Cahaya Pradipta Menangi Sayembara, Rancang Gerbang Ikonik Perbatasan DIY yang Megah

GERBANGPATRIOT.COM, ‎Jogja – Berawal dari semburat matahari pagi Rongkop, mahakarya “Cahaya Pradipta Penanda Gerbang Perbatasan DIY” resmi menjuarai Sayembara Pradesain Penanda Perbatasan DIY 2026. Karya rancangan Marcelo Diaz Octavianus tersebut memikat perhatian dewan juri hingga memperoleh persetujuan langsung Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai kehormatan.

Pengumuman pemenang ditetapkan melalui rapat pleno final di Ruang Gadri Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin (20/7/2026), menandai berakhirnya kompetisi bergengsi tersebut resmi. Sayembara yang digelar Pemda DIY melalui Biro Tata Pemerintahan Setda DIY menghadirkan gagasan penanda perbatasan memadukan tradisi, keistimewaan, serta modernitas berkelanjutan.

Ketua Dewan Juri, Prof. Ar. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., mengatakan, “Kesan pertamanya sangat kuat, bentuknya unik dan spektakuler.” Ia menambahkan, “Karakter visualnya hidup, baik saat diterpa cahaya matahari maupun pendar lampu malam, sehingga menghadirkan identitas Yogyakarta yang kuat.”

Menurut Ikaputra, karya Marcelo berhasil menyisihkan 124 desain terbaik dari sekitar 400 peserta yang mengikuti sayembara nasional dengan persaingan sangat ketat. Secara konseptual, Cahaya Pradipta mengangkat simbol pendaran sinar sebagai penuntun perjalanan sekaligus menyampaikan pesan hangat, “Selamat datang di Yogyakarta,” kepada pengunjung.

Desain futuristik tersebut dinilai mampu mempertemukan nilai budaya, filosofi keistimewaan, serta perkembangan arsitektur modern dalam satu karya monumental yang membanggakan daerah. Gapura megah itu direncanakan berdiri di perbatasan Kapanewon Rongkop, Gunungkidul, dengan Pracimantoro, Wonogiri, menggunakan pendanaan melalui Dana Keistimewaan atau Danais resmi.

Sekretaris DPUPRKP Gunungkidul, Eli Martono, menyatakan, “Desain ini sangat berpotensi menjadi ikon baru sekaligus magnet kawasan timur Gunungkidul bagi wisatawan.” Eli menegaskan, “Gerbang ini akan melengkapi ikon Geopark Patuk, I Love Gunungkidul Semin, serta canting Batik Tancep Ngawen yang terkenal.”

Keberadaan gerbang baru tersebut diharapkan memperkuat citra kawasan perbatasan sebagai wajah pertama Daerah Istimewa Yogyakarta yang berkarakter, ramah, dan berbudaya tinggi. Selain menjadi pembatas administratif, bangunan monumental itu diproyeksikan menghadirkan pengalaman visual berkesan bagi masyarakat maupun wisatawan yang melintasi jalur perbatasan setiap hari.

Bagi para pengembara, gerbang tersebut menjadi simbol penyambutan penuh kehangatan, menghadirkan kesan mendalam sebelum menikmati pesona budaya dan keistimewaan Yogyakarta secara menyeluruh. Melalui Cahaya Pradipta, Yogyakarta kembali menunjukkan bahwa inovasi, budaya, dan arsitektur dapat berpadu indah menciptakan identitas daerah yang membanggakan Indonesia selamanya.(waw)