Mahasiswa UMY Kembangkan D-Sense, Alat Pemantau Bruksisme bagi Penyandang Sindrom Down

Selasa, 15 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto tim PKM-KC UMY D-Sense saat melakukan pengujian prototipe D-Sense kepada peserta Down Syndrom

Foto tim PKM-KC UMY D-Sense saat melakukan pengujian prototipe D-Sense kepada peserta Down Syndrom

GERBANGPATRIOT.COM, YOGYAKARTA – Rasa sakit tidak selalu mudah disampaikan. Bagi sebagian penyandang sindrom Down, hambatan komunikasi dapat membuat rasa sakit atau ketidaknyamanan sulit dikenali oleh orang-orang di sekitarnya.

Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan ialah bruksisme atau bruxism, yakni aktivitas otot rahang berulang yang ditandai dengan menggertakkan atau mengatupkan gigi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bruksisme cukup banyak ditemukan pada penyandang sindrom Down.

Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan D-Sense, perangkat pemantauan berbasis teknologi sandang atau wearable. Alat tersebut dirancang untuk membantu pendamping atau caregiver mengenali aktivitas otot rahang yang mengindikasikan terjadinya bruksisme.

D-Sense dikembangkan oleh tim mahasiswa lintas program studi dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Program Studi Teknologi Elektro-Medis UMY. Tim tersebut diketuai oleh Maryam Zalfaa Aurellia Alattas.

Maryam menjelaskan bahwa D-Sense berangkat dari kebutuhan akan teknologi yang dapat membantu menjembatani komunikasi antara penyandang sindrom Down dan pendampingnya, terutama ketika pengguna kesulitan menyampaikan rasa sakit atau ketidaknyamanan.

“Kami membuat alat pemantauan ini untuk membantu komunikasi antara pendamping dan pengguna,” ujar Maryam saat dihubungi pada Selasa (15/9).

D-Sense Pantau Aktivitas Otot Rahang

Secara teknis, D-Sense menggunakan sensor elektromiografi (EMG) yang ditempatkan pada area pipi. Sensor tersebut menangkap aktivitas listrik otot rahang dan meneruskan datanya ke aplikasi yang terhubung dengan perangkat.

Sebelum digunakan, sistem menjalani proses kalibrasi dengan merekam aktivitas otot ketika pengguna melakukan gigitan terkuat. Data tersebut kemudian menjadi nilai acuan untuk membaca intensitas aktivitas otot rahang.

Dalam prototipe D-Sense, tim menetapkan aktivitas otot yang mencapai 20 persen dari nilai gigitan terkuat sebagai indikasi episode bruksisme. Ambang tersebut digunakan oleh algoritma untuk membedakan aktivitas yang terdeteksi berdasarkan hasil kalibrasi setiap pengguna.

“Ketika aktivitas tersebut terdeteksi, aplikasi akan mengirimkan peringatan kepada pendamping. Aplikasi juga memberikan saran tindakan yang disesuaikan dengan tiga tingkat intensitas bruksisme, yaitu ringan, sedang, dan berat,” jelas Maryam.

Selain sistem peringatan, D-Sense dilengkapi fitur umpan balik berbasis getaran atau vibratory biofeedback. Fitur tersebut akan aktif secara otomatis apabila pendamping tidak memberikan respons terhadap peringatan yang dikirimkan aplikasi.

Getaran dirancang untuk mengalihkan perhatian pengguna ketika aktivitas bruksisme terdeteksi. Melalui mekanisme tersebut, tim berharap kebiasaan menggertakkan atau mengatupkan gigi dapat dihentikan pada saat terjadi.

Cegah Dampak Bruksisme Berkepanjangan

Menurut Maryam, bruksisme yang berlangsung secara berulang tanpa penanganan dapat memengaruhi kesehatan gigi dan mulut. Dampaknya dapat berupa pengikisan permukaan gigi, rasa nyeri, gangguan ketika mengunyah, hingga peningkatan risiko kerusakan dan kehilangan gigi.

Rasa sakit saat mengunyah juga dapat memengaruhi kenyamanan seseorang ketika makan. Apabila berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menurunkan asupan makanan dan memengaruhi kecukupan nutrisi.

