Situasi Memanas, Warga dan Demonstran Saling Dorong di Tengah Aksi

GERBANGPATRIOT.COM, YOGYAKARTA — Aksi unjuk rasa mahasiswa di kawasan Perempatan Gramedia, Yogyakarta, berujung ricuh setelah terjadi ketegangan antara peserta aksi dan warga pada Senin (1/9/2026) malam. Kericuhan terjadi setelah warga meminta mahasiswa membubarkan diri karena aksi dinilai telah melewati batas waktu dan mengganggu aktivitas pengguna jalan.

Aksi mahasiswa diketahui berlangsung sejak sekitar pukul 15.00 WIB dan bertahan hingga malam hari. Berdasarkan ketentuan waktu penyampaian pendapat yang berlaku, aksi seharusnya berakhir sekitar pukul 18.00 WIB.

Namun, hingga sekitar pukul 19.30 WIB, massa mahasiswa masih bertahan di kawasan Perempatan Gramedia. Sejumlah warga kemudian mulai mengingatkan peserta aksi agar segera mengakhiri demonstrasi.

Situasi mulai memanas sekitar pukul 20.00 WIB. Warga menyampaikan keberatan lantaran keberadaan massa aksi di kawasan tersebut dinilai mengganggu mobilitas masyarakat.

Sejumlah aktivitas warga dan pengguna jalan disebut ikut terdampak. Pedagang dan pengemudi ojek online (ojol) mengalami kesulitan melintas. Bahkan, kendaraan ambulans disebut harus mengambil jalur memutar untuk menuju rumah sakit.

Warga kemudian berdiskusi dengan mahasiswa dan meminta mereka mundur dari kawasan pertigaan Gramedia agar akses jalan dapat kembali digunakan.

Dalam dialog tersebut, mahasiswa pada awalnya menyatakan bersedia membubarkan diri dengan syarat ada perwakilan pemerintah yang datang ke lokasi untuk mendengarkan aspirasi mereka.

Mahasiswa meminta pejabat pemerintah, seperti Walikota Yogyakarta atau Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, hadir di kawasan pertigaan Gramedia.

Permintaan tersebut membuat proses pembubaran aksi tidak segera menemukan titik temu. Mahasiswa tetap bertahan sementara warga menginginkan kawasan tersebut segera dikosongkan demi kelancaran lalu lintas dan kepentingan masyarakat umum.

Ketegangan semakin meningkat sekitar pukul 21.45 WIB. Warga dan mahasiswa terlibat adu argumen terkait keberlanjutan aksi.

Warga meminta demonstrasi dihentikan karena dinilai telah mengganggu pengguna jalan. Di sisi lain, mahasiswa tetap ingin menyampaikan tuntutan dan meminta aspirasi mereka didengarkan pemerintah.

Sekitar pukul 22.00 WIB, situasi akhirnya berubah menjadi kericuhan. Terjadi aksi saling dorong antara massa mahasiswa dan warga.

Di tengah situasi tersebut, bubuk yang diduga merupakan bubuk merica juga dilemparkan ke arah kerumunan. Akibatnya, sejumlah orang mengalami batuk dan mengeluhkan rasa perih pada mata.

Kondisi di lokasi menjadi semakin tidak kondusif. Petugas kepolisian kemudian melakukan upaya pengamanan dan mendorong massa mahasiswa menjauh dari kawasan pertigaan Gramedia.

Massa mahasiswa akhirnya bergerak mundur hingga kawasan Bunderan UGM.

Setelah massa aksi berhasil didorong menjauh dari pertigaan Gramedia, kondisi lalu lintas berangsur kembali normal.

Sekitar pukul 22.20 WIB, kawasan perempatan Gramedia disebut sudah kembali dapat dilalui pengendara sepeda motor.

Kericuhan tersebut menjadi puncak dari aksi mahasiswa yang berlangsung sejak sore hari. Perselisihan bermula dari perbedaan kepentingan antara mahasiswa yang ingin terus menyampaikan aspirasi dan warga yang meminta aksi dihentikan karena dinilai telah melewati batas waktu serta mengganggu aktivitas masyarakat dan pengguna jalan. (Aga)