GERBANGPATRIOT.COM, Sleman – Christian Adi Wijaya Laksana (Adi) mulai terang menyampaikan niat mencalonkan diri sebagai Anggota DPRD DIY pada pemilu mendatang setelah menapaki politik dari bawah secara terbuka.
Adi mengatakan niat tersebut tumbuh karena perjalanan politiknya dimulai dari bawah, sejak menjadi kader anak ranting hingga dipercaya menduduki posisi strategis partai hingga kini.
Saat ini Adi menjabat Wakil Ketua Bidang Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga di DPRD PDI-P Yogyakarta, sembari memperkuat pengalaman bersama masyarakat daerah Yogyakarta di Yogyakarta.
Ditanya mengenai keinginan menjadi anggota DPRD DIY, Adi menjawab tegas bahwa peluang tersebut memang sudah ada dalam pikirannya sejak lama untuk pemilu mendatang nanti.
”Tentunya ada, karena saya menjalani dunia politik sudah sangat lama dan benar-benar dari bawah”, ujar Adi saat ditemui di Banyumili Resto, Minggu (4/20/2026).
Perjalanan itu dimulai dari tingkat pedukuhan sebagai anak ranting, kemudian berlanjut menjadi pengurus ranting pada tingkat kalurahan selama satu periode sebelum jenjang berikutnya dimulai.
Setelah itu Adi menjalani pengalaman di tingkat kecamatan, meski periodenya tidak genap karena pada 2022 dirinya menerima pekerjaan di BUMN untuk sementara sementara itu.
Pengalaman tersebut membuat Adi memahami bahwa politik baginya bukan sekadar jabatan, melainkan proses panjang membangun kedekatan dengan masyarakat akar rumput dan memperjuangkan kepentingan warga.
Sebelum kembali aktif di partai, Adi pernah bekerja di Bank BRI sebagai mantri yang menangani pemasaran sekaligus penyaluran kredit masyarakat sebelum kembali ke politik.
Pekerjaan tersebut membuatnya sering bertemu warga, mendengar kebutuhan mereka, serta memahami persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dari berbagai lapisan masyarakat setempat.
Namun pengalaman menagih angsuran pada akhir bulan justru membuat Adi mempertanyakan kecocokan dirinya dengan pekerjaan tersebut secara pribadi dan profesional dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Adi menggambarkan perannya berbeda ketika mencairkan kredit dan ketika harus menagih, karena situasi itu membuat hubungan dengan nasabah terasa renggang saat penagihan tersebut semakin berat.
”Awal bulan saya seperti malaikat, tetapi akhir bulan menjadi iblis”, kata Adi menggambarkan pengalaman ketika harus menagih cicilan nasabah dalam situasi penagihan tersebut.
Menurut Adi, terdapat nasabah yang belum mampu membayar angsuran, bahkan beberapa akhirnya menitipkan sepeda motor kepadanya sebagai bentuk penyelesaian sementara yang sangat tidak nyaman.
”Situasi ini membuat saya merasa tidak nyaman karena hubungan yang sebelumnya dekat berubah ketika dirinya harus menagih atau melakukan penyitaan terhadap kendaraan para nasabah,” jelasnya.
”Saya lebih senang berinteraksi dengan orang, bukan mengejar angsuran, menagih, menyita, dan sebagainya”, ujar Adi menjelaskan alasan meninggalkan pekerjaan tersebut demi masyarakat di lapangan.
Adi kemudian memutuskan berhenti dari BUMN pada 2024, bertepatan dengan momentum politik yang kembali mempertemukannya dengan aktivitas kepartaian secara intensif dan penuh tantangan politik.
*Penerus Rumah Aspirasi*
Saat itu, Adi diminta membantu mengelola rumah aspirasi milik ibunya, termasuk menangani posko dan mendukung penyaluran berbagai program masyarakat serta aspirasi warga setempat langsung.
Dari pengalaman tersebut, Adi mengaku menemukan kembali kecocokan dengan aktivitas politik karena dapat berinteraksi langsung sekaligus membantu masyarakat melalui program nyata di lapangan Yogyakarta.
Setelah pelantikan periode baru, Adi kemudian dipercaya menjadi kepala posko dan semakin aktif menjalankan kegiatan politik serta pelayanan masyarakat untuk memperkuat kerja sosial masyarakat.
Keinginannya maju sebagai Anggota DPRD DIY juga tidak terlepas dari pengaruh keluarga, terutama melihat perjalanan politik ibunya sejak dirinya masih kecil dahulu di Yogyakarta.
Adi mengaku sejak sekolah dasar telah melihat ibunya aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten, sehingga dinamika politik sudah menjadi bagian hidupnya sejak usia dini hingga sekarang.
Jika kelak maju, Adi menyatakan Program Indonesia Pintar akan tetap menjadi perhatian karena manfaatnya dirasakan luas oleh masyarakat yang membutuhkan pada masa mendatang nanti.
”Kalau bisa, program itu akan saya kembangkan agar semua masyarakat yang berhak mendapatkan, mendapat manfaat, baik PIP maupun KIP”, tegasnya.(waw)















