Susanto; Sang Timur Diangkat Jadi Ikon Wisata Sejarah Kemantren Umbulharjo

GERBANGPATRIOT.COM, JOGJA – Sejarah Yayasan Sang Timur kembali diangkat melalui kegiatan City of Kemantren, menelusuri jejak pendidikan, kesehatan, dan perkembangan Kemantren Umbulharjo di Yogyakarta.

Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta Susanto Dwi Antoro mengatakan, kegiatan Babad City Kemantren tersebut menjadi upaya kreatif mengenalkan sejarah wilayah kepada masyarakat lebih luas lagi.

“Kegiatan hari ini bercerita tentang City of Kemantren dengan topik Yayasan Sang Timur,” ujar Susanto saat menghadiri kegiatan tersebut di Umbulharjo kini tersebut.

Menurut Susanto, keberadaan Sang Timur hampir bersamaan dengan berdirinya Kemantren Umbulharjo, sehingga sejarah keduanya memiliki keterkaitan penting dalam perkembangan kawasan hingga hari ini.

“Kalau boleh bercerita, Sang Timur ini hampir bersamaan ketika Kemantren Umbulharjo berdiri,” kata Susanto menjelaskan akar sejarah kawasan tersebut di sana hingga kini.

Susanto menjelaskan, kawasan tersebut sebelumnya berkaitan dengan wilayah Banguntapan Bantul sebelum pembentukan pemerintahan Kota Yogyakarta melalui pembagian wilayah pada masa lalu secara administratif.

“Sang Timur ditempatkan menjadi zona pendidikan dan layanan kesehatan,” ungkap Susanto, menegaskan peran strategis yayasan dalam membangun pelayanan masyarakat sejak awal hingga kini.

Selain Sang Timur, Susanto menyebut sejumlah penanda sejarah lain, seperti Sari Deli, SGM, SPBMA Mujamuju, Jogjatek Sorosutan, dan Akademi Penyelidik Pertanian di Umbulharjo.

“Ini akan menjadi satu penguat penanda bagaimana Kemantren Umbulharjo hadir, melengkapi menjadi 14 kemantren yang ada di Kota Yogyakarta,” tuturnya sebagai identitas wilayah.

Menurutnya, Sang Timur menarik karena memiliki perjalanan panjang dalam bidang pendidikan, mulai TK, SD, sekolah menengah, hingga lembaga pendidikan keguruan di Kota Yogyakarta.

“Selain pendidikan, dahulu ada poliklinik yang menjadi layanan kesehatan dan rumah sakit, sehingga tempat ini melayani masyarakat luas,” ujar Susanto bagi warga setempat.

Bangunan bersejarah di kawasan Sang Timur juga masih mempertahankan sejumlah fasad lama yang dinilai memiliki nilai sejarah dan berpotensi dilestarikan hingga kini terus.

Susanto menyebut lahan sekitar 3.000 meter persegi tersebut merupakan Sultan Ground, sehingga pemanfaatannya tetap dirawat sesuai peruntukan awalnya sampai sekarang oleh masyarakat tetap.

“Esensi dan substansinya tetap bagaimana Sang Timur menjadi nama legendaris yang dikenal masyarakat, terutama sebagai penanda sejarah Jalan Batikan,” katanya bagi generasi berikutnya.

Program City of Kemantren kini memasuki penyelenggaraan keempat, setelah sebelumnya mengangkat Warungboto, UST Mujamuju, serta Makam Jayabrata untuk menelusuri sejarah kawasan secara mendalam.

“Yang pertama Warungboto, kedua UST di Mujamuju, kemudian Makam Jayabrata, hari ini Pandean mengangkat Sang Timur,” jelas Susanto dalam rangkaian kegiatan sejarah Umbulharjo.

Ke depan, rangkaian Babad City of Kemantren direncanakan menyasar Giwangan, Sorosutan, dan Semaki, dengan menggali potensi sejarah serta kekuatan kawasan masing-masing secara berkelanjutan nantinya.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bagaimana ikon tersebut bisa diangkat menjadi city tour, baik berbasis kampung wisata, kemantren, maupun pokdarwis,” ujarnya untuk wisata sejarah.

Susanto berharap rangkaian sejarah Umbulharjo dapat menghubungkan Sang Timur dengan SGM, Sari Dele, Wisma PSIM, Mandala Krida, serta berbagai potensi lainnya ke depan.

“Rangkaian ini ingin mengangkat kekuatan yang ada di Umbulharjo, bukan hanya Sang Timur, tetapi seluruh potensi wilayah,” pungkas Susanto untuk masyarakat luas nantinya. (ADY)