Monumen Brimob Rewulu Abadikan Jejak Pertempuran Berdarah Demi Kemerdekaan Indonesia

GERBANGPATRIOT.COM, ‎Bantul – Monumen Brimob Rewulu di Bantul menjadi saksi bisu pertempuran berdarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Serangan Umum 1 Maret 1949 yang bersejarah. Monumen berlokasi di Padukuhan Sengon Karang, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, menyimpan kisah heroik perjuangan pejuang melawan pasukan Belanda dengan gagah.

Juru kunci Monumen Brimob Rewulu, Cahyo Sumirat, mengatakan kawasan tersebut masih dihormati masyarakat sebagai tempat mengenang jasa para pejuang hingga sekarang. “Setiap peringatan 17 Agustus, tempat ini menjadi pusat kegiatan masyarakat,” ujar Cahyo, menggambarkan antusiasme warga menjaga warisan sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Menurut Cahyo, masyarakat rutin menggelar tirakatan, jalan sehat, mancing bersama, hingga pentas seni sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan terdahulu bersama. “Kami ingin generasi sekarang tetap mengenang perjuangan para leluhur yang telah gugur di tempat ini,” tegas Cahyo mengajak masyarakat menghargai sejarah bangsa.

Ia menjelaskan pertempuran Rewulu pecah setelah Belanda melakukan operasi penyisiran sebagai balasan atas keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

Pasukan Belanda bergerak menuju wilayah barat memburu pejuang Republik Indonesia, sementara pasukan gabungan bertahan mempertahankan posisi strategis di bukit Rewulu dengan gigih. “Di lokasi ini terjadi pertempuran yang sangat hebat,” ungkap Cahyo mengenang peristiwa bersejarah yang menelan korban besar demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sebanyak 102 pejuang gugur, terdiri 16 anggota Brigade Mobil, dua prajurit TNI, serta puluhan pejuang sipil mempertahankan tanah air tanpa menyerah. “Peristiwa itu menjadi bagian penting sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan,” kata Cahyo, menegaskan pengorbanan para pahlawan tidak boleh dilupakan oleh generasi penerus.

Relief di kompleks monumen menggambarkan dahsyatnya pertempuran, termasuk pembakaran rumah-rumah warga oleh pasukan Belanda selama operasi militer berlangsung saat itu. “Kami berharap monumen ini semakin diperhatikan pemerintah maupun Korps Brimob,” ujar Cahyo, agar nilai sejarahnya terus diwariskan kepada masyarakat luas Indonesia.

Ia menegaskan Monumen Brimob Rewulu bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol keberanian, pengorbanan, serta semangat mempertahankan kemerdekaan bangsa sepanjang masa bersama. “Dulu anggota Brimob yang baru sering datang untuk orientasi dan napak tilas sejarah,” kata Cahyo mengenang tradisi pembelajaran perjuangan para pahlawan.

Kini Monumen Brimob Rewulu tetap dimanfaatkan sebagai lokasi napak tilas, ziarah sejarah, serta edukasi agar semangat perjuangan pejuang terus menginspirasi generasi muda Indonesia.(waw)