Cara Mengajar Yang Benar Menurut Dr. Ethna Reid Dosen Amerika

GerbangPatriot-Guru merupakan suatu profesi yang mulia. Sejak dikeluarkannya Undang-Undang Guru dan Dosen pada tahun 2015, mulai saat itu juga guru ditetapkan sebagai profesi. Profesi diambil dari kata professional, dalam UU no 14 Tahun 2015 tentang Guru dan Dosen bahwa yang dikatakan profesional adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Saat ini masih banyak rekan-rekan yang berprofesi menjadi guru terjebak dalam pilihan terakhir. Guru bukan lagi menjadi profesi yang didambakan akan tetapi sering kita dengar banyak orang yang menjadi guru karena tidak ada pilihan pekerjaan lain. Hal ini sangat bertolak belakang dengan ketentuan Undang-Undang tentang guru dan dosen. Untuk menjadi seorang guru diperlukan keahlian, kemahiran, dan kecakapan khusus melalui suatu pendidikan profesi.

Keahlian, kemahiran, dan kecakapan seorang guru terangkum dalam 4 (empat) kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Pada dasarnya tugas guru yang paling utama adalah mengajar dan mendidik. Sebagai pengajar ia merupakan medium atau perantara aktif antara siswa dan ilmu pengetahuan, sedang sebagai pendidik ia merupakan medium aktif antara siswa dan filsafat negara dan kehidupan masyarakat dengan segala seginya, dan dalam mengembangkan pribadi siswa serta mendekatkan mereka dengan pengaruh-pengaruh dari luar yang baik dan menjauhkan mereka dari pengaruh-pengaruh yang buruk.

Berbicara tentang mengajar dan mendidik seorang guru, seorang peneliti bernama Dr. Ethna Reid, seorang dosen di Amerika, melakukan sebuah penelitian tentang kriteria guru yang baik. Hasilnya, Dr. Reid mempublikasikan kebiasaan yang paling membuat seorang guru berhasil. Dr. Reid bersama tim telah membuktikan bahwa kebiasaan ini dapat berlaku untuk guru dalam segala usia, gender, lokasi geografis, mata pelajaran, dan hal-hal lainnya.

Kebiasaan pertama seorang guru yang vital adalah penggunaan pujian bukan hukuman. Guru-guru terbaik -memberikan pujian jauh lebih sering daripada guru yang buruk. Saat mengajar, guru-guru yang kinerjanya buruk seringkali mematahkan semangat siswa dengan gerutuan seperti, “Bukannya baru tadi saya ajarkan? Kok kamu udah lupa sih”. Akan tetapi guru-guru terbaik mendukung para siswanya bahkan yang prestasi belajarnya biasa-biasa saja sehingga kebiasaan untuk mau belajar pun tumbuh. Guru-guru terbaik memuji bukan hanya dari hasil ujian, namun dari setiap perkembangan yang murid lewati untuk menjadi lebih baik. Mereka menilai para siswa dari setiap proses belajar yang mereka jalani.

Kebiasaan guru yang vital lainnya adalah guru-guru terbaik sering mengubah-ubah cara mengajar dari menerangkan pelajaran sampai bertanya kepada siswa-siswanya atau berbagai bentuk ujian lainnya. Guru yang baik memiliki banyak metode dan strategi belajar mengajar,  dan biasanya dilengkapi dengan media pembelajaran yang memadai. Ketika diperlukan, guru yang baik akan banyak memberikan masukan serta segera memperbaiki kesalahan siswanya.

Sedangkan guru-guru yang kinerjanya buruk menghabiskan waktu menjelaskan pelajaran secara membosankan lalu membiarkan siswanya belajar sendiri, seringkali membiarkan para siswa mengulangi kesalahan yang sama.

Selanjutnya Iqbal N.Az dalam sebuah bukunya “Bagaimana Menjadi Guru Supermodel” mengemukakan bahwa secara umum, ada tiga bekal yang harus dimiliki seseorang untuk dapat menjadi seorang guru yang baik. Tiga hal ini apabila dimiliki seseorang yang bermaksud untuk menjadi seorang guru akan mendapatkan kesuksesan dalam proses pengajarannya. Tiga bekal yang tersebut adalah : kompetensi yang cukup, kreatifitas yang memadai sehingga gaya mengajarnya guru tersebut bervariasi, dan memiliki sifat ikhlas dan mau mendoakan kesuksesan pada anak didiknya.

Seorang guru tidaklah harus seseorang yang cerdas dan mampu menguasai keilmuannya sampai detil. Namun untuk menjadi guru yang baik syaratnya cukuplah mudah. Ia harus memiliki kompetensi yang cukup yang berhubungan dengan keilmuannya dan yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Andaikata seseorang telah paham inti dari keilmuannya dan mampu menerapkan inti keilmuan tersebut untuk memecahkan banyak permasalahan yang berhubungan dengan keilmuannya, maka inipun sudah cukup.

Seorang guru juga harus memiliki jiwa kreatifitas yang tinggi, karena jiwa kreatifitas disini akan mendorong dia untuk menemukan berbagai model pembelajaran baru yang cocok diterapkan di kelasnya. Dari jiwa ini ia akan mampu menemukan berbagai macam problem solving yang berhubungan dengan permasalahan siswa ketika berada di kelas, di sekolah, maupun di luar sekolah.  Kreatifitas yang dimiliki seorang guru akan membuat dia menjadi terlihat beda diantara guru yang lain, dan inilah yang akan membuat siswa selalu rindu untuk berjumpa dengan mata pelajarannya.

Yang terakhir dari bekal yang harus dimiliki seorang guru adalah sifat ikhlas. Sifat ikhlas inilah yang jarang dimiliki guru dewasa ini. Banyak diantara mereka merasa apa yang mereka sampaikan tidaklah setimpal dengan gaji yang mereka terima, sehingga ketika menyampaikan materi tapi tidak dengan sepenuhnya. Andaikata guru ikhlas mengajar, maka keikhlasan ini akan memberikan semangat yang tanpa batas pada guru untuk berusaha keras membuat anak didik mereka paham akan materi yang disampaikan. Semangat keikhlasan ini akan mampu meluluhkan hati dan jiwa keras anak didik mereka. Apalagi jika ditambah dengan kemauan guru untuk mendoakan anak didik mereka untuk sukses, maka aspek spiritual ini menjadi penyempurna kelebihan guru.

Kedua metode yang disampaikan di atas dapat berhasil di belahan dunia manapun, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, bagi guru yang ingin murid-muridnya mampu lebih baik dalam menguasai pelajaran, agar sering menggunakan dua metode ini. Bagi orang tua yang ingin anak-anaknya dapat belajar dengan baik di sekolah, carilah sekolah dengan guru yang memiliki kriteria kebiasaan tersebut. Guru-guru dengan kriteria kebiasaan ini mampu membuat siswanya senang belajar di sekolah. Di rumah, orang tua juga dapat menggunakan kriteria kebiasaan tersebut untuk mendidik anak. Dengan kriteria kebiasaan sederhana ini, setiap anak akan kembali kepada fitrahnya, manusia yang cerdas.(Har)

 

Narasumber : RadarBekasi.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *