Menjaga Tawa di Tenda Duka: Langkah Kemanusiaan Mahasiswa UMY di Sambi Rampas
GERBANGPATRIOT.COM, YOGYAKARTA – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 tidak hanya menjadi catatan bencana bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri 3T Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Peristiwa tersebut mengubah ruang pengabdian Tim Proyek Ekspedisi Nusantara (PENA) 11 menjadi ruang aksi kemanusiaan.
Program yang sebelumnya telah disiapkan pun disesuaikan dengan kebutuhan warga. Mahasiswa kini terlibat dalam pengelolaan dapur umum, pelayanan kesehatan, pendataan, distribusi logistik, hingga pendampingan anak-anak di pengungsian.
Tim PENA 11 merupakan salah satu kelompok KKN UMY yang ditempatkan di Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Sebelumnya, UMY mencatat sebanyak 35 mahasiswa PENA bertugas di wilayah tersebut ketika gempa utama terjadi.
Wakil Ketua PENA 11, Elsama Rene Arifial, mengatakan mahasiswa membagi diri ke sejumlah titik yang masih membutuhkan dukungan.
“Sejak pagi, kami fokus menjalankan program kemanusiaan dan bantuan pascabencana. Anggota kami sebar ke titik-titik rawan dan posko yang masih mengalami keterbatasan air, makanan, obat-obatan, hingga tenaga medis,” ujar Elsama, Senin (24/8).
Ketika Program KKN Berubah Menjadi Aksi Kemanusiaan
Kondisi pascagempa membuat berbagai program KKN harus menyesuaikan diri. Tim yang sebelumnya menjalankan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), misalnya, kini ikut membantu pelayanan kesehatan masyarakat. Mahasiswa lainnya terlibat dalam pendataan warga, distribusi logistik, dan pengelolaan kebutuhan posko.
Keterbatasan obat-obatan dan dukungan medis masih menjadi salah satu tantangan di lapangan. Sebelumnya, anggota PENA 11 juga melaporkan bahwa warga di Sambi Rampas membutuhkan dukungan medis, logistik, dan kebutuhan dasar lainnya.
“Khusus untuk lansia, ada penanganan tersendiri dari tim kesehatan kami. Tugas utama mereka adalah memantau dan memeriksa kondisi kesehatan para lansia di sekitar posko,” jelas Elsama.
Kebutuhan pangan juga harus dipenuhi setiap hari. Mahasiswa bersama warga menyiapkan dapur umum dengan memanfaatkan bahan pangan yang masih tersedia di sekitar lokasi. Ketika pasokan sayuran dan bahan makanan terbatas, mereka berupaya memanfaatkan hasil kebun atau ladang yang masih dapat digunakan untuk dimasak bersama.
Dukungan dari UMY dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) turut memperkuat penanganan di lapangan melalui bantuan logistik dan dukungan terhadap posko kemanusiaan. Penanganan kesehatan juga melibatkan tenaga medis dan tenaga kesehatan yang berkolaborasi dengan warga serta relawan.
Bertahan Bersama Warga
Bagi mahasiswa, mendampingi warga tidak selalu berarti melakukan pekerjaan besar. Ada anak-anak yang membutuhkan ruang bermain, lansia yang perlu diperiksa kondisi kesehatannya, hingga keluarga yang harus memastikan kebutuhan makan hari itu tetap terpenuhi.
“Kami hadir sekaligus untuk menghibur anak-anak. Kami melakukan pendekatan emosional terhadap masyarakat di sana dan beberapa tindakan promotif,” ujar Elsama.
Rasa kebersamaan semakin terasa ketika mahasiswa melebur dengan warga di dapur umum, posko pengungsian, dan lokasi ibadah sementara. Di Dusun Biting, misalnya, kerusakan bangunan masjid tidak menghentikan aktivitas keagamaan. Mahasiswa bersama warga membantu mendirikan musala sementara di halaman masjid agar salat berjemaah tetap dapat dilaksanakan.
Di balik aktivitas kemanusiaan tersebut, mahasiswa juga menghadapi tekanan psikologis akibat gempa susulan yang masih terjadi. BMKG mencatat hingga 20 Agustus 2026 terdapat ribuan aktivitas gempa susulan setelah gempa utama M7,7, dengan magnitudo terbesar mencapai M6,2. Sambi Rampas juga masih merasakan sejumlah guncangan susulan.
“Skalanya tidak kecil, beberapa kali di atas magnitudo 5,” ungkap Elsama. “Itu membuat kami sering kali cemas dan waswas, terutama saat guncangan kembali terasa ketika kami sedang berada di dalam bangunan.”
Meski ikut merasakan kekhawatiran, mahasiswa memilih tetap mendampingi warga. PENA 11 terus menyesuaikan kegiatan berdasarkan kebutuhan di lapangan, termasuk membantu distribusi bantuan yang dititipkan keluarga besar PENA.
Bagi Elsama dan rekan-rekannya, KKN pada akhirnya tidak lagi hanya tentang menjalankan program yang telah dirancang sebelum keberangkatan. Pengabdian justru menemukan bentuknya dalam aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan warga, mulai dari memasak bersama, mendirikan tenda, memeriksa kesehatan lansia, menemani anak-anak, hingga tetap hadir ketika masyarakat membutuhkan dukungan.
“Terlepas dari rasa takut yang kami miliki, kami ingin terus bertahan mendampingi warga. Bagi kami, hadir di sini bukan sekadar memberi bantuan, melainkan tentang menjaga tawa dan menghadirkan rasa aman di tengah duka mereka,” tutur Elsama. (GLA)
Sumber : humas umy

