Tari Gedruk dan Hadrah Serukan Persatuan, UGM Jadi Panggung Harmoni Kebangsaan

GERBANGPATRIOT.COM, SLEMAN – Aksi budaya yang memadukan tari gedruk, hadrah, jathilan, dan pelepasan merpati perdamaian mewarnai kawasan Bundaran UGM, Sabtu (30/5/2026).

Puluhan anak muda yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pecinta dan Pelestari Budaya Indonesia memilih menyampaikan aspirasi melalui kesenian tradisional sebagai simbol persatuan dan penolakan terhadap segala bentuk provokasi di tengah masyarakat.

Di tengah lalu lintas kendaraan dan aktivitas mahasiswa, para peserta membentangkan sejumlah poster bertuliskan “Kembalikan Marwah UGM”, “Hati-hati Lewat Provokasi UGM”, dan “Jaga Jogja”.

Namun alih-alih melakukan orasi keras, mereka menghadirkan pertunjukan budaya sebagai sarana menyampaikan pesan kebangsaan.

“Kami sengaja menggunakan pendekatan budaya karena budaya mengajarkan kebersamaan dan gotong royong. Indonesia ini besar karena mampu menyatukan banyak perbedaan,” ujar Koordinator Umum aksi, Ahmad Tommy Wijaya.

Tommy menegaskan bahwa budaya memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial di tengah derasnya arus informasi dan perdebatan publik.

Menurutnya, kesenian tradisional yang tumbuh dari akar budaya bangsa mampu menjadi media yang efektif untuk mengajak masyarakat memperkuat persatuan.

“Budaya adalah identitas bangsa yang mengajarkan toleransi, kebersamaan, dan persaudaraan. Karena itu kami memilih budaya sebagai bahasa perdamaian,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga menyampaikan keprihatinan terhadap berkembangnya berbagai narasi yang dinilai berpotensi memperuncing perbedaan di tengah masyarakat.

Mereka menilai ruang intelektual, termasuk kampus, semestinya menjadi tempat lahirnya gagasan yang mencerahkan dan memberikan solusi bagi persoalan bangsa.

“Kritik adalah bagian dari demokrasi, tetapi kritik harus dibangun di atas data, kajian, dan semangat perbaikan, bukan narasi yang menimbulkan keresahan publik,” tegas Tommy.

Massa aksi turut mengajak Universitas Gadjah Mada untuk terus menjaga perannya sebagai kampus kebangsaan yang melahirkan pemikiran-pemikiran besar bagi Indonesia.

Mereka berharap UGM tetap menjadi rumah ilmu pengetahuan yang menjunjung tinggi nilai akademik serta mampu menjaga suasana yang kondusif bagi tumbuhnya dialog yang sehat.

“UGM adalah simbol intelektualitas dan kebangsaan. Kami berharap kampus ini tetap menjadi rumah ilmu pengetahuan yang menghadirkan solusi, bukan ruang yang memunculkan kegaduhan atau polarisasi,” ujarnya.

Menjelang berakhirnya kegiatan, beberapa ekor merpati putih dilepaskan ke udara sebagai simbol perdamaian dan harapan.

Burung-burung tersebut terbang mengitari kawasan kampus sebelum menghilang di langit senja Yogyakarta. Bagi para peserta, momen itu menjadi pesan bahwa persatuan harus terus dijaga di atas segala perbedaan.

“Indonesia akan tetap kuat ketika persatuan ditempatkan di atas kepentingan yang memecah belah. Itulah pesan yang ingin kami sampaikan melalui budaya,” pungkas Tommy.(waw)