Pakar UMY: Ada Resiko Kemiskinan Baru yang Diciptakan Digitalisasi Bansos

Rabu, 22 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto dosen Ilmu Pemerintahan UMY, Prof. Dr. Ulung Pribadi, M.Si

Foto dosen Ilmu Pemerintahan UMY, Prof. Dr. Ulung Pribadi, M.Si

GERBANGPATRIOT.COM, YOGYAKARTA – Digitalisasi bantuan sosial berisiko menciptakan bentuk kemiskinan baru berupa ketidakmampuan warga mengakses sistem. Hal tersebut diungkapkan oleh Pakar Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Ulung Pribadi, M.Si., saat menanggapi rencana perluasan digitalisasi bantuan sosial oleh pemerintah.

Sebelumnya, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan bahwa pemerintah resmi memperluas program uji coba (piloting) digitalisasi bantuan sosial ke 43 kabupaten/kota di 26 provinsi dengan total sasaran 12,5 juta keluarga KPM (Keluarga Penerima Manfaat). Pemerintah mengeklaim penerapan sistem digital ini berhasil memotong rantai birokrasi, mengeliminasi biaya administrasi, serta mempercepat proses pelayanan publik agar lebih transparan dan tepat sasaran.

Ulung mengatakan digitalisasi memang dapat mengurangi ruang penyalahgunaan bansos dibanding sistem manual sebelumnya. Namun, ia menegaskan hal tersebut tidak otomatis menghilangkan politisasi dalam penyaluran bantuan.

“Manipulasi bisa berpindah dari pembagian bantuan ke tahap pengusulan nama, verifikasi, atau perubahan status penerima,” ujar Ulung saat dihubungi Rabu (22/7).

Menurutnya, celah penyalahgunaan hanya bergeser tahap, bukan hilang sepenuhnya. Ia menekankan setiap perubahan data penerima harus memiliki jejak audit yang dapat diperiksa lembaga pengawas.

Statistik penerima bantuan juga perlu diumumkan secara terbuka hingga tingkat daerah, tanpa membuka data pribadi warga.

Dari sisi sosiologis, Ulung mengingatkan tidak semua warga miskin memiliki telepon pintar, internet, rekening bank, atau dokumen lengkap.

“Jangan sampai digitalisasi justru menciptakan kemiskinan baru dalam bentuk ketidakmampuan mengakses sistem,” tegasnya.

Ia meminta pemerintah tetap menyediakan layanan tatap muka bagi warga yang belum siap secara digital. Layanan tersebut mencakup mobil pelayanan keliling serta pendampingan khusus bagi desa dan komunitas rentan.

Ulung menilai indikator keberhasilan program ini perlu diperluas, tidak sekadar jumlah warga yang masuk sistem. Ia menyebut penurunan biaya yang ditanggung warga dan kecepatan koreksi kesalahan data sebagai indikator tambahan yang relevan.

Seberapa banyak kelompok paling rentan yang benar-benar terjangkau juga disebut Ulung sebagai ukuran penting lainnya. Ia menyimpulkan digitalisasi bansos harus dipandang sebagai infrastruktur hak sosial yang dapat dikoreksi warga, bukan semata proyek efisiensi teknologi. (LSI)

 

Sumber : humas umy

Berita Terkait

Student Fair 2026, UMY Dorong Mahasiswa Bangun Jejaring dan Kembangkan Potensi
Wacana Parliamentary Threshold Naik 5 Persen, Akademisi UMY Soroti Risiko Suara Pemilih Terbuang
Pengawasan Kepala Daerah Dinilai Belum Seimbang di Tengah Dominasi Eksekutif
Dua Kepala Daerah Jadi Tersangka Dugaan Korupsi, Pakar UMY Soroti Titik Rawan Kewenangan
Habis Karhutla Terbitlah Sawit, Pakar UMY Ingatkan Risiko Alih Fungsi Kawasan Lindung
PUSDHAM UMY Ajukan Amicus Curiae dalam Perkara PHPU Pilpres 2024 di MK
Pelunasan BLBI Selesai, Ekonom UMY Ingatkan Risiko Ketergantungan pada Surplus BI
Ekonom UMY Jelaskan Mekanisme Surplus BI di Balik Pelunasan Utang BLBI

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 13:17 WIB

Student Fair 2026, UMY Dorong Mahasiswa Bangun Jejaring dan Kembangkan Potensi

Rabu, 30 September 2026 - 12:27 WIB

Wacana Parliamentary Threshold Naik 5 Persen, Akademisi UMY Soroti Risiko Suara Pemilih Terbuang

Rabu, 30 September 2026 - 11:37 WIB

Pengawasan Kepala Daerah Dinilai Belum Seimbang di Tengah Dominasi Eksekutif

Rabu, 30 September 2026 - 11:31 WIB

Dua Kepala Daerah Jadi Tersangka Dugaan Korupsi, Pakar UMY Soroti Titik Rawan Kewenangan

Rabu, 30 September 2026 - 09:10 WIB

Habis Karhutla Terbitlah Sawit, Pakar UMY Ingatkan Risiko Alih Fungsi Kawasan Lindung

Berita Terbaru

Bandung

KDS Buka Pintu Kerja Sama Pengelolaan Si Jalak Harupat

Kamis, 1 Okt 2026 - 16:47 WIB