Dari Dapur hingga Demokrasi: Komunitas ‘Ibu Berisik’ Soroti Lonjakan Bahan Pokok dan Penyempitan Ruang Sipil di Titik Nol Jogja

Jumat, 30 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GERBANGPATRIOT.COM, Yogyakarta – Aksi kesepuluh kelompok Ibu Berisik kembali digelar di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Jumat (30/10/2026). Dalam aksi tersebut, para peserta menyuarakan berbagai kegelisahan masyarakat terhadap persoalan yang dinilai belum mendapat penyelesaian serius dari pemerintah.

Juru Bicara Ibu Berisik, Siti Fauziah, mengatakan aksi turun ke jalan tersebut merupakan bentuk pengingat kepada pemerintah agar tidak melupakan tanggung jawabnya terhadap rakyat.

Menurutnya, sejumlah persoalan yang selama ini disuarakan masyarakat masih belum mendapatkan penanganan sebagaimana mestinya.

“Aksi ini adalah seperti aksi-aksi sebelumnya, yaitu menyuarakan kegelisahan kita, menyuarakan permasalahan kita yang ternyata sampai hari ini tidak pernah diatasi oleh pemerintah,” ujar Siti Fauziah saat diwawancarai wartawan seusai aksi di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Jumat (30/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Siti membacakan empat poin tuntutan yang disuarakan dalam aksi kali ini. Pertama, mendesak pemerintah bekerja secara profesional dan tidak serampangan dalam mengelola negara, khususnya dalam menangani bencana agar dilakukan secara serius dan cepat.

Kedua, meminta pemerintah memprioritaskan belanja negara untuk menjaga stabilitas ekonomi serta memenuhi hak dasar masyarakat, mulai dari udara bersih, kesehatan, pendidikan hingga keterjangkauan harga bahan pokok.

Ketiga, menuntut penghentian intimidasi dan mobilisasi warga sebagai aparat keamanan tidak berseragam. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak diadu domba melalui kepentingan politik.

Keempat, mendesak pemerintah menjamin kebebasan berpendapat serta menghentikan tindakan sensor terhadap suara masyarakat di media sosial.

Siti juga menyampaikan kritik secara terbuka terkait dugaan pembungkaman terhadap suara rakyat. Menurutnya, kebebasan menyampaikan pendapat harus tetap dijaga.

“Ngapain, Pak, pakai disensor segala, ngapain pakai membungkam kami segala? Takut ya kalau kebenarannya terungkap?” ucapnya.

Tak hanya persoalan politik dan kebebasan berekspresi, Siti turut menyoroti kondisi ekonomi masyarakat. Ia menilai kenaikan harga kebutuhan pokok tidak sebanding dengan penghasilan masyarakat yang cenderung tetap.

Kondisi tersebut, menurutnya, membuat masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Sebagai rakyat ini kan tenang memikirkan kehidupan sehari-hari, ora usah wedi lek pamane ra iso mangan karena harga-harga melambung dan penghasilan kita tetap sama saja, enggak ikut melambung. Susah dong,” tuturnya.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB tersebut diakhiri dengan menyanyikan sejumlah lagu dan doa bersama. Siti berharap seluruh tuntutan yang disampaikan dapat benar-benar diperhatikan dan ditindaklanjuti pemerintah.

Ia berharap masyarakat tidak perlu kembali turun ke jalan untuk menyuarakan persoalan yang sama apabila pemerintah bersedia mendengarkan aspirasi rakyat.

“Semoga dipenuhi, semoga dilaksanakan. Jadi kami enggak perlu sampai turun ke jalan lagi,” katanya.

Menutup wawancara, Siti menyampaikan harapan agar pemerintah dapat lebih bijak dalam menjalankan tanggung jawabnya. Dengan nada satir, ia berharap pemerintah bisa lebih memahami kegelisahan masyarakat yang disuarakan melalui aksi tersebut. (Aga)

Berita Terkait

Belajar Dakwah di Negeri Sakura, Mahasiswa KPI UMY Jalani Magang Internasional di Japan Da’wah Centre
GKR Hemas Dorong Pemda Fasilitasi BIOSRA demi Bangkitkan Ekonomi Kreatif Berbasis Komunitas
UMY Perkuat Sinergi Pendidikan Hukum melalui Kerja Sama dengan Peradi Profesional
Perkuat Tali Silaturahmi dan Kepedulian, Pedagang Pasar Godean Inisiasi Dapur Kemanusiaan 4.000 Porsi
Tingkatkan Impact Factor Riset, UWM Gembleng Akademisi Lewat Metodologi Review dan Analisis Bibliometrik
Tinjau Sentra Bordir Joho, Komisi B DPRD DIY Komit Kawal Penguatan Modal dan Komersialisasi IKM
Bentuk Karakter Anak, SPS Asparagus II Sleman Kenalkan Kewirausahaan dan Budaya Lokal
Hasil Audiensi Pemuda Muhammadiyah DIY dan Promotor Andrea Bocelli: Promotor Beri Penjelasan Resmi

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:37 WIB

Dari Dapur hingga Demokrasi: Komunitas ‘Ibu Berisik’ Soroti Lonjakan Bahan Pokok dan Penyempitan Ruang Sipil di Titik Nol Jogja

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:31 WIB

Belajar Dakwah di Negeri Sakura, Mahasiswa KPI UMY Jalani Magang Internasional di Japan Da’wah Centre

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:17 WIB

GKR Hemas Dorong Pemda Fasilitasi BIOSRA demi Bangkitkan Ekonomi Kreatif Berbasis Komunitas

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:09 WIB

UMY Perkuat Sinergi Pendidikan Hukum melalui Kerja Sama dengan Peradi Profesional

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Perkuat Tali Silaturahmi dan Kepedulian, Pedagang Pasar Godean Inisiasi Dapur Kemanusiaan 4.000 Porsi

Berita Terbaru