Tahun Baru Islam Jadi Momentum Hijrah Digital, Dosen UMY Ajak Generasi Muda Bangun Jejak Digital Positif
GERBANGPATRIOT.COM, Memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, masyarakat Muslim diajak untuk memaknai hijrah tidak hanya dalam kehidupan nyata, tetapi juga dalam aktivitas di ruang digital. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Aly Aulia, Lc., M.Hum., menilai bahwa semangat hijrah yang diwariskan Nabi Muhammad SAW relevan untuk menjawab berbagai tantangan generasi muda di era media sosial.
Menurut Aly, hijrah pada hakikatnya merupakan proses perubahan menuju kondisi yang lebih baik demi meraih ridha Allah SWT. Dalam konteks digital, hijrah tidak selalu berarti meninggalkan media sosial, tetapi mengubah cara memanfaatkannya agar lebih bernilai dan bermanfaat.
“Hijrah digital berarti mentransformasikan nilai dan perilaku dalam ruang virtual. Jika sebelumnya media sosial digunakan untuk menyebarkan hal yang kurang bermanfaat, maka kini dapat diarahkan menjadi sarana berbagi ilmu, inspirasi, dakwah, silaturahmi, hingga pengembangan diri,” jelas Aly saat dihubungi secara daring pada Kamis (25/6/2026).
Kecanduan Media Sosial Mengancam Ketenangan Batin
Di tengah tingginya penggunaan media sosial, Aly menyoroti fenomena kecanduan digital dan Fear of Missing Out (FOMO) yang semakin banyak dialami generasi muda. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan spiritual seseorang.
“Kecanduan media sosial dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran diri, lalai dari ibadah, dan terjebak dalam budaya perbandingan sosial yang memicu rasa iri, cemas, maupun rendah diri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa banjir informasi yang terus-menerus membuat generasi muda rentan mengalami _information overload_ . Akibatnya, kemampuan berpikir kritis, refleksi diri, dan komunikasi interpersonal dapat menurun karena perhatian selalu terpecah oleh berbagai notifikasi dan konten digital.
Sebagai langkah untuk menjaga keseimbangan hidup, Aly menilai digital detox menjadi kebutuhan penting di era ketika perhatian manusia menjadi komoditas yang diperebutkan berbagai platform digital.
Menurutnya, rehat sejenak dari media sosial dapat membantu otak beristirahat, mengurangi stres, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan lingkungan sekitar. Dalam perspektif Islam, digital detox juga dapat menjadi sarana muhasabah atau introspeksi diri.
“Ketika seseorang mengurangi distraksi digital, ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk memperbaiki kualitas salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan keluarga dan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa digital detox tidak harus dilakukan secara ekstrem. Langkah sederhana seperti menetapkan satu hingga dua jam tanpa gawai setiap hari, tidak membuka media sosial setelah salat Subuh, atau mengurangi penggunaan ponsel sebelum tidur dapat memberikan dampak positif yang signifikan.
Menyusun Resolusi Digital di Tahun Baru Islam
Momentum Tahun Baru Islam, menurut Aly, dapat dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk mengevaluasi kebiasaan digital yang selama ini dijalani. Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk melakukan refleksi terhadap aktivitas mereka di media sosial.
Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan antara lain apakah media sosial membuat seseorang lebih produktif atau justru semakin lalai, jenis konten apa yang paling sering dikonsumsi, serta apakah jejak digital yang ditinggalkan sudah mencerminkan nilai-nilai Islam dan etika komunikasi.
“Jika Tahun Baru Masehi identik dengan resolusi pribadi, maka Tahun Baru Islam juga dapat menjadi momen untuk menyusun resolusi digital, seperti mengurangi screen time, meningkatkan literasi digital, dan memperbanyak konten yang edukatif serta inspiratif,” katanya.
Aly menekankan bahwa generasi muda perlu memahami prinsip-prinsip etis dalam menggunakan media sosial. Salah satunya adalah tabayyun atau verifikasi informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.
Selain itu, pengguna media sosial juga perlu menjaga etika komunikasi dalam komentar maupun diskusi daring, menghormati privasi, serta memproduksi konten yang memberikan manfaat dan bukan sekadar mengejar popularitas.
“Dalam ilmu komunikasi, media hanyalah alat. Nilainya sangat ditentukan oleh tujuan dan cara penggunaannya. Karena itu, generasi muda harus menjadi pengguna yang aktif, kritis, dan bertanggung jawab, bukan sekadar konsumen pasif,” tegasnya.
Hijrah Dimulai dari Langkah Kecil
Untuk memulai hijrah digital, Aly menyarankan sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan secara bertahap. Di antaranya membatasi waktu penggunaan media sosial, mematikan notifikasi yang tidak penting, mengurangi akun yang memberikan pengaruh negatif, serta membiasakan diri memverifikasi informasi sebelum membagikannya.
Ia juga mendorong generasi muda untuk mengganti sebagian waktu scrolling dengan membaca Al-Qur’an, buku, atau aktivitas produktif lainnya. Selain itu, menahan diri untuk tidak berkomentar saat sedang emosi dan membiasakan mengunggah konten yang bermanfaat juga menjadi bagian dari proses hijrah digital.
“Hijrah digital tidak harus spektakuler. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih berpotensi menghasilkan dampak yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menutup keterangannya, Aly mengingatkan bahwa tantangan terbesar generasi muda saat ini bukanlah kurangnya akses informasi, melainkan bagaimana tetap menjaga kedalaman makna di tengah derasnya arus informasi digital.
“Jangan sampai konektivitas digital membuat kita justru jauh dari diri sendiri, keluarga, dan Allah. Ukuran keberhasilan seorang Muslim di era digital bukanlah seberapa banyak followers yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama melalui setiap kata, gambar, dan informasi yang disebarkan,” pungkasnya.
Sumber : Humas Umy

