Prabowo Ingin Perbaiki Buku Pelajaran SD-SMA, Ahli Pendidikan UMY: Harus Sesuai Kemampuan Siswa

Kamis, 13 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UMY, Dr. Ana Taqwa Wati, S.Pd.I., M.Pd.I

Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UMY, Dr. Ana Taqwa Wati, S.Pd.I., M.Pd.I

GERBANGPATRIOT.COM, Yogyakarta – Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk memperbaiki buku pelajaran mulai jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dinilai perlu dilakukan seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan kebutuhan pembelajaran. Namun, perbaikan buku pelajaran tidak cukup hanya dilakukan dengan memperbarui materi maupun tampilan, melainkan perlu diawali dengan evaluasi kurikulum serta pemetaan kebutuhan, karakteristik, dan kemampuan berpikir siswa.

Ahli Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ana Taqwa Wati, S.Pd.I., M.Pd.I., menilai perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membuat bahan ajar perlu terus disesuaikan. Menurutnya, pengembangan buku pelajaran harus berangkat dari kurikulum agar materi yang disajikan tetap relevan dengan kebutuhan siswa di era digital.

“Sekarang eranya sudah berubah sekali. Percepatan informasi sangat tinggi sehingga perlu ada perubahan yang bermula dari kurikulum. Kalau kita ingin mengembangkan buku pelajaran, tentu harus diawali dari kurikulumnya. Dengan demikian, pengembangan kurikulum yang dilanjutkan dengan perbaikan buku akan relevan dengan perubahan di era sekarang,” kata Ana saat ditemui di UMY, Kamis (13/8).

Menurut Ana, buku pelajaran yang berkualitas bukan hanya memiliki materi yang lengkap, tetapi juga relevan dengan perkembangan zaman serta sesuai dengan karakteristik dan tingkat kemampuan berpikir siswa. Hal tersebut penting karena kemampuan peserta didik di Indonesia sangat beragam.

“Buku yang berkualitas tentu saja buku yang relevan dengan kebutuhan zamannya, tetapi juga sesuai dengan karakter dan level berpikir siswa. Kami pernah menemukan satu sekolah yang level berpikir siswa SD-nya sudah mencapai level empat, sehingga siswa SD sudah mulai mampu mengkritisi dan menganalisis,” tambah Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UMY tersebut.

Karena itu, Ana menilai standar buku pelajaran nasional perlu disusun secara bertahap dengan mempertimbangkan kesenjangan kemampuan siswa serta kondisi sekolah di berbagai daerah. Peningkatan standar tidak dapat dilakukan dengan serta-merta menyamakan capaian siswa Indonesia dengan negara lain tanpa terlebih dahulu melihat kondisi peserta didik di lapangan.

“Kalau kita memang ingin memperbaiki, harus dilakukan step by step. Tidak bisa langsung dipaksakan pada standar yang tinggi. Kalau lebih dari 50 persen kualitas siswa di Indonesia masih berada pada low level, kemudian kita memberikan standar yang terlalu tinggi, tentu akan terlalu berat,” ucap Ana.

Guru Perlu Dilibatkan dalam Penyusunan Buku

Dalam proses pengembangannya, Ana menilai pemerintah perlu melakukan pemetaan dan observasi terhadap kebutuhan siswa sebelum menyusun buku pelajaran. Tahapan tersebut kemudian perlu dilanjutkan dengan validasi yang melibatkan ahli pendidikan serta guru sebagai praktisi yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Keterlibatan guru dinilai penting karena mereka memiliki pengalaman langsung dalam memahami karakteristik, kebutuhan, kesulitan belajar, serta kemampuan siswa di kelas. Dengan demikian, buku pelajaran tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga dapat diterapkan secara efektif dalam proses pembelajaran.

Setelah digunakan di sekolah, buku pelajaran juga perlu dievaluasi secara berkala untuk mengetahui efektivitasnya. Ana menyarankan evaluasi dapat dilakukan dalam rentang satu hingga dua tahun setelah implementasi dengan melibatkan pemangku kebijakan, guru, dan siswa.

Menurutnya, keberhasilan perbaikan buku pelajaran tidak cukup diukur dari kualitas isi maupun tampilannya, tetapi juga dari dampak buku tersebut terhadap proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

“Jadi, bukan hanya melihat bukunya sudah bagus atau belum, tetapi juga bagaimana dampak dari buku tersebut. Apakah ada perubahan atau pengaruh setelah siswa belajar menggunakan buku itu atau tidak,” tuturnya.

Perbaikan Buku Harus Diikuti Peningkatan Kualitas Guru

Ana menambahkan, pembaruan buku pelajaran juga harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi guru dan pemerataan kualitas pembelajaran. Buku yang baik tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak didukung oleh tenaga pendidik yang mampu menggunakannya secara tepat dalam proses pembelajaran.

Karena itu, peningkatan mutu pendidikan tidak cukup dilakukan melalui pembaruan kurikulum dan buku pelajaran. Pemerataan kualitas guru juga perlu menjadi perhatian, terutama agar tenaga pendidik berkualitas tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara sekolah di daerah tertinggal masih menghadapi keterbatasan sumber daya pengajar.

Dengan pendekatan tersebut, perbaikan buku pelajaran diharapkan tidak berhenti pada pembaruan materi dan tampilan, tetapi menjadi bagian dari upaya yang lebih menyeluruh untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai dengan perkembangan zaman, kondisi sekolah, serta kemampuan peserta didik di berbagai daerah. (lsi)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Bidik 7.500 Mahasiswa Baru, UMY Dorong Dosen Aktif Promosikan Kampus
Keselamatan Perjalanan Kereta Jadi Tanggung Jawab Bersama, KAI Ajak Semua Pihak Terlibat
Warisan Leluhur Jadi Sorotan FKPPAI DIY
Disambut Antusias, Tantangan Hasto Gerakkan Karang Taruna Jogja
Muhammadiyah Dorong PTMA Atur Batas Penggunaan AI agar Tak Lahirkan Lulusan ‘Kosong
Demokrasi hingga Pengelolaan SDA, Haedar Nashir Soroti Konstruksi Ke-Indonesiaan
117 PTMA Belum Punya Guru Besar, Forkom GB-PTMA Gagas Muhammadiyah United
‎Baliho Raksasa Siswa SD di Jogja Viral, DPMPTSP Buka Suara

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:42 WIB

Bidik 7.500 Mahasiswa Baru, UMY Dorong Dosen Aktif Promosikan Kampus

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:26 WIB

Keselamatan Perjalanan Kereta Jadi Tanggung Jawab Bersama, KAI Ajak Semua Pihak Terlibat

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Warisan Leluhur Jadi Sorotan FKPPAI DIY

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 12:10 WIB

Disambut Antusias, Tantangan Hasto Gerakkan Karang Taruna Jogja

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:52 WIB

Muhammadiyah Dorong PTMA Atur Batas Penggunaan AI agar Tak Lahirkan Lulusan ‘Kosong

Berita Terbaru

Yogyakarta

Warisan Leluhur Jadi Sorotan FKPPAI DIY

Sabtu, 10 Okt 2026 - 13:20 WIB