UMY Dorong Petani Kopi Sikopel Banjarnegara Terapkan Pertanian Berkelanjutan

GERBANGPATRIOT.COM, BANJARNEGARA – Produktivitas komoditas kopi nasional kini tidak hanya dituntut untuk menghasilkan kuantitas panen yang melimpah, tetapi juga wajib memenuhi standar budidaya yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Menjawab tantangan global tersebut, tim pakar dari Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara intensif menerjunkan tim akademisi dan praktisi lapangan guna melakukan pendampingan berbasis agribisnis hijau.

Dalam sesi wawancara mendalam yang dilakukan hari ini, Kamis (04/06), Tim Pengabdian Masyarakat UMY memaparkan hasil evaluasi dan kelanjutan program pendampingan terhadap 38 petani yang tergabung dalam Koperasi Produsen Kopi Sikopel Mitreka Satata di Desa Babadan, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen nyata UMY dalam memperkuat kelembagaan petani kopi binaan CSR Bank Indonesia tersebut.

Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian UMY, Oki Wijaya, S.P., M.P., dalam keterangannya hari ini menegaskan bahwa mata rantai kualitas kopi premium sangat ditentukan oleh bagaimana petani memperlakukan kebun mereka sejak awal. Menurutnya, kesalahan mendasar yang sering terjadi di lapangan adalah pola pikir bahwa semakin banyak pupuk kimia yang ditebar, maka hasil panen akan semakin melonjak.

“Pemupukan kopi itu harus dilakukan secara berimbang, sesuai dengan fase dan kebutuhan riil tanaman, serta tidak boleh berlebihan. Melalui pendekatan yang kami berikan, petani diajak bergeser ke efisiensi biaya logistik pupuk tanpa menurunkan volume produksi, sekaligus menjaga daya dukung lahan agar tidak kritis dalam jangka panjang,” ujar Oki dalam wawancara tersebut.

Sejalan dengan hal itu, pakar kesehatan tanaman sekaligus Dosen Agroteknologi UMY, Dr. Siti Nur Aisyah, menjelaskan dari sisi teknis agronomi bahwa kesehatan tanah adalah fondasi utama dari cita rasa (taste profile) kopi yang berkualitas. Kebutuhan unsur hara makro dan mikro tanaman kopi wajib dikelola secara presisi berdasarkan kondisi riil tanah di kawasan Pagentan.

“Kami meluruskan persepsi di tingkat petani bahwa pemupukan ramah lingkungan itu bukan berarti membiarkan tanaman kekurangan nutrisi. Sebaliknya, ini adalah tentang akurasi pengaturan nutrisi agar tepat sasaran. Ketika tanahnya sehat, tanaman kopi otomatis memiliki imunitas yang lebih baik terhadap serangan hama penyakit, sehingga produktivitasnya stabil dalam jangka panjang,” urai Siti.

Guna memastikan materi akademis ini dapat diserap secara praktis, UMY juga melibatkan jaringan alumninya yang bergerak aktif di industri hulu-hilir kopi dan isu ekologi, yakni Raihan Ilham Fadhilah, S.P. (penggiat kopi) dan Ikhsan Adi Pratama, S.P., M.Sc. (pakar isu lingkungan). Keterlibatan para praktisi muda ini dinilai efektif menjembatani komunikasi teknis perguruan tinggi langsung ke kultur kerja harian para petani di Banjarnegara.

Merespons dampak positif dari pendampingan ini, Ketua Koperasi Produsen Kopi Sikopel Mitreka Satata, Turno, S.H., M.H., menyatakan bahwa edukasi mengenai pemupukan berimbang ini merupakan jawaban atas tantangan standardisasi mutu yang selama ini dihadapi koperasi.

Menurut Turno, koperasi terus mendorong anggotanya untuk memperbaiki praktik budidaya agar kopi yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dan mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi petani.

Melalui kegiatan ini, UMY berharap petani anggota Koperasi Produsen Kopi Sikopel Mitreka Satata semakin memahami pentingnya pemupukan kopi yang berimbang, efisien, dan ramah lingkungan. Peningkatan kapasitas petani tersebut diharapkan dapat mendukung produktivitas kopi yang berkelanjutan, menjaga kelestarian lahan, serta memperkuat daya saing kopi Banjarnegara.(lsi)

Sumber : Humas Umy