Pakar UMY: Konflik Iran Jadi Momentum China Geser Hegemoni AS

GERBANGPATRIOT.COM, Ketidakterlibatan China dan Rusia secara langsung dalam konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS)–Israel dan Iran dinilai bukan sikap netral, melainkan bagian dari strategi geopolitik yang terukur.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ahmad Sahide, S.IP., M.A., menilai langkah kedua negara tersebut merupakan upaya untuk menggeser dominasi AS dalam tatanan global.

Menurutnya, China dan Rusia memiliki kepentingan strategis untuk membiarkan konflik berlangsung tanpa keterlibatan langsung di medan perang. Semakin lama konflik terjadi, semakin besar tekanan terhadap ekonomi dan kekuatan militer AS.

Momentum ini, tegas Sahide, menjadi peluang yang dimanfaatkan Beijing untuk memperkuat posisinya di panggung global.

“Jika perang ini berlangsung lama, ekonomi Amerika Serikat akan melemah. Itu menjadi kesempatan bagi China untuk mengambil alih supremasi global dari tangan AS,” ujarnya, Selasa (28/4).

Ia menambahkan bahwa kalkulasi tersebut bukan sekadar spekulasi akademis, melainkan sejalan dengan tren jangka panjang yang telah diprediksi banyak ilmuwan hubungan internasional. Sejumlah kajian bahkan memproyeksikan China akan melampaui AS sebagai kekuatan ekonomi dan politik utama dunia dalam 10 hingga 15 tahun ke depan.

Dalam pandangan Sahide, konflik Iran berpotensi menjadi akselerator dari proyeksi tersebut. Ia mencontohkan insiden penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang tidak direspons secara militer oleh AS maupun NATO sebagai indikasi melemahnya pengaruh Amerika di tingkat global.

Sahide juga menilai keputusan China dan Rusia untuk tidak terlibat langsung tidak lepas dari kekhawatiran terhadap eskalasi konflik yang lebih luas. Keterlibatan terbuka berisiko memicu konfrontasi antarnegara berkekuatan nuklir dan membuka kemungkinan terjadinya perang global.

Karena itu, China dinilai memilih strategi tidak langsung yang lebih aman, namun tetap efektif dalam memperkuat pengaruhnya.

“Di sisi lain, gelombang demonstrasi juga terjadi di berbagai kota di Amerika sebagai respons publik terhadap keterlibatan militer yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kepentingan domestik. Tekanan internal ini semakin memperkuat posisi China yang memilih menunggu sambil mengonsolidasikan kekuatannya,” pungkasnya. (LSI)

Sumber : Humas Umy