Pakar Komunikasi UMY: Suporter Sepak Bola Kian Aktif sebagai Kekuatan Sipil

Rabu, 28 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Dosen Ilmu Komunikasi UMY yang juga merupakan pengamat sepak bola, Dr. Fajar Junaedi, M.Si.,

Foto Dosen Ilmu Komunikasi UMY yang juga merupakan pengamat sepak bola, Dr. Fajar Junaedi, M.Si.,

GERBANGPATRIOT.COM, Yogyakarta – Keterlibatan suporter sepak bola dalam demonstrasi menunjukkan peran mereka di ruang publik yang semakin luas. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Fajar Junaedi, M.Si., menilai suporter mulai memosisikan diri sebagai bagian dari kekuatan sipil yang memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi.

Pandangan tersebut disampaikan Fajar saat menanggapi wacana keterlibatan elemen suporter PSS Sleman, PSIM Yogyakarta, dan Persiba Bantul dalam rencana demonstrasi di Yogyakarta pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Informasi mengenai keterlibatan suporter ketiga klub tersebut masih berupa narasi di media sosial dan belum dikonfirmasi kepada perwakilan kelompok terkait.

Konsolidasi Lintas Klub, dari Tribun ke Ruang Publik

Fajar menjelaskan bahwa keterlibatan suporter dalam persoalan publik bukan fenomena baru. Di Indonesia, termasuk Yogyakarta, komunitas suporter telah berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di luar pertandingan, seperti aksi duka kolektif setelah tragedi Kanjuruhan dan penggalangan bantuan kemanusiaan.

Dalam konteks global, ia menyebut budaya ultras juga dapat menjadi saluran ekspresi politik dan solidaritas sosial. Ia mencontohkan peran kelompok suporter di Mesir serta sejumlah komunitas suporter di Eropa yang memiliki orientasi politik kiri atau progresif.

Menurut Fajar, hal yang menarik untuk dicermati adalah potensi konsolidasi lintas identitas klub. Dalam wacana yang berkembang di Yogyakarta, warna merah, hijau, dan biru dikaitkan dengan identitas Persiba, PSS, dan PSIM.

Apabila terwujud, konsolidasi tersebut dapat memperlihatkan kemampuan _suporter_ membangun solidaritas di luar rivalitas pertandingan.

“Suporter mulai melihat diri mereka sebagai warga yang punya hak dan kapasitas untuk bersuara di ruang publik, bukan hanya massa yang mudah digerakkan untuk pertandingan,” ujar Fajar.

Ia menilai bentuk solidaritas semacam itu memiliki preseden. Namun, konsolidasi lintas klub untuk menyuarakan persoalan bersama tetap perlu diperhatikan sebagai bagian dari dinamika masyarakat sipil.

Solidaritas Tribun Menjadi Modal Menyampaikan Aspirasi

Fajar menilai keterlibatan suporter dalam isu publik berakar pada identitas kolektif dan solidaritas yang telah terbentuk di tribun. Pengalaman menghadapi persoalan sosial sehari-hari turut mendorong mereka menyampaikan aspirasi.

“Solidaritas yang sudah terbangun di tribun, ditambah pengalaman ketimpangan sehari-hari dan kesadaran bahwa massa besar bisa menekan, membuat suporter tertarik ikut bersuara. Generasi yang lebih muda juga semakin melihat bahwa sepak bola tidak berhenti di 90 menit,” imbuhnya.

Menurutnya, pengalaman berorganisasi dan membangun kebersamaan dapat menjadi modal bagi suporter untuk terlibat dalam persoalan yang lebih luas. Kepedulian tersebut mencakup isu kemanusiaan, keadilan sosial, dan kebijakan publik yang berkaitan dengan kehidupan mereka sebagai warga.

Isu Sepak Bola Tetap Memiliki Ruang

Selain terlibat dalam persoalan bersama, Fajar menilai suporter memiliki ruang untuk menyuarakan masalah dalam dunia sepak bola. Isu tersebut mencakup transparansi pengelolaan klub dan stadion, keselamatan, serta perlakuan aparat terhadap suporter.

Menurutnya, aspirasi suporter dapat berjalan beriringan dengan tuntutan mahasiswa maupun kelompok masyarakat lainnya. Komunikasi yang jelas diperlukan agar setiap pihak memahami persoalan yang diperjuangkan.

“Suporter boleh punya tuntutan sendiri, dan itu justru sehat. Mereka punya isu yang relevan, mulai dari transparansi klub dan stadion, keselamatan, hingga perlakuan aparat. Tuntutan itu bisa berjalan paralel dengan isu mahasiswa, asalkan dikomunikasikan dengan jelas agar tidak saling meniadakan,” pungkas Fajar. (lsi)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Dosen Farmasi UMY Peringkat Keempat Dunia pada Topik Mobile App Versi ScholarGPS 2026
UMY Raih Juara 2 Mandaya Awards 2026, Pemberdayaan Desa Semoyo Jadi Bukti Dampak Pengabdian
Komandan GPK DIY Minta Sekjen PPP Jaga Kondusivitas Internal Partai
Sarlin Mataheru Ajak Generasi Muda Maknai Sumpah Pemuda Lewat Karya Nyata
Sepuluh Kodim Disiapkan Beralih Komando ke Kodam di Mataram
JogjaBay Kembali Gelar Angklung in Harmoni, Perebutkan Piala GKR Hemas
GPM Sleman Jajaki Dukungan DPRD untuk Pengembangan Organisasi
UWM Perkuat Kapasitas Riset Dosen melalui Dukungan Ditjen Risbang

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:18 WIB

Dosen Farmasi UMY Peringkat Keempat Dunia pada Topik Mobile App Versi ScholarGPS 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:10 WIB

Pakar Komunikasi UMY: Suporter Sepak Bola Kian Aktif sebagai Kekuatan Sipil

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:58 WIB

UMY Raih Juara 2 Mandaya Awards 2026, Pemberdayaan Desa Semoyo Jadi Bukti Dampak Pengabdian

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:38 WIB

Komandan GPK DIY Minta Sekjen PPP Jaga Kondusivitas Internal Partai

Rabu, 28 Oktober 2026 - 12:55 WIB

Sarlin Mataheru Ajak Generasi Muda Maknai Sumpah Pemuda Lewat Karya Nyata

Berita Terbaru