Kasus Dugaan Penggelapan Dana Proyek Rumah di Bantul Masuki Tahap Pemeriksaan Saksi

Rabu, 8 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GERBNGPATRIOT.COM, Bantul – Kasus dugaan penggelapan dana proyek pembangunan rumah kembali mencuat di meja hijau.
‎
Persidangan di Pengadilan Negeri Bantul kini memasuki tahap pemeriksaan saksi, dengan nilai kerugian yang ditaksir mencapai Rp500 juta menjadi sorotan
‎utama.
‎
Kuasa hukum korban, Dr. Siska, S.H., M.Hum dan Chetta Shatia Dwitama, S.H., M.H., menegaskan pihaknya tengah menghadirkan saksi untuk memperkuat konstruksi perkara.
‎
“Kami saat ini sedang menghadirkan saksi dalam persidangan. Dalam agenda ini, kami menguji keterangan saksi agar dapat memperjelas fakta-fakta yang ada,” ujar Chetta, Rabu (8/4/2026).
‎
‎Ia menyebut, dari nilai kontrak proyek sekitar Rp1,6 miliar, terdapat dugaan dana sebesar Rp500 juta tidak digunakan sebagaimana mestinya.
‎
“Dana itu diduga dialihkan untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun pekerjaan lain,” katanya.
‎
Menurutnya, keterangan saksi mulai membuka aliran dana yang sebelumnya belum terungkap secara terang.
‎
Perkara ini bermula dari kerja sama pembangunan rumah pribadi di Bantul pada 2023. Namun di tengah proses, proyek terhenti dan sebagian pekerjaan tidak pernah direalisasikan.
‎
‎Akibatnya, korban harus mencari kontraktor baru dan menanggung biaya tambahan.
‎
“Kami berharap pengadilan dapat menilai keterangan ini secara objektif,” ucapnya.
‎
Dari pihak teknis, Agus Sutrisno dari DPUPKP Kabupaten Bantul mengungkapkan progres pembangunan baru mencapai sekitar 30 hingga 54 persen.
‎
“Dia tidak menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dituntaskan. Padahal masyarakat sudah berharap rumahnya jadi,” ujarnya.
‎
Ia juga menyoroti dugaan penggunaan dana yang tidak sesuai peruntukannya serta lemahnya kompetensi pelaksana proyek.
‎
Menurutnya, kasus proyek mangkrak seperti ini bukan hal baru, namun jarang sampai ke meja hijau.
‎
“Kasus seperti ini sebenarnya cukup banyak terjadi, terutama di sektor pekerjaan umum. Tapi yang sampai persidangan, ini termasuk yang baru,” katanya.
‎
Ia mengingatkan pentingnya profesionalitas dan legalitas dalam proyek konstruksi.
‎
Sementara itu, kuasa hukum korban menegaskan pihaknya sejak awal telah membuka ruang mediasi, namun tidak mendapat respons dari terdakwa.
‎
“Kami berharap majelis hakim dapat memberikan putusan yang seadil-adilnya,” tegasnya.
‎
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur penawaran murah tanpa mengecek kredibilitas pelaksana.
‎
“Jangan sampai praktik seperti ini merusak kepercayaan masyarakat terhadap dunia konstruksi dan hukum,” pungkasnya.(waw)

Berita Terkait

Kustomfest 2026 Jual 27 Kaos Limited Edition dan Lelang Helm, Dibuka Mulai Rp5 Juta
Malam Berbagi Jogja Kumpulkan Donasi Rp909 Juta, Pemerintah Kota Yogyakarta dan BAZNAS Target Bedah 52 Rumah
Sleman Ajak Pelajar Lawan Kekerasan, Tawuran dan Radikalisme Bersama
WNA Makin Ramai Naik Kereta, Konektivitas Wisata Daop 6
250.322 Pemuda Sleman Jadi Kekuatan Menuju Indonesia Emas 2045
GPM Sleman Soroti Sumbangan Komite MTsN 9, Minta Transparansi Pembiayaan
Pawai Ekosistem Malioboro Buka Semarak Jelang WJNC 2026
Sleman Pasang Alarm! 700 Pengambilan Ganda Psikotropika Terendus

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Malam Berbagi Jogja Kumpulkan Donasi Rp909 Juta, Pemerintah Kota Yogyakarta dan BAZNAS Target Bedah 52 Rumah

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:58 WIB

Sleman Ajak Pelajar Lawan Kekerasan, Tawuran dan Radikalisme Bersama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:45 WIB

WNA Makin Ramai Naik Kereta, Konektivitas Wisata Daop 6

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:50 WIB

250.322 Pemuda Sleman Jadi Kekuatan Menuju Indonesia Emas 2045

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:43 WIB

GPM Sleman Soroti Sumbangan Komite MTsN 9, Minta Transparansi Pembiayaan

Berita Terbaru