Olahan Singkong Jadi Sushi, Untirta Dorong Kreativitas Pangan Lokal di Pasanggrahan

GERBANGPATRIOT.COM, Pabuaran – Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Kelompok 2 dalam mata kuliah Ketahanan Pangan menggelar kegiatan “Workshop Pemanfaatan Singkong menjadi Sushi (Sukong) sebagai Alternatif Sumber Karbohidrat Pengganti Nasi” di Kantor Desa Pasanggrahan, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Rabu (3/6/2026) pukul 14.00 WIB sampai selesai.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari projek mata kuliah Ketahanan Pangan yang diampu oleh Rahmi Hidayati, S.Sos., M.A. Workshop tersebut menyasar ibu-ibu PKK dan masyarakat Desa Pasanggrahan dengan tujuan memperkenalkan singkong sebagai pangan lokal yang dapat diolah menjadi produk kreatif, menarik, dan bernilai tambah.

Sukong merupakan inovasi olahan singkong yang terinspirasi dari bentuk sushi. Dalam produk ini, singkong digunakan sebagai pengganti nasi, kemudian dipadukan dengan nori, telur, wortel, timun, serta isian lain sesuai selera. Produk ini diperkenalkan sebagai alternatif sumber karbohidrat pengganti nasi sekaligus sebagai contoh pemanfaatan pangan lokal yang mudah diibuat di rumah.

Program ini dilatarbelakangi oleh kuatnya ketergantungan masyarakat terhadap nasi sebagai makanan pokok. Padahal, sumber karbohidrat tidak hanya berasal dari beras. Maka dari itu, singkong dipilih karena menjadi salah satu pangan lokal yang mudah ditemukan, harganya terjangkau, dan juga dapat diolah menjadi berbagai produk pangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mendorong masyarakat agar lebih kreatif dalam memanfaatkan bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar mereka.

Ketua pelaksana kegiatan, Vincent Tanvaltin, menyampaikan bahwa workshop Sukong dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat dalam mengolah singkong menjadi makanan yang lebih modern dan menarik.

“Kegiatan ini kami buat agar masyarakat dapat melihat bahwa singkong tidak hanya bisa direbus, digoreng, atau dijadikan keripik saja, tetapi juga bisa diolah menjadi produk yang lebih kreatif seperti Sukong. Harapannya, ibu-ibu dapat mempraktikkan kembali di rumah sebagai menu keluarga atau bahkan dikembangkan menjadi ide usaha rumahan,” ujarnya.

Materi kegiatan mencakup pemahaman tentang ketahanan pangan, pengenalan singkong sebagai pangan lokal, contoh olahan singkong, manfaat, dan kandungan gizi singkong, serta pengenalan Sukong sebagai produk inovatif. Setelah sesi penyuluhan, peserta mengikuti praktik sederhana pembuatan Sukong mulai dari pengolahan singkong, penyiapan bahan, penggulungan, pemotongan hingga penyajian.

Hj. Ratu Sukaesih selaku Kaur Perencanaan dan Pelaporan Desa Pasanggrahan menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat, khususnya dalam mengolah singkong menjadi produk yang berbeda dari biasanya.

“Alhamdulillah, sekarang kami jadi tahu bahwa singkong tidak hanya bisa dibuat keripik, direbus, atau digoreng saja, tetapi juga bisa dibuat menjadi sushi. Caranya juga sudah diajarkan. Insyaallah nanti akan kami praktikkan di rumah dan kalau ada kegiatan PKK, akan kami coba juga.” ungkapnya.

Ia juga berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan di Desa Pasanggrahan dengan jenis olahan pangan lokal lainnya.

“Harapannya, ke depan mahasiswa Kelompok 2 bisa mengajarkan lagi kepada ibu-ibu PKK dan masyarakat desa. Hari ini singkong bisa dibuat menjadi sushi, ke depannya mungkin bisa ada olahan lain yang belum kami ketahui dan bisa diajarkan kepada masyarakat.” tambahnya.

Salah satu peserta workshop, Herni Juwita, mengaku senang dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa Untirta. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesan positif karena peserta dapat belajar sekaligus praktik secara langsung.

“Perasaannya saya sangat bahagia dan gembira dengan adik-adik mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Kegiatan workshop Sukong ini memberikan kesan yang baik untuk ibu-ibu di sini. Semoga adik-adik Untirta terus menambah wawasan dan bisa membantu serta membimbing ibu-ibu di masyarakat ke depannya,” tuturnya.

Herni juga menyebut bahwa bagian paling berkesan dari kegiatan tersebut adalah kebersamaan antara peserta dan mahasiswa saat praktik membuat Sukong

“Acara yang paling seru tadi adalah kebersamaan saat membuat SUKONG bersama ibu-ibu PKK dan adik-adik mahasiswa. Itu yang paling berkesan. Alhamdulillah adik-adik mahasiswa mau berkunjung ke PKK Desa Pasanggrahan,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Pasanggrahan memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengolah singkong menjadi produk pangan yang lebih menarik. Sukong diharapkan dapat menjadi alternatif menu keluarga, bekal anak, sekaligus inspirasi pengembangan olahan pangan lokal yang mendukung ketahanan pangan masyarakat.

Program penyuluhan dan workshop Sukong menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendorong pemanfaatan pangan lokal, mengurangi ketergantungan terhadap beras, serta memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya ketahanan pangan berbasis potensi desa. (rel)