Sampah Organik Disulap Jadi Pupuk dan Pangan, Program TUMANDUR UGM Berdayakan Warga Jurugsari

GERBANGPATRIOT.COM, SLEMAN — Sampah organik rumah tangga di Kampung Jurugsari, Condongcatur, Sleman, kini disulap menjadi pupuk hingga menghasilkan pangan.

Perubahan itu digerakkan Program TUMANDUR UGM bersama warga Kampung Jurugsari melalui pengelolaan sampah organik berkelanjutan. Hasil pemberdayaan tersebut ditandai panen sayuran bersama ibu-ibu PKK Jurugsari, Kamis (20/8/2026) sore.

Panen berlangsung di Pusat Pelatihan TUMANDUR, mulai pukul 16.00 hingga 17.00 WIB dengan suasana penuh kebersamaan.

Ketua Tim PKM-PM TUMANDUR UGM Siti Nur Khasanah mengatakan sampah organik masih memiliki nilai guna besar.

“Panen ini menjadi bukti bahwa sampah organik yang dianggap limbah dapat diolah menjadi sesuatu bermanfaat,” ujar Siti.

Menurutnya, hasil pengolahan tersebut kemudian kembali kepada masyarakat dalam bentuk pangan yang bisa dimanfaatkan keluarga.

Program TUMANDUR mengusung tema pemberdayaan ibu-ibu PKK melalui transformasi limbah organik menjadi pupuk hayati cair.

Konsep tersebut memanfaatkan Smart Compost Vessel untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik cair dan kompos.

POC hasil pengolahan sampah organik dipanen pada 28 Juli 2026, kemudian kompos dipanen pada 14 Agustus 2026.

Pupuk yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk tanaman hingga menghasilkan sayuran yang dipanen bersama warga.

“Dari sampah menjadi pupuk, pupuk menyuburkan tanaman, kemudian tanaman menghasilkan pangan,” kata Siti.

Dalam kegiatan panen, ibu-ibu PKK bersama mahasiswa UGM memetik sayuran yang telah dibudidayakan menggunakan pupuk hasil olahan.

Hasil panen kemudian diolah dan dimasak bersama sebelum dinikmati warga dalam suasana kebersamaan.

Ketua PKK Kampung Jurugsari Rini berharap pengetahuan TUMANDUR terus diterapkan warga secara mandiri di lingkungan rumah.

“Sampah organik yang biasanya dibuang ternyata bisa diolah menjadi pupuk, digunakan menanam sayuran,” ujar Rini.

Dukuh Joho Retnaningsih menegaskan keberlanjutan menjadi tantangan setelah pendampingan mahasiswa UGM dalam program TUMANDUR berakhir.

“Pengetahuan dan keterampilan yang sudah diperoleh jangan berhenti ketika program selesai,” kata Retnaningsih.

TUMANDUR diharapkan memperkuat pekarangan produktif, pengelolaan sampah mandiri, sekaligus ketahanan pangan keluarga melalui siklus sederhana berkelanjutan. (ady)