Pendidikan dan Keterampilan Jadi Sorotan di ILC Jenewa

GERBANGPATRIOT.COM, Jenewa, Swiss – Konferensi Perburuhan Internasional atau International Labour Conference (ILC) Sesi ke-114 di Jenewa, Swiss, memasuki hari ke-9 pelaksanaan, Selasa (9/6/2026). Delegasi pemerintah, pengusaha dan pekerja dari berbagai negara terus membahas sejumlah agenda strategis yang akan menentukan arah kebijakan ketenagakerjaan global di masa depan.

 

Rangkaian sidang dan diskusi berlangsung secara paralel di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dengan fokus pada isu kesetaraan gender, dialog sosial, ekonomi digital, hingga pengawasan penerapan standar ketenagakerjaan internasional.

 

Salah satu agenda utama dibahas dalam Committee on Gender Equality (CDG) yang berlangsung di Centre International de Conferences Geneve (CICG). Komite ini merumuskan langkah-langkah konkret untuk mempercepat terwujudnya kesetaraan gender di dunia kerja, termasuk penghapusan berbagai bentuk diskriminasi dan penguatan perlindungan bagi pekerja perempuan.

 

Pada saat yang sama, Committee on Recurrent Discussion (CD-R) di Palais des Nations membahas penguatan dialog sosial dan tripartisme sebagai fondasi hubungan industrial yang harmonis. Forum tersebut menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, pengusaha dan pekerja dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang adil, inklusif dan berkelanjutan.

 

Sementara itu, Committee on Decent Work in the Platform Economy (CNP) melanjutkan pembahasan mengenai penyusunan standar internasional bagi pekerja di sektor ekonomi digital dan platform. Perlindungan sosial, kepastian hubungan kerja, upah yang layak, serta keselamatan dan kesehatan kerja menjadi isu utama yang mendapat perhatian para delegasi.

 

Adapun Committee on the Application of Standards (CAN) terus melakukan telaah terhadap laporan penerapan konvensi dan rekomendasi ILO oleh negara-negara anggota. Komite ini berperan penting dalam memastikan kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan internasional yang telah disepakati bersama.

 

Delegasi Indonesia yang terdiri atas unsur pemerintah, pengusaha dan pekerja turut aktif mengikuti seluruh rangkaian pembahasan. Salah satu delegasi pekerja Indonesia asal Banten, H. Dewa Sukma Kelana, SH, M.Kn, menegaskan pentingnya pendidikan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai bagian dari strategi menghadapi perubahan dunia kerja global.

 

Menurut Dewa, perkembangan teknologi, digitalisasi dan transformasi industri menuntut pekerja untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar kerja yang semakin dinamis.

 

“Pekerja tidak hanya membutuhkan perlindungan hak-hak normatif dan peningkatan kesejahteraan, tetapi juga akses yang lebih luas terhadap pendidikan dan pelatihan. Bahkan keluarga pekerja, khususnya anak-anak pekerja, perlu memperoleh kesempatan pendidikan yang baik untuk meningkatkan kualitas hidup dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

 

Ia menilai investasi pada pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia merupakan langkah strategis untuk menciptakan tenaga kerja yang produktif, kompetitif, dan mampu bersaing di tingkat global.

 

“Pendidikan berkelanjutan harus menjadi bagian dari strategi pembangunan ketenagakerjaan. Dengan kompetensi yang terus diperbarui, pekerja akan lebih siap menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan industri,” katanya.

 

Lebih lanjut, Dewa mendorong ILO bersama negara-negara anggota memperkuat kerja sama antara organisasi pekerja, pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi dalam memperluas akses pendidikan, pelatihan, serta sertifikasi kompetensi bagi pekerja.

 

Menurutnya, kolaborasi internasional yang kuat dapat membuka peluang lebih besar bagi pekerja dan keluarganya untuk meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja masa depan.

 

“Kerja sama dengan perguruan tinggi di seluruh dunia perlu diperkuat agar pekerja memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kompetensi dan daya saingnya. Pendidikan tidak boleh berhenti ketika seseorang memasuki dunia kerja,” tegasnya.

 

Dewa berharap hasil ILC 2026 tidak hanya melahirkan standar dan rekomendasi internasional, tetapi juga menghasilkan program kemitraan konkret yang melibatkan serikat pekerja, pemerintah, perusahaan dan perguruan tinggi dalam memperluas akses pendidikan serta pelatihan bagi pekerja dan keluarganya.

 

“Dengan kolaborasi global yang kuat, peningkatan kompetensi, kesejahteraan dan kualitas hidup pekerja dapat berjalan seiring dengan perkembangan dunia kerja yang semakin dinamis,” tandasnya.

 

Semangat dialog, kerja sama dan solidaritas internasional terus mewarnai pelaksanaan ILC 2026. Forum ketenagakerjaan tertinggi dunia tersebut menjadi wadah bagi perwakilan pemerintah, pengusaha, dan pekerja dari seluruh negara anggota ILO untuk merumuskan masa depan dunia kerja yang lebih adil, inklusif dan sejahtera.

 

(Yuyi Rohmatunisa)