Disertasi Doktor UMY Kembangkan Instrumen Asesmen untuk Terapi Ruqyah Syar’iyyah

GERBANGPATRIOT.COM, Pengembangan kajian ilmiah mengenai ruqyah syar’iyyah masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam penyusunan instrumen yang dapat membantu proses asesmen pasien secara lebih sistematis. Selama ini, sebagian besar penelitian lebih banyak mengkaji ruqyah sebagai terapi pendamping untuk mengurangi kecemasan atau depresi, sementara penelitian mengenai klasifikasi kondisi pasien non-medis serta penerapannya dalam layanan kesehatan masih relatif terbatas.

Berangkat dari kondisi tersebut, Dr. Muhammad Faizar H., M.Pd., mengembangkan sejumlah instrumen asesmen dalam disertasinya yang berjudul Peran ‘Ruqyah Syar’iyyah untuk Meningkatkan Kesadaran Spiritual Pasien Non-Medis’. Instrumen tersebut dirancang untuk membantu proses identifikasi awal terhadap kondisi pasien sekaligus memberikan kerangka kerja yang lebih sistematis dalam pelaksanaan terapi ruqyah syar’iyyah sebagai terapi komplementer.

“Sebagian penelitian terdahulu tentang ruqyah masih banyak berfokus pada populasi tertentu, seperti pasien kanker, korban KDRT, atau individu dengan gangguan mental secara umum. Sementara itu, kajian mengenai pasien dengan indikasi gangguan non-medis masih belum banyak disusun secara sistematis dalam konteks terapi komplementer. Selain itu, dampaknya terhadap kesadaran spiritual, perubahan kualitas ibadah, pemulihan makna hidup, dan perilaku keagamaan pasien juga belum banyak dieksplorasi secara mendalam,” jelasnya dalam Ujian Terbuka Disertasi Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam UMY, Rabu (8/7/2026).

Dalam penelitiannya, Faizar mengembangkan SGR Scoring System sebagai instrumen skrining awal untuk membantu proses asesmen pasien. Instrumen tersebut menilai tiga aspek utama, yakni sikap, gangguan dalam pelaksanaan ibadah, serta riwayat praktik tertentu yang menjadi bagian dari proses asesmen sebelum terapi dilakukan.

Selain itu, ia juga merancang tiga instrumen klasifikasi lanjutan yang disusun dalam bentuk akronim, yaitu TUMBAL, BUSET, dan JIMAT. Ketiga instrumen tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan prosedur skrining maupun asesmen yang telah diterapkan di rumah sakit, melainkan sebagai perangkat pendukung dalam mengelompokkan indikasi yang ditemukan selama proses terapi komplementer.

“Hubungan SGR Scoring System dengan tiga akronim tersebut bukan hubungan yang saling menggantikan. SGR berfungsi sebagai skrining awal dalam terapi komplementer, sedangkan ketiga akronim tersebut merupakan instrumen klasifikasi lanjutan. Dengan demikian, seluruh instrumen ini bersifat komplementer dan bukan korektif terhadap sistem asesmen yang telah digunakan di rumah sakit,” paparnya.

Selain mengembangkan instrumen asesmen, Faizar juga merumuskan tiga pendekatan dalam pelaksanaan terapi ruqyah syar’iyyah berdasarkan hasil penelitiannya. Ketiga pendekatan tersebut meliputi penggunaan intonasi dan ritme bacaan ayat Al-Qur’an, pemilihan ayat yang disesuaikan dengan kondisi pasien, serta metode tambahan yang diterapkan pada kondisi tertentu.

“Penggunaan intonasi dan ritme bacaan menjadi metode yang paling dominan diterapkan dalam terapi, sedangkan metode tambahan digunakan secara lebih selektif sesuai kondisi pasien. Model ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi pengembangan kajian ruqyah syar’iyyah yang lebih sistematis serta memiliki landasan akademik yang lebih kuat,” ungkapnya.

Melalui pengembangan instrumen asesmen dan model terapi tersebut, Faizar berharap penelitiannya dapat memberikan kontribusi akademik dalam memperkaya kajian mengenai ruqyah syar’iyyah, khususnya sebagai terapi komplementer yang mendukung pelayanan kesehatan secara holistik tanpa menggantikan penanganan medis yang telah ada. (LSI)

sumber : humas umy