenyamanan seluruh lapisan masyarakat.
Sementara itu, di tempat terpisah, Ketua Silaturahmi Banten (Silaban) menyampaikan pandangannya terkait pengembangan kawasan Royal dan Taman Sari agar memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurutnya, pembangunan kawasan tersebut perlu diarahkan menjadi pusat wisata edukasi dan kreativitas yang mampu menarik wisatawan sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkarya.
Ia mengusulkan pembangunan sebuah ikon berbentuk globe dunia di kawasan Taman Sari. Bangunan tersebut dapat difungsikan sebagai pusat edukasi, bioskop mini, ruang kreativitas seniman, serta tempat diskusi bagi kalangan mahasiswa, wartawan dan generasi milenial.
“Kalau bisa Taman Sari dibuat ikon globe dunia. Lantai tiga untuk bioskop edukatif, lantai satu menjadi ruang bagi para seniman untuk memamerkan dan menjual karya seperti lukisan, patung, sketsa, maupun cenderamata. Sedangkan lantai dua dapat digunakan sebagai ruang diskusi generasi muda, mahasiswa, dan wartawan,” katanya.
Ia juga mengusulkan penyediaan lahan parkir bawah tanah serta akses yang terhubung dengan sejumlah kawasan strategis di Kota Serang guna mendukung mobilitas pengunjung.
Selain itu, kawasan Taman Sari diharapkan dilengkapi pemandu wisata yang mampu berkomunikasi dalam berbagai bahasa asing serta menghadirkan transportasi tradisional berupa delman untuk mendukung wisata budaya menuju kawasan Banten Lama dan Tasikardi.
Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi daya tarik wisata baru sekaligus membuka peluang peningkatan PAD bagi pemerintah daerah.
Untuk mendukung fungsi edukasi, bioskop dapat menayangkan film-film inspiratif dan edukatif tentang inovasi, teknologi, serta aktivitas positif generasi muda dari berbagai negara. Materi film dapat diperoleh melalui kerja sama dengan berbagai kedutaan besar.
“Mulai dari siswa TK hingga perguruan tinggi bisa berkunjung ke bioskop edukatif tersebut. Film yang ditayangkan berisi informasi dan inspirasi tentang kemajuan teknologi serta kegiatan positif pemuda dunia yang dapat menjadi motivasi bagi generasi muda Indonesia,” tegasnya.
Ia meyakini, apabila konsep tersebut direalisasikan secara optimal, sektor wisata edukasi dan budaya dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah.
“Lewat pengelolaan yang baik, PAD bisa menghasilkan nilai yang besar. Pemerintah perlu membuka ruang dan menyerap berbagai ide serta gagasan yang konstruktif untuk kemajuan daerah,” pungkasnya.
(Yuyi Rohmatunisa)