Maryam mengatakan perangkat untuk memantau bruksisme telah dikembangkan di sejumlah negara. Namun, akses terhadap teknologi serupa di Indonesia masih terbatas, terutama perangkat yang dirancang sesuai kebutuhan penyandang sindrom Down dan pendampingnya.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Maryam dan tim mengembangkan D-Sense secara bertahap. Inovasi ini memperoleh pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026.

Jalani Pengujian secara Bertahap

Pengujian awal D-Sense dilakukan pada peserta tanpa sindrom Down. Tahap tersebut bertujuan menguji kemampuan algoritma dalam membedakan sinyal aktivitas otot yang mengindikasikan bruksisme dari gangguan sinyal lainnya.

Berdasarkan hasil pengujian internal tim, prototipe D-Sense mencatat akurasi pembacaan sebesar 98 persen. Angka tersebut merupakan hasil uji awal terhadap sistem dan belum dapat dipandang sebagai validasi klinis.

Setelah memperoleh persetujuan etik untuk penelitian yang melibatkan manusia, pengujian dilanjutkan kepada tujuh penyandang sindrom Down. Setiap peserta menjalani pemantauan selama 20 menit hingga dua jam.

Dalam kondisi pengujian, perangkat dilaporkan dapat terhubung dengan aplikasi pada jarak hingga 15 meter. Dari tujuh peserta, perangkat menunjukkan hasil pembacaan yang dinilai baik pada enam peserta.

“Dari tujuh penyandang sindrom Down yang mengikuti pengujian, enam orang menunjukkan hasil pembacaan yang baik. Kami memperoleh akurasi sekitar 93 persen,” ungkap Maryam.

Karena jumlah peserta masih terbatas, hasil tersebut bersifat awal. Pengujian lanjutan dengan jumlah dan karakteristik peserta yang lebih beragam diperlukan untuk menilai konsistensi, keamanan, kenyamanan, dan kinerja perangkat sebelum dapat digunakan secara lebih luas.

Selain Maryam, tim pengembangan D-Sense terdiri atas Muhamad Nur Sodiq, Muhammad Rafif Sarmadi, dan Najwa Raihana. Tim tersebut dibimbing oleh drg. Arief Waskitho, Sp.Pros., Ph.D.

Melalui D-Sense, tim berharap teknologi tidak hanya mampu merekam aktivitas otot rahang, tetapi juga membantu pendamping memahami ketidaknyamanan yang sulit disampaikan pengguna. Pengembangan berikutnya diharapkan dapat menyempurnakan prototipe hingga menjadi perangkat pemantauan yang aman, akurat, dan mudah digunakan. (GLA)

Sumber : humas umy 

Berita Terkait

UMY Wisuda 711 Lulusan, LLDIKTI V Dorong Generasi Adaptif dan Peduli
Kontroversi Simbang Kulon Night Carnival Pekalongan, Pakar UMY Soroti Makna Simbol
Pencopotan Purbaya Mendadak, Guru Besar UMY Soroti Etika Kekuasaan
Mahasiswa UMY Kembangkan Synergy, Platform Pembiayaan UMKM Berbasis Blockchain dan AI
UMY Perbarui Infrastruktur Kampus, Hadirkan Ruang Kuliah Lebih Modern dan Nyaman
1.999 SPPG Ditutup, Dosen UMY Nilai Masalah Bermula dari Perencanaan
Bantu Mobilitas Penyandang Lumpuh Total, Mahasiswa UMY Kembangkan Smart Wheelchair Berbasis Gerakan Mata
UMY Dorong Riset RISPRO Tak Berhenti di Laporan, Perlu Dihilirisasi dan Dimanfaatkan

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 14:27 WIB

UMY Wisuda 711 Lulusan, LLDIKTI V Dorong Generasi Adaptif dan Peduli

Rabu, 16 September 2026 - 13:16 WIB

Kontroversi Simbang Kulon Night Carnival Pekalongan, Pakar UMY Soroti Makna Simbol

Rabu, 16 September 2026 - 11:36 WIB

Pencopotan Purbaya Mendadak, Guru Besar UMY Soroti Etika Kekuasaan

Rabu, 16 September 2026 - 10:20 WIB

Mahasiswa UMY Kembangkan Synergy, Platform Pembiayaan UMKM Berbasis Blockchain dan AI

Selasa, 15 September 2026 - 11:27 WIB

UMY Perbarui Infrastruktur Kampus, Hadirkan Ruang Kuliah Lebih Modern dan Nyaman

Berita Terbaru