GERBANGPATRIOT.COM, Sleman – Satgaswil DIY Densus 88 Antiteror Polri menggandeng UNY dan Kelurahan Tamanmartani memperkuat parenting untuk melindungi anak dari ancaman radikalisme digital.
Kegiatan sosialisasi berlangsung Jumat (23/10/2026), pukul 09.30–11.30 WIB, di Aula Kelurahan Tamanmartani, Sleman, diikuti sekitar 250 peserta lintas elemen masyarakat setempat.
Peserta terdiri atas tokoh agama, tokoh masyarakat, takmir, kader PKK, kader kesehatan, Linmas, Jaga Warga, serta Karang Taruna Kelurahan Tamanmartani.
Lurah Tamanmartani, Gandang Hardjanata, menegaskan pentingnya edukasi parenting untuk meningkatkan kemampuan orang tua melindungi anak dari berbagai pengaruh negatif lingkungan sosial maupun digital.
Menurut Gandang, keluarga membutuhkan pengetahuan dan keterampilan mendampingi anak menghadapi tantangan zaman, terutama ketika media sosial semakin memengaruhi kehidupan sehari-hari generasi muda.
“Orang tua perlu memahami bagaimana mendampingi anak,” menjadi pesan penting dalam sosialisasi tersebut, agar keluarga mampu membangun perlindungan sejak dini melalui komunikasi.
Kasatgaswil DIY Densus 88 AT Polri memaparkan ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme yang menyasar anak melalui media sosial serta berbagai platform digital.
Data yang disampaikan dalam kegiatan itu menunjukkan 979 anak di Indonesia terpapar, termasuk 26 anak di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan kerentanan berbeda.
Dari jumlah tersebut, 10 anak di DIY tercatat terpapar radikalisme, sedangkan 16 anak lainnya terpapar ekstremisme kekerasan berdasarkan paparan data dalam kegiatan sosialisasi.
Angka tersebut menjadi peringatan bahwa perlindungan anak membutuhkan perhatian serius, bukan hanya dari pemerintah, melainkan juga keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat sekitar.
Satgaswil DIY mengingatkan sejumlah faktor kerentanan, mulai perundungan, minimnya perhatian keluarga, hingga pencarian jati diri yang dapat dimanfaatkan penyebar kebencian untuk memengaruhi anak.
“Orang tua merupakan benteng pertahanan utama,” menjadi penekanan Densus 88 dalam mendorong keluarga membangun hubungan dekat sekaligus mengenali perubahan perilaku anak sejak dini.
Orang tua didorong memberikan kasih sayang, membuka komunikasi, mendampingi aktivitas anak, mengawasi penggunaan gawai secara proporsional, serta menanamkan nilai toleransi dan cinta damai.
Literasi digital sejak dini juga menjadi perhatian agar anak mampu memahami informasi, mengenali konten berbahaya, dan tidak mudah terpengaruh narasi kebencian di internet.
Psikolog Universitas Negeri Yogyakarta, Kumala Windya Rochmani, S.Psi., M.Psi., menekankan pola asuh adaptif melalui kemampuan orang tua mendengar, menerima, memahami, sekaligus melindungi anak.
Menurut Kumala, komunikasi terbuka dan pendekatan persuasif membantu anak merasa aman untuk menceritakan persoalan, tanpa takut dihakimi ketika menghadapi masalah di lingkungan sosialnya.
“Empati menjadi kunci,” demikian pesan penting dalam membangun kedekatan emosional, sehingga anak mempunyai ruang aman untuk menyampaikan pengalaman maupun tekanan yang dihadapinya.
Kumala juga mengingatkan orang tua agar mewaspadai pengaruh media sosial dan lingkungan yang menyebarkan intoleransi, kebencian, serta pembenaran terhadap tindakan kekerasan kepada anak.
Pencegahan membutuhkan sinergi keluarga, sekolah, masyarakat, psikolog, dan pihak terkait, termasuk pendampingan serta konseling proporsional ketika ditemukan indikasi kerentanan pada anak.
Penanganan harus menjaga kerahasiaan identitas dan mengutamakan kepentingan terbaik anak, sehingga proses pendampingan tidak menimbulkan stigma maupun memperburuk kondisi psikologis mereka.
Melalui kolaborasi tersebut, Satgaswil DIY Densus 88, UNY, dan Kelurahan Tamanmartani mendorong pola asuh adaptif yang mengutamakan kedekatan, pengawasan sehat, serta keterbukaan komunikasi.
Sinergi ini diharapkan memperkuat perlindungan anak dari paparan paham IRET dan ekstremisme kekerasan, dengan pencegahan berkelanjutan yang dimulai dari lingkungan keluarga.(waw)















