GERBANGPATRIOT.COM, YOGYAKARTA – Fenomena burnout pada mahasiswa menjadi perhatian di tengah padatnya tuntutan akademik dan berbagai aktivitas nonakademik selama menjalani perkuliahan. Kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional tersebut perlu dikenali sejak dini karena dapat memengaruhi kesehatan mental serta performa akademik apabila tidak ditangani dengan tepat.
Pakar Psikologi Klinis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Arif Rizqi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menuturkan bahwa burnout merupakan kondisi yang dapat dialami mahasiswa. Namun, tidak semua mahasiswa mengalami burnout karena setiap individu memiliki faktor risiko dan faktor protektif yang berbeda.
“Fenomena burnout sebetulnya merupakan sesuatu yang bisa saja dialami oleh mahasiswa. Namun, faktor risiko dan faktor protektif yang dimiliki individu menjadikan seseorang akhirnya mengalami burnout atau tidak,” tutur Arif pada Jum’at (25/9).
Berdasarkan pengalamannya memberikan layanan konseling kepada mahasiswa di UMY, Arif mengatakan penyebab burnout yang paling sering ditemui adalah kurangnya kemampuan mahasiswa dalam menyeimbangkan tuntutan akademik dan nonakademik dengan manajemen diri.
“Faktor yang sering saya temukan saat konseling di UMY dan menyebabkan burnout pada mahasiswa adalah kurang mampu menyeimbangkan tuntutan akademik dan nonakademik dengan manajemen diri,” jelasnya.
Kenali Tanda-Tanda Burnout
Menurut Arif, burnout dapat dikenali melalui beberapa tanda, seperti kelelahan fisik yang berkepanjangan, emosi yang tidak stabil, munculnya rasa frustrasi, hingga hilangnya motivasi. Apabila tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental mahasiswa.
Ia menambahkan bahwa burnout juga dapat mengganggu proses belajar karena memengaruhi motivasi dan konsentrasi mahasiswa selama mengikuti perkuliahan maupun menyelesaikan tugas akademik.
“Burnout bisa berdampak pada kesehatan mental jika tidak ditangani dengan tepat. Selain itu, burnout juga bisa mengganggu performa akademik karena memengaruhi motivasi belajar dan konsentrasi,” ujarnya.
Sebagai salah satu upaya mengatasi burnout, Arif menjelaskan bahwa mindfulness dapat menjadi pendekatan yang membantu mahasiswa mengelola stres dan emosi. Praktik mindfulness dapat dilakukan melalui teknik deep breathing relaxation, visualisasi positif, dan afirmasi diri.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa mindfulness bukan satu-satunya cara. Pendekatan lain tetap dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan, kondisi psikologis, dan karakter setiap individu.
Sayangi dan Kenali Batas Kemampuan Diri
Di akhir wawancara, Arif mengajak mahasiswa untuk lebih mengenali dan menyayangi diri sendiri, serta memahami batas kemampuan dalam menghadapi berbagai tuntutan selama menjalani perkuliahan. Menurutnya, kemampuan mengelola diri menjadi langkah penting agar mahasiswa tidak terbebani secara berlebihan.
“Kenali dan sayangi diri kita, tahu akan batasan kemampuan diri dalam membawa beban. Tidak semua hal harus kita selesaikan saat itu juga, maka berlatih untuk manajemen diri. Gunakan dukungan yang ada dan tetaplah menjadi hamba Tuhan yang berserah diri,” pungkasnya. (LSI)
Sumber : humas umy















