GERBANGPATRIOT.COM, Bantul– Yayasan Mahasaba Purbakala Nusantara memperkuat kelembagaan dan menyiapkan agenda kebudayaan strategis untuk menghidupkan sejarah, merawat warisan leluhur, serta mengedukasi generasi muda.
Konsolidasi internal digelar di Burcek Omah Pleret, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (24/10/2026), dengan menghadirkan sejumlah tokoh lintas disiplin untuk membahas pengembangan program.
Pertemuan tersebut menjadi momentum menyatukan visi, merumuskan agenda prioritas, dan memastikan berbagai program kebudayaan berjalan konsisten, terarah, serta berkelanjutan bagi masyarakat luas.
Ketua Mahasaba Purbakala Nusantara, Sigit Sugito, menegaskan yayasan memiliki sejumlah visi utama, termasuk mendorong penetapan Hari Purbakala Nasional setiap 20 Juni.
Menurut Sigit, penetapan tersebut diharapkan dapat diperjuangkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) sebagai bentuk pengakuan terhadap pentingnya warisan purbakala bagi bangsa Indonesia.
Ia menjelaskan, yayasan juga berkomitmen menyelenggarakan kegiatan kebudayaan yang berakar pada sejarah, antropologi, dan arkeologi, sekaligus menjembatani pengetahuan masa lalu dengan kehidupan sekarang.
“Motto kita adalah membaca masa lalu, melakukan hari ini, dan membaca masa depan,” ujar Sigit saat menjelaskan arah gerakan kebudayaan yang dikembangkan yayasan.
Sigit menilai, transformasi pengetahuan mengenai situs dan artefak sejarah menjadi langkah penting untuk memperluas pemahaman publik sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap warisan budaya bangsa.
“Transformasi dari situs dan artefak sejarah ini penting untuk mengedukasi serta meliterasi generasi muda agar terus merawat kebudayaan bangsa,” tegasnya.
Menurut dia, pemajuan kebudayaan tidak cukup berhenti pada pelestarian benda bersejarah, tetapi juga perlu menghadirkan pengetahuan tersebut melalui kegiatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Mahasaba Purbakala Nusantara melibatkan beragam elemen masyarakat dalam keanggotaannya, mulai dari anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), budayawan, penyair, teaterawan, perupa, hingga aktivis.
Keberagaman latar belakang tersebut diharapkan memperkaya perspektif dalam merancang kegiatan kebudayaan yang terbuka, kreatif, dan mampu menjangkau berbagai kelompok masyarakat.
Sigit yang menegaskan perannya sebagai “aktor pemajuan kebudayaan” menyebut sejumlah agenda besar tengah dipersiapkan untuk memperkuat gerakan pelestarian sekaligus memperluas partisipasi publik.
Agenda tersebut meliputi Nyadran Agung, Festival Purbakala, dan Malioboro Writers, yang dirancang menjadi ruang pertemuan antara sejarah, tradisi, kreativitas, serta gagasan masyarakat.
Selain menyiapkan kegiatan, yayasan juga mematangkan pembentukan Dewan Kebudayaan Rakyat Nusantara sebagai bagian dari upaya memperkuat koordinasi dan memperluas kontribusi terhadap pemajuan kebudayaan.
Penyelesaian legalitas melalui akta notaris turut menjadi perhatian agar kelembagaan yayasan memiliki landasan hukum yang mendukung pelaksanaan program secara terstruktur dan berkelanjutan.
Sementara itu, Arya Ariyanto, yang membidangi sektor pariwisata di yayasan, menyoroti peluang mengembangkan sejarah dan arkeologi sebagai daya tarik wisata yang lebih komunikatif.
Arya menilai pendekatan bercerita atau storytelling dapat membantu masyarakat memahami nilai sejarah melalui narasi menarik, bukan sekadar menyajikan informasi mengenai situs dan artefak.
“Apa pun itu sebenarnya bisa dipariwisatakan,” ungkap Arya, menjelaskan peluang mengemas beragam potensi kebudayaan menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai edukasi.
“Jika aspek purbakala dan arkeologi digambarkan dengan storytelling yang menarik, ini akan sangat efektif untuk menyedot perhatian khalayak umum, khususnya generasi muda,” lanjutnya.
Menurut Arya, penyampaian sejarah melalui cerita yang mudah dipahami berpotensi memperluas jangkauan edukasi sekaligus memperkenalkan kekayaan purbakala kepada masyarakat yang lebih beragam.
Melalui konsolidasi ini, Mahasaba Purbakala Nusantara berharap program jangka pendek, menengah, dan panjang dapat terlaksana konsisten, sekaligus memperkuat keterlibatan generasi muda dalam merawat kebudayaan Nusantara.(waw)















