Prioritas Pimpinan Bisa Membuat Pekerjaan Penting Lain Terlupakan

Sabtu, 11 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto iluistrasi

Foto iluistrasi

Oleh : Nazerwan Radis, S.T.,

GERBANGPATRIOT.COM, Nazerwan Radis, S.T., sebagai Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, di bawah bimbingan Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum., menulis kajian studi kasus ini dengan tujuan menjadikan pengalaman profesional sebagai peluang belajar, sekaligus melatih kompetensi menyelesaikan masalah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajari di kampus. Dalam kajian tersebut, ia melihat bahwa dalam organisasi teknis, perhatian manajemen sering diarahkan pada isu yang paling kritis, seperti keandalan pasokan, kesiapan kontrak, dan ketersediaan unit. Akibatnya, tugas administratif yang dianggap kurang mendesak dapat tertinggal bila tidak ada sistem paralel yang mendukung. Bagi Nazerwan, kondisi ini memperlihatkan bagaimana prioritas organisasi dibentuk dan diikuti oleh anggota.

Penyebab utamanya adalah: (1) belum optimalnya pembagian porsi perhatian; dan (2) belum memadainya otomasi untuk menangani pekerjaan administratif secara bersamaan. Dampaknya, pegawai menjadi sangat fokus pada: (1) target teknis utama; dan (2) penyelesaian kontrak, tetapi ada risiko ketidakseimbangan antara ketepatan operasional dan ketertiban administrasi.

Nazerwan mengusung “Agenda Setting Theory” atau teori penetapan agenda (Dearing & Rogers, 1996; McCombs, 2004). Teori ini menjelaskan bahwa isu yang dianggap penting oleh pimpinan akan menjadi fokus perhatian anggota organisasi. Pimpinan tidak selalu mengatur pekerjaan secara mikro, tetapi menentukan agenda utama yang kemudian membentuk prioritas kerja kolektif. Dalam konteks ini, keandalan sistem menjadi agenda dominan, sementara pekerjaan pendukung perlu diatur agar tidak tertinggal.

Solusi jika Dilihat dengan “Agenda Setting Theory”

Solusi yang ia tawarkan adalah: (1) penetapan agenda kerja yang jelas melalui rapat koordinasi; (2) penyusunan KPI yang mampu mengarahkan fokus kerja; dan (3) monitoring berkala terhadap progres pekerjaan. Ia juga melihat bahwa kuliah teori manajemen bukan sekadar menghafal konsep, melainkan melatih intuisi manajerial dalam membaca keputusan operasional. Prof. Dr. Junaidi, S.S., M.Hum. menanggapi bahwa gagasan ini kuat, tetapi perlu dilengkapi mekanisme agar prioritas utama tidak membuat fungsi pendukung kehilangan perhatian.

Pada bagian akhir kajian, Nazerwan Radis juga meminta pandangan sahabatnya, Dr. Chandra Bagus sebagai Masyarakat yang ikut mendalami ilmu manajemen dari sudut pandang kerja dan kehidupan organisasi. Menurut Chandra, pengalaman kerja yang ditulis Nazerwan akan lebih tajam jika prioritas kerja tidak hanya dilihat sebagai daftar tugas, tetapi sebagai agenda yang membentuk perhatian seluruh organisasi. Merujuk pada Miles (2012), “Agenda Setting Theory” dapat dipakai untuk melihat: (1) isu mana yang dianggap paling penting (agenda); (2) seberapa besar perhatian pegawai diarahkan ke isu itu (attention); (3) bagaimana masalah dibingkai oleh pimpinan (framing); (4) apakah isu itu dibuat terasa mendesak dan penting (salience); (5) apakah pegawai membutuhkan arahan agar tidak bingung menentukan fokus (need for orientation); serta (6) bagaimana prioritas kerja dipilih dan disusun (issue prioritization). Dengan begitu, teori membantu membaca mengapa pekerjaan teknis bisa sangat dominan, sementara pekerjaan administratif mudah tertinggal.(*)

Berita Terkait

Jawab Keresahan Soal LKS Mahal, Bupati Aep Gratiskan Modul Siswa SD-SMP di Karawang
Olahan Singkong Jadi Sushi, Untirta Dorong Kreativitas Pangan Lokal di Pasanggrahan
Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Gagas Penguatan Literasi Akademik Mahasiswa Indonesia di Kairo
KMHDI Gelar Kongres Nasional Mahasabha XIV di Lampung, Fokus Akselerasi Pembangunan Bangsa
Siaga Bencana, Mahasiswa KKM Tematik Untirta Kelompok 7 Sosialisasi Destana di Desa Ciparahu
Tim Debat Bahasa Arab UMY Raih Juara II Nasional di MTQMN 2025 Kalimantan Selatan
PENDEKATAN MULTI DISIPLIN DALAM KUANTUM EKONOMI
FAKTA ARKEOLOGIS DAN SEJARAH KERAJAAN GALUNGGUNG

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:06 WIB

Jawab Keresahan Soal LKS Mahal, Bupati Aep Gratiskan Modul Siswa SD-SMP di Karawang

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:17 WIB

Prioritas Pimpinan Bisa Membuat Pekerjaan Penting Lain Terlupakan

Senin, 8 Juni 2026 - 09:51 WIB

Olahan Singkong Jadi Sushi, Untirta Dorong Kreativitas Pangan Lokal di Pasanggrahan

Sabtu, 4 April 2026 - 08:50 WIB

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Gagas Penguatan Literasi Akademik Mahasiswa Indonesia di Kairo

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:55 WIB

KMHDI Gelar Kongres Nasional Mahasabha XIV di Lampung, Fokus Akselerasi Pembangunan Bangsa

Berita Terbaru

JAWA TENGAH

Mahasiswa UGM Ajak Warga Pokoh Kidul Waspada Penipuan Digital

Sabtu, 12 Sep 2026 - 09:50 WIB