GERBANGPATRIOT.COM, YOGYAKARTA — Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali memperkuat peran Yogyakarta sebagai ruang perjumpaan kebudayaan Nusantara melalui penyelenggaraan Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia (TKTB) XXV Tahun 2026.
Mengusung tema “Gyaning Rasa, Mantraning Nusantara”, kegiatan ini menjadi momentum penting karena Temu Karya Taman Budaya kembali diselenggarakan di Yogyakarta setelah 25 tahun. Taman Budaya Yogyakarta juga menjadi tempat penyelenggaraan Temu Karya Taman Budaya pertama.
Informasi resmi Taman Budaya Yogyakarta menyebut TKTB XXV 2026 akan menghadirkan 17 kontingen Taman Budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Rangkaian utama kegiatan dijadwalkan berlangsung pada (27/9/26 – 2/10/26) di kompleks Taman Budaya Yogyakarta.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan penyelenggaraan TKTB XXV tidak hanya diarahkan sebagai agenda pertemuan antartaman budaya, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman, pengetahuan, strategi pengelolaan kebudayaan, serta praktik baik yang dapat diterapkan di daerah masing-masing.
Menurutnya, Yogyakarta sebagai tuan rumah ingin memberikan pengalaman kebudayaan yang dapat dibawa pulang oleh para peserta dari berbagai daerah.
“Tidak hanya mereka datang dan melihat tampilan, tetapi ada sesuatu yang dibawa, sesuatu yang dipelajari, dan sesuatu yang kemudian dipraktikkan,” ujar Dian dalam konferensi pers TKTB XXV di Taman Budaya Yogyakarta, Senin (21/9/2026).
Dian menjelaskan, rangkaian TKTB XXV dikemas melalui sejumlah program unggulan Taman Budaya Yogyakarta. Agenda tersebut antara lain Suloh Sumurup Art Festival, Pojok Kreatif Taman Budaya, Konser Musik Orkestra Taman Budaya Yogyakarta, Gelar Karawitan Dang Tak Gong, hingga aksi membatik bersama dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional pada (2/10).
Rangkaian tersebut dirancang tidak sekadar menjadi pertunjukan yang dinikmati masyarakat, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran mengenai bagaimana sebuah kegiatan kebudayaan dikelola.
“Temu Karya Taman Budaya tahun ini tidak hanya sekadar agenda rutin yang kemudian setelah ini ditutup selesai, tetapi bagi kami jauh lebih penting adalah dampak yang kemudian terjadi. Minimal perubahan mindset di teman-teman pengelola Taman Budaya,” jelasnya.
Dian menambahkan, Taman Budaya memiliki posisi penting sebagai salah satu ruang yang dapat menggambarkan perkembangan kebudayaan suatu daerah.
Karena itu, TKTB XXV diharapkan dapat memperkuat jejaring antartaman budaya sekaligus mendorong terjadinya pertukaran pengetahuan mengenai pengelolaan seni dan budaya.
Dalam konteks tersebut, para peserta tidak hanya diajak menyaksikan pertunjukan, tetapi juga mempelajari proses di balik penyelenggaraannya, mulai dari tata kelola, pengembangan program, keterlibatan seniman, hingga strategi menjaga keberlanjutan kegiatan kebudayaan.
Semangat tersebut telah dibangun sejak rapat koordinasi TKTB yang digelar pada April 2026. Forum tersebut menjadi bagian dari persiapan Yogyakarta sebagai tuan rumah TKTB XXV. Dinas Kebudayaan DIY sebelumnya juga telah memposisikan forum ini sebagai ruang dialog dan jejaring kebudayaan antar daerah
Selain pertukaran pengetahuan kebudayaan, penyelenggaraan TKTB XXV juga diarahkan untuk memberikan dampak terhadap masyarakat dan ekonomi kreatif.
Salah satu program yang diangkat adalah Pojok Kreatif Taman Budaya, yang memberikan ruang kepada seniman dan budayawan untuk menghasilkan karya maupun produk yang memiliki nilai ekonomi dan berkelanjutan.
Dinas Kebudayaan DIY juga menempatkan aspek inklusivitas sebagai bagian penting dalam penyelenggaraan kegiatan.
Hal tersebut salah satunya terlihat melalui Suloh Sumurup Art Festival yang tahun ini memasuki penyelenggaraan tahun keempat. Festival tersebut mengangkat tema “Maneges” dan melibatkan seniman penyandang disabilitas dari berbagai daerah.
Kurator Suloh Sumurup Art Festival, Budi Irawanto, menyampaikan bahwa tahun ini terdapat 131 seniman penyandang disabilitas yang berpartisipasi dengan menghadirkan 193 karya. Selain itu, terdapat 13 komunitas, sanggar, dan sekolah yang terlibat.
Para peserta berasal dari 14 provinsi di Indonesia. Keterlibatan seniman disabilitas tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang seni yang semakin inklusif.
Program lainnya adalah Konser Musik Orkestra Taman Budaya Yogyakarta yang menjadi salah satu agenda unggulan dalam rangkaian TKTB XXV.
Orkestra tersebut akan dikonduktori Oni Krisnerwinto dan melibatkan pemain musik serta paduan suara anak-anak Taman Budaya Yogyakarta. Pertunjukan juga akan menghadirkan sejumlah penyanyi, di antaranya Ndarboy.
Konsep pertunjukan tahun ini turut mengangkat lagu-lagu daerah dari berbagai wilayah Indonesia yang kontingennya hadir dalam TKTB XXV.
Sementara itu, Gelar Karawitan Dang Tak Gong akan memadukan gamelan pentatonis dengan musik diatonis. Sekitar 10 lagu nasional akan diaransemen menggunakan media gamelan Jawa.
Perpaduan tersebut menjadi salah satu bentuk dialog antara tradisi dan pendekatan musik kontemporer dalam rangkaian TKTB XXV.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, mengatakan penyelenggaraan TKTB XXV telah dipersiapkan sejak jauh hari. Sejumlah elemen kegiatan bahkan mulai terlihat di kompleks Taman Budaya Yogyakarta sebagai bagian dari rangkaian persiapan.
Menurutnya, berbagai program tersebut diharapkan dapat menjadi contoh penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan banyak unsur kebudayaan dan memberikan dampak bagi masyarakat.
Sementara itu, rangkaian TKTB XXV juga akan diikuti oleh para pimpinan Taman Budaya dari berbagai daerah. Salah satu agenda yang disiapkan adalah rapat koordinasi yang menghadirkan narasumber dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Bappenas untuk membahas tata kelola dan keberlanjutan Taman Budaya.
Dinas Kebudayaan DIY juga terus mendorong Taman Budaya Yogyakarta menjadi ruang yang semakin inklusif. Upaya tersebut antara lain melalui penyediaan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, seperti ramp dan toilet difabel, serta pengembangan sarana agar karya seni dapat dinikmati oleh berbagai kelompok masyarakat.
Melalui TKTB XXV, Dinas Kebudayaan DIY menegaskan semangat Yogyakarta sebagai ruang “srawung kebudayaan Nusantara”—tempat bertemunya karya, gagasan, seniman, pengelola kebudayaan, serta masyarakat dari berbagai daerah.
Dengan demikian, Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV tidak berhenti sebagai agenda pertemuan tahunan, tetapi diarahkan menjadi ruang pertukaran pengalaman dan praktik baik untuk memperkuat pengelolaan kebudayaan di berbagai daerah Indonesia. (Aga)















