Haedar Nashir Soroti Kesenjangan Teori dan Realitas dalam Ilmu Politik

Kamis, 16 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., (sources : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY))

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., (sources : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY))

GERBANGPATRIOT.COM, YOGYAKARTA – Kesenjangan antara teori dan realitas menjadi perhatian penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam memahami persoalan politik yang semakin kompleks. Dalam banyak kasus, teori dinilai belum sepenuhnya mampu menangkap realitas secara utuh, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih mendalam agar pemahaman terhadap suatu persoalan tidak bersifat parsial.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menyampaikan bahwa setiap peristiwa dan persoalan pada dasarnya memiliki kebenaran intrinsik. Namun, kebenaran tersebut tidak selalu dapat dijelaskan secara komprehensif oleh teori yang ada.

“Setiap peristiwa atau masalah memiliki kebenarannya sendiri. Namun, ilmu pengetahuan sering kali belum mampu memahami, bahkan gagal menjelaskan realitas tersebut secara konstruktif sebagaimana adanya, karena adanya jarak antara teori dan realitas. Semakin kita mendalami realitas, semakin dekat pula kita pada kebenaran,” ujarnya dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Ridho Al-Hamdi, Kamis (16/4), di Ruang Sidang Utama AR Fachruddin B Lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Pentingnya Pendekatan Integratif dalam Ilmu Politik

Haedar menjelaskan bahwa dalam kajian ilmu politik terdapat beragam pendekatan, seperti sistem politik, budaya politik, dan perilaku politik. Namun, jika pendekatan-pendekatan tersebut tidak dikembangkan secara integratif, maka pemahaman terhadap fenomena politik akan tetap parsial.

Menurutnya, pendekatan yang lebih mendalam, seperti deep description, menjadi penting agar ilmuwan mampu memahami realitas dalam konteksnya. Dengan demikian, ilmu tidak hanya berhenti pada kerangka teoretis, tetapi juga mampu menjelaskan kondisi nyata di masyarakat.

“Jika tidak berjalan secara integratif, kita akan tetap parsial dalam melihat fenomena politik. Dalam sistem terdapat aktor, struktur, nilai, dan budaya yang saling berkaitan. Karena itu, semakin kita mendalami realitas, pendekatannya juga harus semakin mendalam,” jelas Haedar.

Kritik Terhadap Adopsi Teori Barat di Indonesia

Selain itu, ia juga menyoroti perbedaan karakter pendekatan ilmu politik di Barat. Pendekatan di Amerika Serikat cenderung kuat pada aspek metodologi dan pragmatisme, sementara Eropa lebih menekankan dimensi filsafat dan epistemologi.

Dalam konteks tersebut, Haedar Nashir mengingatkan agar akademisi tidak serta-merta mengadopsi teori dari luar tanpa mempertimbangkan konteks lokal. Pemahaman terhadap realitas sosial dan budaya sendiri menjadi kunci agar ilmu yang dikembangkan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Kita tidak bisa serta-merta mengambil teori dari Amerika atau Eropa untuk diterapkan begitu saja. Kita harus memahami realitas kita sendiri. Jika tidak, kita hanya akan terjebak dalam ‘menara gading’ dengan teori yang tidak selalu sesuai dengan kondisi masyarakat,” tegasnya.

Menghindari Pragmatisme dalam Kehidupan Bernegara

Ia juga menyoroti kecenderungan dunia yang semakin pragmatis, di mana banyak keputusan diambil berdasarkan pertimbangan praktis semata, tanpa arah nilai dan visi jangka panjang.

“Banyak pihak hanya berpikir secara praktis dan pragmatis. Padahal, kehidupan berbangsa dan bernegara memerlukan arah, peta jalan, dan nilai yang jelas. Tanpa itu, akan sulit membangun pemahaman bersama, bahkan konflik bisa menjadi pilihan,” pungkas Prof. Haedar. (*)

Berita Terkait

Kustomfest 2026 Jual 27 Kaos Limited Edition dan Lelang Helm, Dibuka Mulai Rp5 Juta
Malam Berbagi Jogja Kumpulkan Donasi Rp909 Juta, Pemerintah Kota Yogyakarta dan BAZNAS Target Bedah 52 Rumah
Sleman Ajak Pelajar Lawan Kekerasan, Tawuran dan Radikalisme Bersama
WNA Makin Ramai Naik Kereta, Konektivitas Wisata Daop 6
250.322 Pemuda Sleman Jadi Kekuatan Menuju Indonesia Emas 2045
GPM Sleman Soroti Sumbangan Komite MTsN 9, Minta Transparansi Pembiayaan
Pawai Ekosistem Malioboro Buka Semarak Jelang WJNC 2026
Sleman Pasang Alarm! 700 Pengambilan Ganda Psikotropika Terendus

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Malam Berbagi Jogja Kumpulkan Donasi Rp909 Juta, Pemerintah Kota Yogyakarta dan BAZNAS Target Bedah 52 Rumah

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:58 WIB

Sleman Ajak Pelajar Lawan Kekerasan, Tawuran dan Radikalisme Bersama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:45 WIB

WNA Makin Ramai Naik Kereta, Konektivitas Wisata Daop 6

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:50 WIB

250.322 Pemuda Sleman Jadi Kekuatan Menuju Indonesia Emas 2045

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:43 WIB

GPM Sleman Soroti Sumbangan Komite MTsN 9, Minta Transparansi Pembiayaan

Berita Terbaru