GERBANGPATRIOT.COM, Yogyakarta – Suasana Titik Nol Kilometer Yogyakarta semakin semarak dengan pertunjukan musikal Suluk Nagari yang digelar Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Kamis (22/10/2026) malam. Mengusung perpaduan seni tradisional dan modern, pertunjukan ini menjadi salah satu cara unik merayakan Hari Santri Nasional 2026.
Tak sekadar menyuguhkan hiburan, Suluk Nagari menghadirkan pengalaman musikal yang memadukan musik hadroh, gamelan, perkusi, musik elektronik, barongsai, reog, hingga tarian sufi. Kolaborasi tersebut menciptakan pertunjukan yang kaya warna sekaligus mempertemukan unsur spiritualitas, tradisi, dan kreativitas dalam satu panggung.
Sebanyak 15 kelompok hadroh binaan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta yang telah memiliki Nomor Induk Kebudayaan (NIK) terlibat dalam pertunjukan ini. Mereka tampil bersama kolaborator dari kelompok perkusi, brass, gamelan, barongsai, reog, serta vokal tradisional sinden.
Pertunjukan dibuka dengan pemukulan rebana oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta Ahmad Shidqi, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti, Wakapolresta Yogyakarta AKBP Ike Yulianto Wicaksono, dan perwakilan PCNU Kota Yogyakarta KH Solehudin Mansur.
Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengatakan, pemilihan tajuk Suluk Nagari memiliki makna mendalam. Kata suluk menggambarkan perjalanan batin untuk mencari makna dan memperbaiki diri, sedangkan nagari mengingatkan bahwa perjalanan spiritual harus bermuara pada kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Menurut Wawan, peringatan Hari Santri tidak cukup hanya menjadi nostalgia sejarah perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Nilai perjuangan tersebut perlu diteruskan melalui keberanian menjawab tantangan zaman.
“Penghormatan terbaik kepada sejarah adalah meneruskan keberanian itu untuk menjawab persoalan zaman kita sendiri,” kata Wawan saat membuka pertunjukan Suluk Nagari.
Ia menambahkan, santri masa kini diharapkan mampu menjaga tradisi sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Hal tersebut sejalan dengan tema Hari Santri Nasional 2026, yakni Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.
Wawan berharap generasi santri berani mengambil peran dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, teknologi, ekonomi kreatif, kewirausahaan, lingkungan, seni budaya, hingga kepemimpinan.
Namun, kemajuan tersebut harus tetap disertai akhlak dan kepedulian sosial. Menurutnya, Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang jernih dan pengabdian nyata bagi masyarakat.
“Santri Yogyakarta harus mampu menjaga akar sekaligus membuka cakrawala. Dari mengaji kita belajar bagaimana hadir di dunia dengan adab dan tradisi adalah akar agar ketika kita bergerak maju, kita tidak kehilangan arah,” tuturnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta Ahmad Shidqi mengapresiasi penyelenggaraan Suluk Nagari. Ia menilai pertunjukan tersebut bukan sekadar tontonan seni, melainkan ruang perjumpaan antara spiritualitas, kebudayaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Menurut Shidqi, Yogyakarta memiliki identitas sebagai kota santri, tempat ilmu pengetahuan, tradisi keagamaan, dan kebudayaan tumbuh berdampingan. Pesantren juga berperan penting dalam membentuk karakter sekaligus mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda.
Ia menyoroti hadroh sebagai identitas musikal utama dalam Suluk Nagari. Lebih dari sekadar tabuhan rebana dan lantunan selawat, hadroh membawa pesan kebersamaan yang relevan dengan kehidupan masyarakat yang beragam.
“Oleh karena itu, kami berharap Suluk Nagari tidak hanya menjadi sebuah pertunjukan yang indah untuk disaksikan, tetapi juga menghadirkan pesan yang mendalam bahwa kedamaian harus dirawat, toleransi harus dipraktikkan, dan persaudaraan harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” pungkas Shidqi.
Melalui perpaduan hadroh, gamelan, musik modern, dan beragam pertunjukan budaya, Suluk Nagari menjadi ruang ekspresi seni sekaligus pengingat bahwa tradisi dan spiritualitas dapat berjalan beriringan dengan kreativitas.
Digelar di jantung Kota Yogyakarta, pertunjukan ini membawa pesan bahwa merayakan Hari Santri bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga merawat persaudaraan, menjaga keberagaman, dan memperkuat kontribusi generasi muda bagi negeri. (Aga)















