Grand Hotel de Djokja Genap 115 Tahun, Saksi Sejarah di Jantung Malioboro

Kamis, 24 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Halaman depan dan taman Grand Hotel de Djokja, hotel bersejarah yang pertama kali dibuka pada 1911(foto istimewa)

Halaman depan dan taman Grand Hotel de Djokja, hotel bersejarah yang pertama kali dibuka pada 1911(foto istimewa)

GERBANGPATRIOT.COM, ‎Jogja – Grand Hotel de Djokja memasuki usia 115 tahun pada 2026, menandai panjangnya perjalanan hotel bersejarah yang bertahan di jantung Yogyakarta hingga kini terus.

Hotel yang berada di kawasan Malioboro ini pertama kali dibuka pada 1911, ketika kawasan tersebut mulai berkembang sebagai pusat aktivitas kota Yogyakarta hingga kini.

Sejak awal berdiri, hotel mengalami perubahan nama dan fungsi, mengikuti dinamika sejarah Yogyakarta serta perubahan kekuasaan yang berlangsung selama puluhan tahun hingga kini.

Jejak panjang tersebut membuat Grand Hotel de Djokja tidak sekadar menjadi tempat menginap, tetapi juga bagian penting dari sejarah kota Yogyakarta hingga kini.

Dalam perjalanannya, hotel ini pernah menjadi tempat menginap sejumlah tokoh, sekaligus berada di tengah berbagai peristiwa penting yang membentuk sejarah di Yogyakarta hingga kini.

Nama hotel turut berubah mengikuti situasi politik dan pemerintahan, memperlihatkan bagaimana bangunan tersebut melewati berbagai periode sejarah Indonesia yang berbeda yang terus berlangsung.

Pada masa pendudukan Jepang, nama hotel berubah menjadi “Hotel Asahi”, menandai perubahan identitas bangunan selama periode kekuasaan Jepang di Yogyakarta berlangsung hingga kini.

Pergantian nama menjadi “Hotel Asahi” menunjukkan bahwa hotel tersebut ikut mengalami perubahan fungsi dan pengelolaan pada masa pendudukan Jepang di kota hingga kini.

Setelah Indonesia merdeka, nama hotel kembali berubah menjadi “Hotel Merdeka”, membawa identitas baru sesuai semangat kemerdekaan bangsa dan pemerintahan pada masa itu.

Nama “Hotel Merdeka” kemudian menjadi bagian dari catatan perjalanan bangunan yang terus bertahan melewati perubahan zaman dan kondisi kota Yogyakarta hingga masa kini.

Kini, nama “Grand Hotel de Djokja” kembali digunakan, menghidupkan identitas historis hotel yang telah dikenal sejak masa awal berdirinya tersebut hingga sekarang kembali.

Kembalinya nama “Grand Hotel de Djokja” sekaligus menegaskan hubungan bangunan ini dengan sejarah panjang kawasan Malioboro dan perkembangan Yogyakarta hingga sekarang berlangsung.

Selama lebih dari satu abad, keberadaan hotel tetap terhubung dengan kawasan Malioboro, salah satu ruang kota paling dikenal di Yogyakarta hingga kini hingga kini.

Usia 115 tahun menjadi penanda bahwa bangunan ini telah melewati generasi, perubahan pemerintahan, serta berbagai perkembangan kehidupan perkotaan Yogyakarta hingga masa kini tersebut.

Riwayat perubahan nama dari “Grand Hotel de Djokja” menjadi “Hotel Asahi”, lalu “Hotel Merdeka”, mencerminkan perjalanan sejarah yang panjang hingga kini berlangsung.

Setiap perubahan nama membawa konteks zamannya sendiri, sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah hotel dapat menjadi saksi perubahan sosial dan politik di tengah kota sebelumnya.

Keberadaan hotel di Malioboro membuat jejak sejarah tersebut tetap mudah ditemukan, karena lokasinya berada di kawasan yang terus menjadi pusat kota sepanjang masa.

Bagi Yogyakarta, keberadaan bangunan bersejarah seperti ini memperkaya wajah Malioboro, sekaligus menghubungkan kehidupan masa kini dengan perjalanan sejarah sebelumnya di Yogyakarta hingga kini.

Memasuki usia 115 tahun, Grand Hotel de Djokja tetap menjadi bagian dari lanskap Malioboro dan menyimpan cerita lintas generasi hingga sekarang di Yogyakarta.

Lebih dari seabad perjalanan menjadikan Grand Hotel de Djokja sebagai jejak sejarah yang masih hadir, berdiri di tengah denyut Yogyakarta modern hingga kini.(waw)

Berita Terkait

Bio Farma Ungkap Strategi Rantai Pasok Vaksin saat Darurat Kesehatan
Rupiah Melemah ke Rp17.864 per Dolar AS, Pakar UMY Soroti Kepercayaan Pasar
Ziarah Makam Sultan HB IX, UWM Perkuat Jati Diri dan Nilai Budaya
Pernyataan Prabowo soal Pakar Jadi Sorotan, Ini Analisis Pakar Komunikasi UMY
KH Asyhari Abdullah Tamrin Berpulang, Jejak Dakwah Ulama NU Dikenang
Pemda DIY Berikan Beasiswa Istimewa kepada 50 Mahasiswa UWM
Laporan BAM Disorot, Kuasa Hukum FN Pertanyakan Sinkronisasi Keterangan
Bangkit dari Vakum, Liga Seri A Sleman Jadi Panggung Talenta Muda

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 16:02 WIB

Grand Hotel de Djokja Genap 115 Tahun, Saksi Sejarah di Jantung Malioboro

Kamis, 24 September 2026 - 13:12 WIB

Bio Farma Ungkap Strategi Rantai Pasok Vaksin saat Darurat Kesehatan

Kamis, 24 September 2026 - 11:40 WIB

Rupiah Melemah ke Rp17.864 per Dolar AS, Pakar UMY Soroti Kepercayaan Pasar

Kamis, 24 September 2026 - 11:31 WIB

Ziarah Makam Sultan HB IX, UWM Perkuat Jati Diri dan Nilai Budaya

Kamis, 24 September 2026 - 11:02 WIB

Pernyataan Prabowo soal Pakar Jadi Sorotan, Ini Analisis Pakar Komunikasi UMY

Berita Terbaru