Tak Gengsi Jadi Pedagang Durian, Mustofa Buktikan ASN Juga Bisa Berwirausaha

GERBANGPATRIOT.COM, PANDEGLANG – Profesinya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), tidak menghalangi Mustofa, untuk menjalankan usaha sampingannya secara mandiri sebagai tukang Kadu (Durian).

Diketahui, ia seorang ASN yang bertugas di Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Sekretariat Daerah (Setda) Pandeglang.

Setiap musim Kadu lokal Pandeglang tiba, Mustofa tak pernah absen untuk memanfaatkan momen tersebut dengan berjualan Kadu. Uniknya, ia tidak membuka lapak khusus. Penjualannya dilakukan secara sederhana, melalui status media soal WhatsApp (WA).

Meski begitu, usaha yang telah dijalankannya selama kurang lebih sembilan tahun itu, ternyata tidak sia-sia, dan bahkan ia memiliki pelanggan tetap.

Sejumlah pelanggannya, rela menunggu setiap kali Mustofa mulai menawarkan Kadu andalannya. Dan ia tak enggan untuk mengantarkan pesanan pelanggannya, sesuai kebutuhan.

Bagi Mustofa, usaha yang dijalankannya itu adalah halal. Rasa Kadu pilihan, menjadi prioritas utama, bukan sekadar ukuran besar atau kecilnya si buah Kadu.

“Rasa, lebih utama, ukuran buah Kadu nomor dua. Saya ingin pelanggan mendapatkan durian (Kadu) yang enak, dan sesuai dengan harapan mereka,” ujar Mustofa, tersenyum, Minggu (23/8/2026).

Ternyata, usaha tak memghianati hasil. Kini, pelanggannya-pun tidak hanya berasal dari Kabupaten Pandeglang. Penikmat dan pecinta Kadu-pyn, datang dari berbagai daerah, mulai dari Serang, Tangerang, Jakarta, hingga sejumlah wilayah diluar Pandeglang.

Menariknya, para pelanggan rela datang langsung ke rumah Mustofa, untuk mengambil dan memakan di tempat pesanannya. Namun, jika memiliki waktu luang, Mustofa juga bersedia mengantarkan pesanan atau melakukan delivery kepada pelanggan.

‎Selama sembilan tahun berjualan, Mustofa mengaku, tidak memiliki kebun atau pohon Kadu milik sendiri. Ia juga, tidak pernah melakukan borongan pohon Durian.

Bahkan, modal yang dimilikinya setiap musim Durian, terkadang sangat terbatas. Namun, berkat kepercayaan yang telah terbangun dengan para tengkulak, Mustofa tetap bisa menjalankan usahanya.

Sistemnya cukup sederhana. Mustofa mengambil Durian dari tengkulak, kemudian setelah dagangannya habis terjual, hasil penjualan langsung disetorkan.

“Kadang modal saya sedikit, bahkan pernah tidak punya modal sama sekali. Tapi Alhamdulillah, karena sudah dipercaya, saya bisa mengambil barang terlebih dahulu. Setelah habis, langsung saya setor,” ungkapnya.

Kepercayaan tersebut tidak datang begitu saja. Selama berjualan, Mustofa berusaha menjaga kualitas buah Durian yang dijualnya, agar pelanggan tidak kecewa.

‎Meski menjalani usaha sampingan itu, Mustofa atau ada juga yang menjulukinya “Mamang Duren”, memastikan aktivitas tersebut tidak mengganggu tugasnya sebagai ASN.

Pada jam kerja, ia tetap menjalankan rutinitas kedinasan seperti biasa. Aktivitas berjualan, dilakukan di luar waktu kedinasan dengan membagi waktu sebaik mungkin.

Bahkan, demi mendapatkan duren berkualitas, Mustofa terkadang harus mengambil pasokan hingga tengah malam, langsung dari kebun Durian.

Meski dijuluki “Mamang Duren”, tidak membuatnya malu dengan profesinya sebagai ASN. “Bagi saya, tidak perlu malu. Selama pekerjaan sebagai ASN tetap dijalankan dengan baik, dan usaha yang dilakukan halal, kenapa harus malu,” tandasnya.

‎Seorang tengkulak Durian di Pandeglang, Anen, mengaku telah lama mempercayai Mustofa. Setiap musim Durian lokal tiba, Anen selalu memberikan pasokan untuk dijual kembali oleh Mustofa.

“Saya sudah percaya, karena sistemnya ambil barang, setelah habis langsung setor,” ujar Anen.

Menurut Anen, Mustofa juga termasuk pedagang yang sangat memperhatikan kualitas rasa. Sehingga, hal itulah yang membuatnya salut dan ketekunannya pula yang membuatnya siap bermitra dengan Mustofa.

Kesetiaan pelanggan, menjadi salah satu bukti bahwa kualitas Durian Mustofa mendapat tempat tersendiri, bagi para penikmatnya.

Seorang pelanggan tetap, Ayi, mengaku rela datang dari wilayah selatan Pandeglang, setiap musim Durian tiba.

“Saya sudah percaya, karena kualitas rasanya selalu dijaga dan bisa memuaskan pembeli,” tutur Ayi.

Selama sembilan tahun, dari hanya menawarkan duren lewat status WhatsApp hingga memiliki pelanggan dari berbagai daerah, Mustofa membangun usahanya dengan tiga modal utama yaitu, rasa, kejujuran dan kepercayaan.

Bagi para pelanggan, Mustofa mungkin hanya dikenal sebagai “Mamang Duren”. Namun bagi dirinya, berjualan Durian bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan menjaga kepercayaan pelanggan, dan memperkenalkan kualitas Durian lokal Pandeglang. (denni)