Pakar UMY: Konflik Iran Jadi Momentum China Geser Hegemoni AS

Selasa, 28 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

dosen HI UMY, Dr. Ahmad Sahide, S.IP., M.A

dosen HI UMY, Dr. Ahmad Sahide, S.IP., M.A

GERBANGPATRIOT.COM, Ketidakterlibatan China dan Rusia secara langsung dalam konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS)–Israel dan Iran dinilai bukan sikap netral, melainkan bagian dari strategi geopolitik yang terukur.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ahmad Sahide, S.IP., M.A., menilai langkah kedua negara tersebut merupakan upaya untuk menggeser dominasi AS dalam tatanan global.

Menurutnya, China dan Rusia memiliki kepentingan strategis untuk membiarkan konflik berlangsung tanpa keterlibatan langsung di medan perang. Semakin lama konflik terjadi, semakin besar tekanan terhadap ekonomi dan kekuatan militer AS.

Momentum ini, tegas Sahide, menjadi peluang yang dimanfaatkan Beijing untuk memperkuat posisinya di panggung global.

“Jika perang ini berlangsung lama, ekonomi Amerika Serikat akan melemah. Itu menjadi kesempatan bagi China untuk mengambil alih supremasi global dari tangan AS,” ujarnya, Selasa (28/4).

Ia menambahkan bahwa kalkulasi tersebut bukan sekadar spekulasi akademis, melainkan sejalan dengan tren jangka panjang yang telah diprediksi banyak ilmuwan hubungan internasional. Sejumlah kajian bahkan memproyeksikan China akan melampaui AS sebagai kekuatan ekonomi dan politik utama dunia dalam 10 hingga 15 tahun ke depan.

Dalam pandangan Sahide, konflik Iran berpotensi menjadi akselerator dari proyeksi tersebut. Ia mencontohkan insiden penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang tidak direspons secara militer oleh AS maupun NATO sebagai indikasi melemahnya pengaruh Amerika di tingkat global.

Sahide juga menilai keputusan China dan Rusia untuk tidak terlibat langsung tidak lepas dari kekhawatiran terhadap eskalasi konflik yang lebih luas. Keterlibatan terbuka berisiko memicu konfrontasi antarnegara berkekuatan nuklir dan membuka kemungkinan terjadinya perang global.

Karena itu, China dinilai memilih strategi tidak langsung yang lebih aman, namun tetap efektif dalam memperkuat pengaruhnya.

“Di sisi lain, gelombang demonstrasi juga terjadi di berbagai kota di Amerika sebagai respons publik terhadap keterlibatan militer yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kepentingan domestik. Tekanan internal ini semakin memperkuat posisi China yang memilih menunggu sambil mengonsolidasikan kekuatannya,” pungkasnya. (LSI)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Malioboro Kembali Bersih Usai WJNC, Petugas Kebersihan Jadi Garda Terdepan
WJNC 2026 Meriahkan HUT ke-270 Yogyakarta, Malioboro Menjadi Panggung Budaya
Rayakan HUT ke-270 Yogyakarta, KAWAL Indonesia Gaungkan Kepedulian Budaya dan Lingkungan
Dari Yogyakarta ke Jakarta, Presidenmusikindo Gebrak Panggung Talenta Muda
Kustomfest 2026 Jual 27 Kaos Limited Edition dan Lelang Helm, Dibuka Mulai Rp5 Juta
Malam Berbagi Jogja Kumpulkan Donasi Rp909 Juta, Pemerintah Kota Yogyakarta dan BAZNAS Target Bedah 52 Rumah
Sleman Ajak Pelajar Lawan Kekerasan, Tawuran dan Radikalisme Bersama
WNA Makin Ramai Naik Kereta, Konektivitas Wisata Daop 6

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Malioboro Kembali Bersih Usai WJNC, Petugas Kebersihan Jadi Garda Terdepan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:31 WIB

WJNC 2026 Meriahkan HUT ke-270 Yogyakarta, Malioboro Menjadi Panggung Budaya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:10 WIB

Dari Yogyakarta ke Jakarta, Presidenmusikindo Gebrak Panggung Talenta Muda

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Kustomfest 2026 Jual 27 Kaos Limited Edition dan Lelang Helm, Dibuka Mulai Rp5 Juta

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Malam Berbagi Jogja Kumpulkan Donasi Rp909 Juta, Pemerintah Kota Yogyakarta dan BAZNAS Target Bedah 52 Rumah

Berita Terbaru