GERBANGPATRIOT.COM, Yogyakarta – Keterlibatan suporter sepak bola dalam demonstrasi menunjukkan peran mereka di ruang publik yang semakin luas. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Fajar Junaedi, M.Si., menilai suporter mulai memosisikan diri sebagai bagian dari kekuatan sipil yang memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi.
Pandangan tersebut disampaikan Fajar saat menanggapi wacana keterlibatan elemen suporter PSS Sleman, PSIM Yogyakarta, dan Persiba Bantul dalam rencana demonstrasi di Yogyakarta pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
Informasi mengenai keterlibatan suporter ketiga klub tersebut masih berupa narasi di media sosial dan belum dikonfirmasi kepada perwakilan kelompok terkait.
Konsolidasi Lintas Klub, dari Tribun ke Ruang Publik
Fajar menjelaskan bahwa keterlibatan suporter dalam persoalan publik bukan fenomena baru. Di Indonesia, termasuk Yogyakarta, komunitas suporter telah berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di luar pertandingan, seperti aksi duka kolektif setelah tragedi Kanjuruhan dan penggalangan bantuan kemanusiaan.
Dalam konteks global, ia menyebut budaya ultras juga dapat menjadi saluran ekspresi politik dan solidaritas sosial. Ia mencontohkan peran kelompok suporter di Mesir serta sejumlah komunitas suporter di Eropa yang memiliki orientasi politik kiri atau progresif.
Menurut Fajar, hal yang menarik untuk dicermati adalah potensi konsolidasi lintas identitas klub. Dalam wacana yang berkembang di Yogyakarta, warna merah, hijau, dan biru dikaitkan dengan identitas Persiba, PSS, dan PSIM.
Apabila terwujud, konsolidasi tersebut dapat memperlihatkan kemampuan _suporter_ membangun solidaritas di luar rivalitas pertandingan.
“Suporter mulai melihat diri mereka sebagai warga yang punya hak dan kapasitas untuk bersuara di ruang publik, bukan hanya massa yang mudah digerakkan untuk pertandingan,” ujar Fajar.
Ia menilai bentuk solidaritas semacam itu memiliki preseden. Namun, konsolidasi lintas klub untuk menyuarakan persoalan bersama tetap perlu diperhatikan sebagai bagian dari dinamika masyarakat sipil.
Solidaritas Tribun Menjadi Modal Menyampaikan Aspirasi
Fajar menilai keterlibatan suporter dalam isu publik berakar pada identitas kolektif dan solidaritas yang telah terbentuk di tribun. Pengalaman menghadapi persoalan sosial sehari-hari turut mendorong mereka menyampaikan aspirasi.
“Solidaritas yang sudah terbangun di tribun, ditambah pengalaman ketimpangan sehari-hari dan kesadaran bahwa massa besar bisa menekan, membuat suporter tertarik ikut bersuara. Generasi yang lebih muda juga semakin melihat bahwa sepak bola tidak berhenti di 90 menit,” imbuhnya.
Menurutnya, pengalaman berorganisasi dan membangun kebersamaan dapat menjadi modal bagi suporter untuk terlibat dalam persoalan yang lebih luas. Kepedulian tersebut mencakup isu kemanusiaan, keadilan sosial, dan kebijakan publik yang berkaitan dengan kehidupan mereka sebagai warga.
Isu Sepak Bola Tetap Memiliki Ruang
Selain terlibat dalam persoalan bersama, Fajar menilai suporter memiliki ruang untuk menyuarakan masalah dalam dunia sepak bola. Isu tersebut mencakup transparansi pengelolaan klub dan stadion, keselamatan, serta perlakuan aparat terhadap suporter.
Menurutnya, aspirasi suporter dapat berjalan beriringan dengan tuntutan mahasiswa maupun kelompok masyarakat lainnya. Komunikasi yang jelas diperlukan agar setiap pihak memahami persoalan yang diperjuangkan.
“Suporter boleh punya tuntutan sendiri, dan itu justru sehat. Mereka punya isu yang relevan, mulai dari transparansi klub dan stadion, keselamatan, hingga perlakuan aparat. Tuntutan itu bisa berjalan paralel dengan isu mahasiswa, asalkan dikomunikasikan dengan jelas agar tidak saling meniadakan,” pungkas Fajar. (lsi)
Sumber : Humas Umy















