GERBANGPATRIOT.COM, SLEMAN – FKY 2026 resmi ditutup di Lapangan Beran, Sleman, Sabtu malam dengan pesan kuat tentang keberlanjutan kebudayaan Yogyakarta bagi generasi mendatang dan pelaku budaya.
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X menutup rangkaian Festival Kebudayaan Yogyakarta setelah berlangsung meriah dan melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan secara langsung.
Penutupan tersebut dihadiri Bupati Sleman Harda Kiswaya, Wakil Bupati, Forkopimda se-DIY, budayawan, seniman, serta ribuan warga yang memadati lokasi sejak sore acara.
Prosesi dimulai dari Gerbang Utama FKY melalui pencabutan bilah bambu oleh Paku Alam X bersama pejabat terkait dalam suasana khidmat penuh penghormatan sakral.
Bilah bambu kemudian diserahkan kepada seniman FJ Kunting untuk diarak mengelilingi area pasar FKY menuju Panggung Taling utama secara simbolis bagi pengunjung langsung.
Iring-iringan tradisi dipimpin penari edan-edanan dan FJ Kunting sebagai cucuk lampah, diikuti rombongan pejabat serta panitia festival dengan membawa Panji sepanjang acara bersama.
Rombongan juga membawa Panji FKY, sementara alunan gamelan instrumental Kiai Kanjeng menyambut kedatangan mereka di panggung utama dengan suasana meriah di hadapan warga.
Di atas Panggung Taling, Paku Alam X membacakan sambutan Gubernur DIY yang menekankan pentingnya menjaga kesinambungan kebudayaan Yogyakarta di tengah perubahan zaman.
“Rangkaian FKY 2026 telah sampai di penghujung. Namun seperti aksara, berakhirnya sebuah rangkaian bukan berarti berakhir pula maknanya,” ungkapnya kepada masyarakat luas langsung.
Menurut sambutan tersebut, festival mengajak masyarakat membaca Yogyakarta melalui gerak, bunyi, karya, ruang hidup, tradisi, dan perjumpaan manusia selama kegiatan dalam suasana hangat.
“Selama festival berlangsung, kita diajak membaca Yogyakarta melalui banyak bahasa,” lanjut Paku Alam X saat membacakan sambutan tersebut kepada seluruh hadirin di panggung.
Kebudayaan, lanjutnya, tidak pernah hadir dalam satu bentuk saja karena terus dibaca, dirasakan, ditafsirkan, dan diwariskan masyarakat secara berkelanjutan lintas generasi.
“Semoga FKY tidak berhenti sebagai perayaan tahunan, tetapi menjadi jejak yang terus terbaca,” tegasnya dalam sambutan untuk masa depan kebudayaan Yogyakarta bagi generasi.
Pesan tersebut menegaskan bahwa berakhirnya festival bukan berarti berhentinya proses kebudayaan yang tumbuh melalui berbagai ruang kehidupan masyarakat Yogyakarta sehari-hari secara bersama.
Panji FKY kemudian diserahkan kembali secara simbolis oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya untuk diteruskan kepada Wakil Gubernur DIY sebagai tanda berakhirnya rangkaian resmi.
Prosesi itu menjadi penanda berakhirnya rangkaian festival sekaligus simbol keberlanjutan gagasan kebudayaan yang telah dibangun bersama oleh masyarakat dan seniman untuk masyarakat luas.
Suasana penutupan semakin haru ketika tembang Lir-Ilir dilantunkan secara kolaboratif oleh Kiai Kanjeng bersama seluruh hadirin yang memenuhi Lapangan Beran hingga penutupan berakhir.
Ribuan masyarakat yang memadati Lapangan Beran turut menyanyikan Lir-Ilir, menciptakan suasana kebersamaan yang kuat dalam penutupan tersebut hingga acara selesai sepanjang malam bersama-sama.
Setelah prosesi utama selesai, penutupan FKY 2026 berlanjut dengan berbagai pertunjukan hiburan rakyat bagi masyarakat yang hadir sepanjang malam di lokasi festival malam.
Rangkaian tersebut menjadi penutup perhelatan FKY 2026 sekaligus pengingat bahwa kebudayaan Yogyakarta terus hidup, dibaca, dan diwariskan lintas generasi untuk masa depan bersama. (ady)















