Polemik Arogansi Anggota Dewan, Pedagang Angkat Suara Pertahankan Harga Diri

GERBANGPATRIOT.COM, ‎Gunungkidul – Kasus dugaan arogansi anggota dewan di Playen, Gunungkidul, menyedot perhatian setelah persoalan kembalian receh berujung keributan dan sorotan luas publik.

‎Peristiwa itu terjadi Kamis (23/8/2026) malam, sekitar pukul 20.00 WIB, di warung Bakmi Mbak Tri Gading VI, Playen, Gunungkidul, DIY.

‎Menurut keterangan pihak warung, uang kembalian Rp8.000 diberikan menggunakan pecahan logam karena persediaan uang seribuan sedang habis di laci warung tersebut.

‎Pelayan bernama Yuli mengaku telah meminta maaf sebelum menyerahkan dua keping uang logam bernilai Rp500 tersebut kepada pelanggan yang bersangkutan malam itu.

‎Namun, menurut pihak warung, anggota DPRD Kabupaten Gunungkidul bernama
‎Drs. H. Sugito MS.i diduga bereaksi keras dan melemparkan uang ke meja saat kejadian tersebut berlangsung.

‎Yuli menyebut nada suara kemudian meninggi, sementara dirinya tetap berusaha menjelaskan kondisi uang kembalian kepada pelanggan tersebut secara baik dan sopan.

‎Situasi semakin menjadi sorotan setelah muncul dugaan ucapan, ‘Kamu tahu siapa saya?’, yang disebut terdengar saat kejadian berlangsung di warung tersebut.

‎Pihak keluarga warung menilai persoalan tersebut bukan semata soal uang receh, melainkan menyangkut penghormatan terhadap pedagang kecil yang sedang melayani pelanggan.

‎Yuli menegaskan, ‘Kami wong cilik bukan untuk diinjak-injak,’ sekaligus berharap kejadian tersebut menjadi pembelajaran penting bagi seluruh pejabat publik lainnya.

‎Menurut keluarga warung, perlakuan tidak menyenangkan serupa disebut bukan pertama kali terjadi ketika anggota dewan tersebut berkunjung ke tempat itu sebelumnya.

‎*Keluarga Anggota Dewan Minta Takedown*

‎Kasus itu kemudian ramai setelah Erwin Widodo mengunggah informasi kejadian melalui media sosial dan mendapat perhatian publik cukup luas hingga viral.

‎Setelah unggahan viral, keluarga anggota dewan disebut mendatangi pihak pengunggah untuk menyampaikan permintaan maaf dan membicarakan penyelesaian secara kekeluargaan bersama pihak terkait.

‎Pengunggah menyatakan permintaan penghapusan unggahan sempat disampaikan, tetapi keluarga pedagang meminta anggota dewan bersangkutan datang langsung meminta maaf kepada mereka sendiri.

‎’Kalau mau di-takedown, harus yang bersangkutan sendiri yang datang dan minta maaf,’ demikian sikap pihak keluarga pedagang sejak awal perkara tersebut.

‎Mereka menegaskan tidak menginginkan kompensasi maupun uang, karena tujuan utama menyampaikan kejadian tersebut adalah menjaga martabat pedagang kecil setempat secara terhormat.

‎Perkembangan berikutnya membawa perkara menuju penyelesaian kekeluargaan setelah anggota dewan bersama keluarga akhirnya datang langsung menyampaikan permohonan maaf kepada pedagang tersebut.

‎Erwin Widodo kemudian mengabarkan rekonsiliasi telah tercapai, tanpa intimidasi maupun pemaksaan, dan keluarga pedagang menerima permintaan tersebut dengan lapang dada bersama keluarga.

‎Yuli menyampaikan, ‘Kami tidak mengharapkan kompensasi atau uang sepeser pun,’ karena persoalan ini dianggap menyangkut harga diri dan pembelajaran moral bersama.

‎Ia berharap kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa pejabat publik harus menjaga sikap, menghormati rakyat, serta memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari kepada masyarakat.(waw)